1.100 Gerai Starbucks Bakal Pindah Tangan, Ini Sosok di Baliknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 1.100 gerai Starbucks di tujuh pasar Asia akan berada di bawah pengelolaan baru. DFI Retail Group, grup ritel yang juga tercatat di bursa Singapura, berencana mengambil alih kepentingan Maxim's Caterers dalam bisnis berlisensi jaringan kopi tersebut.
Rencana yang diumumkan pada 30 September 2026 ini mencakup Thailand, Hong Kong, Singapura, Vietnam, Kamboja, Makau, dan Laos. Indonesia tidak termasuk dalam transaksi.
Langkah tersebut menambah bisnis kopi ke dalam portofolio DFI yang sudah mencakup jaringan kesehatan dan kecantikan, minimarket, hingga perlengkapan rumah tangga. Lantas, siapa sebenarnya perusahaan ini?
Berawal dari Bisnis Susu di Hong Kong
DFI Retail Group memiliki sejarah panjang. Perusahaan ini berakar dari Dairy Farm yang didirikan di Hong Kong pada 1886 oleh dokter asal Skotlandia, Sir Patrick Manson, bersama lima pengusaha.
Bisnis awalnya memasok susu sapi yang bersih dengan harga terjangkau bagi masyarakat Hong Kong. Dari usaha tersebut, perusahaan berkembang menjadi kelompok ritel dengan berbagai format toko di Asia.
Pada 2021, identitas korporasinya diperbarui dari Dairy Farm menjadi DFI Retail Group. Kini, DFI merupakan bagian dari kelompok usaha Jardine Matheson.
Meski sahamnya diperdagangkan di Singapura, bisnis DFI dikelola dari Hong Kong. Perusahaan induknya berbadan hukum Bermuda, dengan pencatatan utama di London serta pencatatan sekunder di Bermuda dan Singapura.
Per 30 Juni 2026, DFI bersama perusahaan asosiasinya mengoperasikan 7.659 gerai di 12 pasar dan mempekerjakan lebih dari 81.000 orang. Pendapatan yang dilaporkan dari anak-anak usahanya mencapai US$8,9 miliar pada 2025.
Ada Guardian hingga IKEA
Nama DFI mungkin tidak langsung akrab bagi konsumen Indonesia. Namun, sejumlah jaringan dalam kelompok usahanya cukup dikenal, termasuk Guardian dan bisnis berlisensi IKEA.
Portofolionya juga mencakup Mannings serta pengoperasian 7-Eleven di sejumlah pasar Asia. Hubungan DFI dengan setiap merek berbeda, sehingga pengelolaan jaringan toko tidak selalu berarti kepemilikan merek secara global.
Pengalaman mengelola berbagai jaringan tersebut menjadi latar belakang ekspansi DFI ke bisnis Starbucks. Perusahaan sudah memiliki kegiatan operasional yang meliputi pengadaan barang, pengelolaan toko, dan layanan konsumen di berbagai pasar.
Lepas Saham Maxim's, Terima Bisnis Starbucks dan Uang Tunai
Transaksi Starbucks ini memiliki skema yang berbeda dari pembelian gerai biasa.
DFI saat ini secara tidak langsung memiliki 50% saham Maxim's Caterers, kelompok usaha makanan dan minuman berbasis di Hong Kong. Dalam kesepakatan tersebut, Maxim's akan membeli kembali seluruh saham yang dimiliki DFI.
Sebagai imbalannya, DFI akan menerima kepentingan Maxim's dalam bisnis berlisensi Starbucks di tujuh pasar, ditambah pembayaran tunai sekitar US$340 juta sebelum penyesuaian.
Dengan demikian, US$340 juta merupakan uang yang akan diterima DFI, bukan harga yang dibayarkannya untuk membeli bisnis Starbucks.
Kesepakatan ini juga bukan pengambilalihan Starbucks Corporation atau merek Starbucks secara global. Cakupannya terbatas pada bisnis berlisensi yang dialihkan dari Maxim's.
Penyelesaian transaksi ditargetkan pada akhir Maret 2027. Prosesnya masih bergantung pada sejumlah persyaratan, termasuk persetujuan pihak terkait, izin otoritas persaingan usaha, dan pemisahan internal bisnis Starbucks dari usaha Maxim's lainnya.
Bidik Pertumbuhan Bisnis Kopi Asia
DFI melihat pertumbuhan kelas menengah, peningkatan pendapatan, serta belanja kopi dan teh sebagai peluang bagi bisnis tersebut.
Perusahaan memperkirakan bisnis Starbucks akan menyumbang pendapatan US$600 juta-US$650 juta pada April-Desember 2027. Untuk setahun penuh pada 2028, kontribusinya diproyeksikan sekitar US$900 juta.
DFI juga menargetkan pertumbuhan pendapatan tahunan majemuk sebesar 6%-7% selama 2026-2029, didukung perluasan jaringan menjadi setidaknya 1.350 gerai.
Bagi DFI, transaksi ini merupakan bagian dari perubahan menuju perusahaan yang lebih fokus mengoperasikan bisnis secara langsung. Kepentingannya dalam kelompok usaha Maxim's akan digantikan oleh pengelolaan bisnis Starbucks yang lebih terfokus.
Namun, proyeksi pendapatan dan ekspansi tersebut tetap merupakan target perusahaan. Realisasinya bergantung pada penyelesaian transaksi serta kinerja jaringan gerai setelah pengalihan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)