Harga Minyak Jatuh, Pasokan 100 Juta Barel dari G7 Siap Masuk Pasar
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia kembali turun pada akhir pekan. Keputusan negara-negara maju melepas cadangan minyak dan diesel darurat memberi harapan tambahan pasokan di tengah pasar energi global yang masih ketat.
Melansir Refinitiv, pada perdagangan Jumat (2/10/2026), harga minyak Brent turun tipis 0,06% menjadi US$102,25 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh lebih dalam 1,90% menjadi US$91,11 per barel.
Dalam sepekan, kedua harga minyak acuan dunia sama-sama melemah. Brent terkoreksi 1,98%, sedangkan WTI turun 1,41%.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah negara-negara Kelompok Tujuh atau G7 sepakat untuk melepas sekitar 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat yang mereka punya.
Kesepakatan tersebut muncul setelah Amerika Serikat (AS) mendorong negara-negara Eropa ikut melepas stok diesel untuk membantu meredakan lonjakan harga bahan bakar.
Pelepasan cadangan akan dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. Sebagian besar diesel akan dilepas dalam 20 hari pertama, meski belum ada rincian berapa banyak minyak dan diesel yang akan dikeluarkan masing-masing negara.
Sebelumnya, Prancis mengusulkan agar negara-negara Eropa melepas 50 juta barel diesel dan anggota International Energy Agency (IEA) mengeluarkan tambahan 50 juta barel minyak mentah.
"Negara-negara Eropa memiliki banyak diesel dan mereka akan memberikan kontribusi besar bagi dunia, begitu juga kami," ujar Presiden AS Donald Trump, dikutip dari Reuters.
Trump sebelumnya sempat mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel AS. Namun, setelah kesepakatan tersebut, ia mengatakan pemerintah AS tidak akan menerapkan larangan ekspor diesel.
Langkah tersebut langsung memberi tekanan pada pasar energi. Harga diesel berjangka di AS turun, sementara harga diesel acuan Eropa juga merosot setelah rencana pelepasan stok mulai beredar.
Masalah Minyak Bergeser ke Diesel
Pasar energi global saat ini menghadapi kondisi yang sedikit berbeda dibandingkan beberapa bulan lalu.
Aliran minyak mentah dari Timur Tengah mulai membaik. Namun, pasokan produk hasil olahan seperti diesel masih ketat karena kapasitas kilang dan produksi di Timur Tengah serta Rusia berkurang.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, menilai tekanan utama pasar energi kini mulai bergeser.
"Tekanan utama pasar energi bukan lagi ketersediaan minyak mentah, melainkan pasokan produk olahan," ujar Hansen, dikutip dari Reuters.
Kondisi tersebut pula yang membuat pelepasan cadangan kali ini banyak menyasar diesel, bukan hanya minyak mentah.
Eropa menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap kekurangan diesel. Perang di Timur Tengah telah mengganggu pasokan dari produsen Teluk, sementara Eropa semakin bergantung pada impor diesel dari AS.
Ketegangan pasokan juga datang dari Asia. Kilang-kilang China menghentikan ekspor produk minyak untuk Oktober demi menjaga stok di dalam negeri.
Langkah China tersebut sebelumnya sempat mengerek harga minyak karena pasar khawatir pasokan bahan bakar global akan semakin ketat.
Perang AS-Iran Masih Jadi Risiko
Meski harga minyak turun, risiko geopolitik belum hilang.
Hubungan AS dan Iran masih menjadi perhatian setelah perang yang dimulai pada akhir Februari mengguncang perdagangan energi global.
Ketegangan kembali meningkat setelah muncul laporan AS mengirim kapal induk ketiga dan hingga 10.000 personel tambahan ke Timur Tengah. Pasar juga masih mencermati kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela November.
Di sisi lain, pembicaraan antara AS dan Iran masih menjadi salah satu faktor yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa waktu mendatang.
John Kilduff, mitra Again Capital, menilai kondisi ekonomi Iran turut mendorong Teheran kembali membuka ruang pembicaraan.
Sementara itu, tambahan minyak dari cadangan darurat dapat semakin melonggarkan pasar jika pemulihan aliran minyak dari Timur Tengah terus berlanjut.
Hamad Hussain, Senior Climate and Commodities Economist Capital Economics, menilai pelepasan stok tambahan dapat membuat pasar minyak global kembali mengalami sedikit surplus apabila peningkatan pasokan Timur Tengah bertahan.
Barclays Naikkan Proyeksi Brent
Di tengah penurunan harga akhir pekan, kondisi pasar minyak fisik masih terbilang ketat.
Barclays menilai stok minyak global masih terus berkurang. Harga kargo untuk pengiriman segera juga masih jauh lebih mahal dibandingkan kontrak pengiriman pada periode berikutnya.
Bank tersebut bahkan menaikkan proyeksi harga Brent untuk kuartal IV-2026 sebesar US$20 menjadi US$115 per barel.
Proyeksi rata-rata harga Brent sepanjang 2026 juga dinaikkan menjadi US$100 per barel.
Artinya, bertambahnya pasokan dari cadangan strategis memang memberi ruang bagi harga minyak untuk turun dalam jangka pendek. Namun, ketatnya pasar fisik serta konflik di sejumlah negara masih menahan penurunan lebih dalam.
Risiko pasokan juga kembali muncul dari perang Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan negaranya menyerang fasilitas minyak Rusia di wilayah Samara dan Volgograd dalam 24 jam terakhir.
Dengan tambahan stok darurat di satu sisi dan risiko gangguan pasokan di sisi lain, pergerakan harga minyak masih akan sangat bergantung pada seberapa cepat aliran energi global kembali normal.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)