MARKET DATA

Influenza A Ramai Lagi di RI, Ini Sejarah Panjangnya

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 October 2026 16:30
Bedah Gejala Covid-19, varian Omicron dan Flu Biasa
Foto: Infografis/Bedah Gejala Covid-19, varian Omicron dan Flu Biasa/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Influenza A kembali menjadi perhatian di Indonesia. Aktivitas influenza tercatat meningkat dalam beberapa waktu terakhir, termasuk di Kota Bandung yang mengalami kenaikan kasus dan kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Sony Adam mengatakan peningkatan kasus turut membuat lebih banyak warga mendatangi fasilitas kesehatan, termasuk instalasi gawat darurat (IGD).

"Untuk kasus influenza di Kota Bandung ada peningkatan," kata Sony.

Kondisi serupa terlihat secara nasional. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat aktivitas influenza meningkat pada periode Agustus-September 2026.

Hasil surveilans pada minggu ke-38 menunjukkan positivity rate influenza mencapai 56%. Dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen dinyatakan positif influenza.

Angka tersebut bukan berarti 56% masyarakat Indonesia terkena influenza. Persentase itu menunjukkan jumlah sampel yang dinyatakan positif dari spesimen yang diperiksa melalui sistem surveilans.

Virus yang paling dominan ditemukan adalah Influenza A(H1N1)pdm09.

Meski terjadi peningkatan, Kemenkes menyebut aktivitas influenza di tingkat puskesmas masih berada dalam kategori sedang atau medium, sementara aktivitas di rumah sakit masih berada pada kategori rendah.

Peningkatan pada Agustus hingga September juga dinilai masih sejalan dengan pola musiman influenza yang selama ini terjadi di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Influenza A sebenarnya bukan virus baru. Virus ini telah berada di tengah manusia selama lebih dari satu abad dan beberapa kali berada di balik pandemi besar dunia.

Lantas, apa sebenarnya Influenza A dan bagaimana perjalanan virus ini hingga masih beredar sampai sekarang?

Apa Itu Influenza A?

Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) membagi virus influenza menjadi empat tipe, yakni A, B, C, dan D. Dari keempatnya, Influenza A dan B menjadi penyebab utama epidemi influenza musiman.

Influenza A kemudian dibagi lagi menjadi sejumlah subtipe berdasarkan kombinasi protein yang terdapat pada permukaan virus.

Saat ini, dua subtipe Influenza A yang beredar pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2).

Penularannya dapat terjadi dengan mudah dari satu orang ke orang lain, terutama melalui percikan dari saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Gejala yang muncul dapat berupa demam, pegal-pegal, sakit kepala, mual, dan tubuh terasa lemas. Pada sebagian besar orang penyakit dapat pulih, tetapi influenza juga bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, terutama pada kelompok rentan.

Namun jauh sebelum H1N1 dan H3N2 menjadi bagian dari influenza musiman seperti sekarang, Influenza A memiliki perjalanan panjang yang beberapa kali mengguncang dunia.

1918: Pandemi Influenza Mengguncang Dunia

Salah satu episode terbesar dalam sejarah Influenza A terjadi lebih dari satu abad lalu.

Pada 1918-1919, dunia dihantam pandemi yang kemudian dikenal sebagai Spanish Flu. Pandemi tersebut disebabkan oleh virus Influenza A(H1N1).

Skalanya luar biasa besar.

WHO memperkirakan sekitar 500 juta orang terinfeksi, atau sekitar sepertiga populasi dunia saat itu.

Korban meninggal diperkirakan mencapai 20 juta hingga 50 juta orang.

Bahkan, jumlah korban akibat pandemi influenza tersebut diperkirakan lebih besar dibandingkan jumlah orang yang meninggal selama Perang Dunia I.

Pandemi juga tidak datang hanya dalam satu gelombang.

Gelombang pertama pada awal 1918 relatif lebih ringan. Namun gelombang kedua yang datang beberapa bulan kemudian jauh lebih mematikan.

Masalahnya, manusia ketika itu bahkan belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan influenza.

Virus Influenza A sendiri baru berhasil diidentifikasi bertahun-tahun setelah pandemi tersebut berakhir.

1933: Virus Influenza Akhirnya Ditemukan

Titik penting berikutnya terjadi pada 1933.

Tiga peneliti Inggris, Wilson Smith, C.H. Andrewes, dan P.P. Laidlaw dari National Institute for Medical Research di London berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi virus influenza.

Penemuan tersebut memastikan bahwa influenza disebabkan oleh virus, bukan bakteri seperti yang sebelumnya sempat diperkirakan.

Setelah virusnya ditemukan, penelitian mengenai vaksin pun berkembang.

Pada 1942, vaksin yang mampu memberikan perlindungan terhadap Influenza A(H1N1) dan Influenza B mulai dikembangkan.

Kemudian pada 1945, vaksin influenza inaktif pertama mendapatkan izin untuk digunakan secara lebih luas setelah sebelumnya diuji terhadap anggota militer Amerika Serikat.

Perjalanan itu juga menunjukkan satu tantangan besar: virus influenza terus berubah.

Pada musim influenza 1947, misalnya, para peneliti menemukan vaksin yang tersedia saat itu tidak efektif terhadap virus yang sedang beredar.

Kondisi inilah yang kemudian membuat pemantauan terhadap perubahan virus menjadi semakin penting.

WHO mendirikan Worldwide Influenza Centre pada 1948, kemudian membentuk jaringan yang kini dikenal sebagai Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) pada 1952.

Melalui jaringan tersebut, perubahan virus influenza di berbagai negara terus dipantau hingga sekarang.

1957: Dunia Dihantam Asian Flu

Belum genap empat dekade setelah pandemi 1918, dunia kembali berhadapan dengan pandemi Influenza A.

Pada 1957-1958, virus Influenza A(H2N2) menyebar luas dan menyebabkan pandemi yang dikenal sebagai Asian Flu.

Virusnya berbeda dengan H1N1 yang menyebabkan pandemi 1918.

WHO memperkirakan Asian Flu menyebabkan sekitar 1 juta hingga 4 juta kematian di seluruh dunia.

Meski korban jiwa lebih rendah dibandingkan pandemi 1918, kemunculan H2N2 kembali memperlihatkan kemampuan virus influenza untuk berubah dan muncul dalam bentuk baru.

Namun H2N2 juga bukan akhir dari perjalanan tersebut.

Sekitar satu dekade kemudian, jenis Influenza A lain kembali muncul.

1968: Giliran H3N2 Menyebar

Pada 1968, dunia menghadapi pandemi yang kemudian dikenal sebagai Hong Kong Flu.

Kali ini penyebabnya adalah Influenza A(H3N2).

WHO memperkirakan pandemi H3N2 menyebabkan sekitar 1 juta hingga 4 juta kematian di seluruh dunia.

Ada satu hal yang membuat pandemi ini sangat berkaitan dengan kondisi influenza saat ini.

Virus H3N2 tidak kemudian menghilang.

Keturunan virus tersebut terus beredar dan berevolusi. Hingga sekarang, A(H3N2) masih menjadi salah satu dari dua subtipe utama Influenza A yang beredar pada manusia, bersama H1N1.

Empat dekade setelah kemunculan H3N2, dunia kembali menghadapi pandemi Influenza A.

Kali ini virus yang muncul membawa kembali nama H1N1.

2009: H1N1 Kembali Picu Pandemi

Pada awal 2009, jenis baru virus Influenza A(H1N1) mulai menyebar dan dengan cepat ditemukan di berbagai negara.

Virus tersebut kemudian dikenal sebagai A(H1N1)pdm09, sementara penyakitnya ketika itu populer disebut sebagai swine flu atau flu babi.

Inilah pandemi influenza pertama pada abad ke-21.

WHO memperkirakan pandemi H1N1 2009 menyebabkan sekitar 100.000 hingga 400.000 kematian pada tahun pertamanya.

Pola korbannya juga berbeda dengan influenza musiman pada umumnya.

Jika influenza musiman biasanya memberikan risiko penyakit berat lebih tinggi kepada lansia, orang dengan penyakit kronis, dan kelompok rentan lainnya, pandemi H1N1 2009 juga banyak berdampak pada anak-anak serta orang dewasa muda.

WHO menyatakan sebagian besar kasus saat itu memang bersifat ringan. Namun penyebarannya yang luas membuat H1N1 menjadi pandemi global.

Pandemi kemudian berakhir, tetapi virusnya tidak hilang.

A(H1N1)pdm09 terus beredar dan kemudian menjadi bagian dari influenza musiman yang menginfeksi manusia hingga sekarang.

Menariknya, virus inilah yang saat ini kembali dominan ditemukan dari surveilans influenza di Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular