25 Kota di Dunia yang Pernah Ganti Nama, Ada Jakarta
Jakarta, CNBC Indonesia - Nama sebuah kota mungkin tampak permanen di peta, tetapi sejarah membuktikan sebaliknya. Ketika kekuasaan berganti, kolonialisme berakhir, atau identitas lokal kembali ditegaskan, nama sebuah kota pun dapat berubah.
Dari Jakarta yang dahulu dikenal sebagai Batavia hingga Mumbai yang pernah disebut Bombay, perubahan nama kota bukan sekadar pergantian istilah. Di baliknya, tersimpan jejak perubahan politik, sejarah, kekuasaan, dan upaya suatu masyarakat menegaskan kembali identitasnya.
Batavia tempo dulu. (Dok. bataviadigital.perpusnas.go via Detikcom) Foto: Batavia tempo dulu. (Dok. bataviadigital.perpusnas.go via Detikcom) |
25 Kota Dunia dengan Nama Berbeda
Berikut sejumlah kota yang pernah menggunakan nama berbeda sepanjang sejarahnya, dari perubahan karena pergantian kekuasaan hingga perubahan bahasa dan identitas.
Perubahan nama kota tidak selalu memiliki alasan yang sama. Dalam sejumlah kasus, nama baru muncul setelah pergantian kekuasaan.
New Amsterdam, misalnya, merupakan nama permukiman Belanda di Manhattan sebelum wilayah tersebut direbut Inggris pada 1664 dan kemudian dikenal sebagai New York.
Di Vietnam, Saigon secara resmi berganti nama menjadi Ho Chi Minh City setelah berakhirnya Perang Vietnam pada 1975.
ho chi min (Vietnambriefing) Foto: ho chi min (Vietnambriefing) |
Jakarta juga memiliki sejarah serupa. Setelah VOC merebut Jayakarta pada 1619, Belanda membangun kota kolonial yang kemudian dikenal sebagai Batavia.Nama kolonial tersebut dihapus pada masa pendudukan Jepang, ketika Jakarta kembali digunakan.
Namun, perubahan nama tidak selalu berkaitan dengan pergantian rezim. Mumbai menjadi contoh bagaimana nama kota juga dapat dikaitkan dengan identitas lokal.
Nama Bombay yang digunakan selama era kolonial secara resmi diganti menjadi Mumbai pada 1995, merujuk pada Mumbadevi, yang dikaitkan dengan masyarakat Koli setempat.
Ada pula perubahan yang sebenarnya lebih berkaitan dengan bahasa. Beijing sebelumnya banyak ditulis sebagai Peking dalam peta dan publikasi Barat.
Gedung-gedung tinggi di Mumbai, India. (REUTERS/Francis Mascarenhas/File Photo) Foto: Gedung-gedung tinggi di Mumbai, India. (REUTERS/Francis Mascarenhas/File Photo) |
Perubahan tersebut berkaitan dengan penerapan sistem romanisasi Pinyin oleh China pada 1958, bukan pergantian nama kota secara politik.
Di kota-kota lain, nama lama bahkan tetap hidup dalam penggunaan sehari-hari meski nama resmi sudah berubah. Di Ho Chi Minh City, misalnya, istilah Saigon masih digunakan untuk menyebut sejumlah kawasan pusat kota.
Pada akhirnya, nama kota bukan sekadar penanda lokasi. Di balik satu nama bisa tersimpan sejarah kolonialisme, pergantian kekuasaan, migrasi, bahasa hingga identitas masyarakat.
Karena itu, ketika sebuah kota berganti nama, yang berubah bukan hanya tulisan di peta, tetapi juga cara sebuah tempat menceritakan sejarahnya.
(mae/mae)


