Inflasi Tinggi Tanda Ekonomi RI Bergerak? Cek Data & Fakta Ini!
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional mencapai 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026. Lebih tinggi dibandingkan inflasi di bulan sebelumnya yang sebesar 0,21% mtm.
Adapun, secara tahunan inflasi juga naik menjadi 3,28% (year-on-year/yoy) dari 3,19% pada Agustus. Sementara inflasi di sepanjang tahun berjalan mencapai 2,17%.
Kenaikan inflasi yang terjadi turut direspons oleh Menteri Keuangan Suahassil Nazara. Ia menilai inflasi masih berada dalam kondisi yang sehat dan menjadi salah satu tanda bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak.
"Jadi menunjukkan gerak ekonomi masyarakat itu bergerak. Dan kalau kita lihat jenis-jenis barangnya, yang namanya inflasinya menurut saya sangat sehat," kata Suahasil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Menurut Suahasil, tingkat inflasi tersebut juga masih berada dalam rentang yang diperhitungkan pemerintah sejak awal tahun.
"Di angka 3,28% itu angka yang sangat-sangat kita comfortable karena ada di dalam range target inflasi kita," ujarnya.
Penilaian tersebut tidak hanya didasarkan pada inflasi. Suahasil juga menyoroti Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 52,4, sekaligus menjadi level tertinggi dalam tujuh bulan. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
"Yang berarti adalah angka yang menunjukkan para industri ini mulai membeli barang karena ingin ekspansi produksi," kata Suahasil.
Namun jika dibedah lebih dalam, data BPS menunjukkan kenaikan harga pada September tidak datang dengan kekuatan yang sama dari seluruh komponen.
Tekanan terbesar justru berasal dari komponen harga bergejolak, terutama sejumlah bahan pangan. Sementara inflasi inti tercatat jauh lebih rendah dan komponen harga yang diatur pemerintah hanya bergerak sangat tipis.
Harga Bergejolak Jadi Pendorong Utama
BPS membagi inflasi ke dalam tiga komponen utama, yakni inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, serta harga bergejolak.
Dari ketiganya, harga bergejolak mencatat kenaikan paling tinggi pada September.
Komponen ini mengalami inflasi sebesar 1,46% mtm dan memberikan andil sebesar 0,24 poin persentase terhadap inflasi September. "Komponen bergejolak mengalami inflasi sebesar 1,46% dengan andil inflasi sebesar 0,24%," tulis BPS dalam laporan inflasi September.
Komoditas yang paling banyak mendorong kenaikan pada kelompok tersebut adalah cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.
Tekanan dari dua komponen lainnya jauh lebih kecil.
Inflasi inti hanya tercatat 0,10% mtm dengan andil sebesar 0,06 poin persentase. Biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi menjadi komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi yang sangat rendah atau mendekati nol.
Di dalam kelompok ini, bensin memberikan dorongan inflasi. Namun pada saat yang sama, tarif angkutan udara justru memberikan andil deflasi sehingga tekanan keduanya saling menahan.
Dengan komposisi tersebut, sebagian besar tekanan inflasi bulanan September datang dari barang-barang yang harganya mudah berubah, khususnya harga pangan.
Kenapa Harga Pangan Naik?
Tekanan inflasi September paling terasa dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,88% secara bulanan (mtm) dan memberikan andil 0,26 poin persentase terhadap inflasi nasional yang sebesar 0,30%.
BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi pendorong utama, mulai dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, ikan segar, hingga kangkung.
Kenaikan harga tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Untuk cabai, misalnya, pasokan dari sejumlah daerah sentra mengalami penurunan pada September.
Produksi cabai rawit turun terutama di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Sementara produksi cabai merah menurun terutama di Bandung, Garut, dan Malang.
Kondisi berbeda terjadi pada bawang merah. Produksinya justru meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang.
Di tengah pergerakan produksi tersebut, faktor cuaca juga menjadi perhatian.
BPS mengutip catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi El Nino yang masih kuat.
"BMKG mencatat El Nino sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi menunda awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," tulis BPS dalam laporannya.
Tekanan harga pangan juga datang dari daging ayam ras.
Menurut BPS, permintaan daging ayam meningkat karena kebutuhan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Pada saat yang sama, kenaikan harga pakan ternak turut mendorong harga ayam.
"Peningkatan permintaan daging ayam ras didorong oleh kebutuhan pelaksanaan program MBG di beberapa daerah," tulis BPS.
Beras juga ikut bergerak naik. Pada September, rata-rata harga beras naik 0,81% mtm di tingkat penggilingan, kemudian meningkat 0,61% di tingkat grosir dan 0,80% di tingkat eceran.
Kenaikannya juga terlihat secara tahunan. Harga beras di tingkat penggilingan naik 6,04%, di tingkat grosir meningkat 4,93%, sedangkan harga eceran naik 3,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Rangkaian kenaikan pada komoditas pangan tersebut membuat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada September 2026.
BBM Naik, Tarif Pesawat Justru Turun
Cerita berbeda terlihat pada harga yang diatur pemerintah.
Pada awal September, Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga terhadap sejumlah BBM nonsubsidi. Meskipun, harga Pertamax tetap. Namun Pertamax Turbo mayoritas naik Rp1.300 atau sekitar 7%.
Kenaikan lebih besar terjadi pada bahan bakar diesel. Harga Dexlite naik sekitar Rp4.050 atau 20%, sementara Pertamina Dex naik sekitar Rp4.100 atau 19%.
Kenaikan tersebut membuat bensin memberikan andil inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah.
Namun arah pergerakan transportasi tidak semuanya naik.
Tarif angkutan udara justru memberikan andil deflasi.
September sudah memasuki periode low season setelah berakhirnya musim liburan sekolah. Permintaan perjalanan menggunakan pesawat pun lebih rendah dibandingkan periode liburan.
Pergerakan yang berlawanan antara bensin dan tarif pesawat membuat komponen harga yang diatur pemerintah secara keseluruhan hanya mengalami inflasi yang sangat rendah atau mendekati nol.
Kelompok transportasi secara bulanan pun hanya mengalami inflasi 0,03%, dengan andil yang sangat kecil terhadap inflasi September.
Jika ditarik lebih panjang secara tahunan, BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi September. Kelompok ini mengalami inflasi 4,37% yoy dengan andil sebesar 1,28 poin persentase.
Pendorong utamanya berasal dari ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan minyak goreng.
Berikutnya adalah kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi 4,84% yoy dan memberikan andil sebesar 0,58 poin persentase, terutama berasal dari bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan paling tinggi sebesar 7,77%, dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,53 poin persentase. Pendorong utamanya berasal dari emas perhiasan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)