MARKET DATA

China Larang Ekspor BBM, Punya "Benteng" Minyak 1,5 Miliar Barel

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 October 2026 20:00
FILE PHOTO: Oil tanks are seen at an oil warehouse at Yangshan port in Shanghai, China March 14, 2018. REUTERS/Aly Song/File Photo
Foto: REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali mengetatkan keran ekspor produk bahan bakar minyak (BBM).

Sejumlah kilang di Negeri Tirai Bambu menghentikan pengiriman produk minyak ke berbagai wilayah di luar Hong Kong dan Makau sampai ada instruksi lebih lanjut dari Beijing.

Empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters pada Kamis (1/10/2026). Langkah ini berpotensi semakin mempersempit pasokan BBM global yang sudah terganggu akibat perang dan masalah produksi di sejumlah negara.

Beijing sebelumnya telah membatasi ekspor BBM pada Maret setelah pecahnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran mengganggu pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke China. Pembatasan tersebut sempat dilonggarkan pada periode Juli hingga September.

Kini, China kembali memprioritaskan keamanan pasokan energi dalam negeri. PetroChina bahkan membatalkan sejumlah pengiriman bensin dan bahan bakar pesawat yang sebelumnya dijadwalkan untuk Oktober.

Sumber-sumber perdagangan menyebut ketidakpastian pasokan minyak mentah, ditambah turunnya persediaan BBM domestik China, membuat Beijing lebih fokus memastikan kebutuhan dalam negeri tetap aman.

Ketatnya pasokan global tersebut turut mendorong harga minyak dunia naik dan bertahan di level tinggi. Saat ini, harga minyak bergerak di kisaran US$90-US$100 per barel, dengan Brent masih berada di atas US$100 per barel dan WTI di kisaran US$90-an per barel.

Kondisi tersebut membuat posisi China di pasar minyak dunia semakin menarik untuk dilihat.

China merupakan importir minyak mentah terbesar dunia. Namun, negara tersebut juga memiliki produksi minyak sendiri dalam jumlah besar dan selama beberapa tahun terakhir aktif menambah persediaannya.

Lalu, seberapa besar sebenarnya produksi, kebutuhan, dan cadangan minyak yang dimiliki China?

Produksi Minyak China Terus Naik

China sebenarnya bukan negara dengan produksi minyak yang kecil.

Sepanjang 2025, produksi minyak mentah China mencapai sekitar 216 juta ton, menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.

Jika menggunakan satuan yang lebih umum di pasar minyak, produksi minyak mentah China pada tahun tersebut setara sekitar 4,3 juta barel per hari.

Produksinya juga masih meningkat pada tahun ini.

Data terbaru National Bureau of Statistics (NBS) China menunjukkan produksi minyak mentah sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 146,39 juta ton, naik 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Khusus pada Agustus, China menghasilkan 18,43 juta ton minyak mentah, naik dari sekitar 18,27 juta ton pada Juli.

Jika ditarik lebih panjang, produksi minyak China dalam beberapa tahun terakhir memang cenderung meningkat.

Pada 2023, produksi bulanan masih cukup sering berada di kisaran 17 juta ton. Memasuki 2025 dan 2026, produksinya beberapa kali sudah menembus 18 juta hingga 19 juta ton per bulan.

Pemerintah China memang terus berusaha meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri. Eksplorasi lapangan baru terus dilakukan, sementara produksi dari lapangan-lapangan lama dijaga agar tidak turun terlalu dalam.

Langkah ini penting karena lapangan minyak yang sudah berproduksi lama biasanya mengalami penurunan produksi secara alami.

Namun, besarnya produksi dalam negeri belum cukup untuk membuat China bisa berdiri sendiri.

Sebab, kebutuhan minyak Negeri Tirai Bambu jauh lebih besar.

Kebutuhan Minyak Tembus 17 Juta Barel Sehari

China merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Data Statistical Review of World Energy 2026 dari Energy Institute menunjukkan konsumsi minyak China pada 2025 berada di kisaran 17,36 juta barel per hari.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan produksi minyak mentah China yang hanya sekitar 4,3 juta barel per hari pada periode yang sama.

Memang, kedua angka tersebut tidak sepenuhnya bisa dibandingkan satu per satu karena angka konsumsi mencakup berbagai produk minyak, sedangkan angka produksi hanya menghitung crude oil.

Namun selisih yang sangat lebar tersebut tetap menunjukkan satu hal, yakni China tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhan minyaknya hanya dari produksi dalam negeri.

Bahkan jika produksi diperluas hingga mencakup petroleum and other liquids, volumenya sekitar 5,4 juta barel per hari, tetap jauh di bawah konsumsi lebih dari 17 juta barel per hari.

Selisih tersebut harus ditutup dari luar negeri. Pada 2025, China mengimpor minyak mentah rata-rata sekitar 11,6 juta barel per hari, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah mereka.

Dengan jumlah sebesar itu, gangguan pada pasokan minyak dunia bisa dengan cepat menjadi masalah bagi China. Terlebih, sebagian besar minyak impor harus menempuh perjalanan panjang dari negara pemasok menuju kilang-kilang di China.

Namun China rupanya sudah cukup lama mempersiapkan strategi untuk menghadapi masalah tersebut.

Ketika harga minyak relatif rendah pada 2025, Beijing justru memperbesar pembelian sekaligus menambah persediaannya. EIA memperkirakan China memasukkan sekitar 1,1 juta barel minyak per hari ke tempat penyimpanan sepanjang 2025.

Strategi tersebut baru terasa penting ketika kondisi pasar berbalik pada 2026.

Gangguan aliran minyak dari Timur Tengah membuat impor crude China turun menjadi rata-rata sekitar 8,1 juta barel per hari pada kuartal II-2026, atau merosot sekitar 32% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Namun aktivitas kilang China tidak turun sedalam penurunan impor.

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian kebutuhan mulai dipenuhi dari minyak yang sebelumnya sudah disimpan.

Jadi, ketika pasokan dari luar berkurang, China tidak sepenuhnya bergantung pada minyak yang baru datang dari kapal tanker. Beijing masih memiliki stok yang sebelumnya dikumpulkan.

Cadangan Minyak China Jumbo

Di sinilah posisi China cukup berbeda dibandingkan banyak negara lain.

Selain mempunyai minyak yang masih berada di bawah tanah dan masih butuh untuk dieksplorasi lebih jauh, China memiliki persediaan minyak dalam jumlah sangat besar yang sudah berada di tempat penyimpanan.

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan estimasi strategic oil inventories China mencapai 1.492 juta barel pada kuartal II-2026.

Jumlah tersebut memang turun dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 1.541 juta barel. Namun masih lebih tinggi dibandingkan 1.397 juta barel pada akhir 2025.

Jika dibandingkan negara lain dalam data EIA, selisihnya sangat lebar.

Pada kuartal II-2026, persediaan China mencapai sekitar 4,6 kali persediaan Amerika Serikat yang tercatat sebesar 321 juta barel.

Namun angka tersebut masih berupa estimasi dari EIA karena pemerintah China tidak mempublikasikan secara terbuka jumlah minyak yang berada di Strategic Petroleum Reserve mereka. 

Definisi yang digunakan untuk China juga lebih luas dibandingkan SPR Amerika Serikat. EIA memasukkan minyak yang dipegang pemerintah sekaligus persediaan komersial tertentu, karena perusahaan minyak nasional China juga memiliki peran dalam menjaga stok darurat.

Pada akhir 2025, EIA memperkirakan sekitar 360 juta barel berada dalam persediaan pemerintah China. Sementara persediaan crude komersial mencapai sekitar 1 miliar barel.

Jumlah itulah yang membuat total persediaan China mendekati 1,4 miliar barel pada akhir tahun lalu.

China juga masih memiliki cadangan minyak yang masih belum di eksplorasi. Data resmi pemerintah China menunjukkan technically recoverable oil reserves, atau cadangan minyak yang secara teknis dapat diproduksi, mencapai sekitar 3,85 miliar ton pada akhir 2023.

Dari sisi eksplorasi, China juga masih terus menambah cadangannya. National Energy Administration mencatat penambahan proved geological oil reserves pada 2025 meningkat sekitar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan demikian, pengamanan minyak China berjalan melalui beberapa jalur sekaligus.

China menjaga produksi domestik tetap tinggi, mencari sumber minyak baru, mengimpor dalam jumlah besar, dan menyimpan sebagian pembelian ketika kondisi pasar memungkinkan.

Strategi tersebut kini mendapat ujian. Persediaan minyak China turun dari 1,541 miliar barel pada kuartal I menjadi 1,492 miliar barel pada kuartal II-2026. Pada saat yang sama, Beijing kembali menahan ekspor BBM untuk menjaga pasokan di dalam negeri.

Bagi negara yang membutuhkan lebih dari 17 juta barel minyak setiap hari, besarnya produksi saja memang belum cukup.

China juga membutuhkan bantalan minyak yang besar untuk menghadapi saat-saat ketika pasokan dari luar negeri tiba-tiba tersendat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular