MARKET DATA

Harga Emas Naik, Tapi Masa Depannya Diramal Suram: Investor Cemas

mae,  CNBC Indonesia
02 October 2026 07:10
Emas
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik tipis pada perdagangan Kamis (1/10/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Oktober.

Data menunjukkan inflasi AS pada Agustus meningkat lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober turun menjadi 31%, dari 45% sebelum data dirilis dan 69% sepekan sebelumnya.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (1/10/2026) ditutup di posisi US$ 4177,76 per troy ons. Harganya menguat 0,52%.

Kenaikan ini menjadi kabar buruk setelah harga emas ambruk pada Rabu.

Harga emas masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (2/10/2026), harga emas menguat 0,1% ke US$ 4182,17 per troy ons.

"Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah telah menopang pasar logam mulia," ujar David Meger, director of metals trading High Ridge Futures, dikutip dari Refinitiv.

Namun, kenaikan emas tertahan oleh imbal hasil Treasury AS 10 tahun yang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Penguatan dolar AS juga membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

 

Investor kini menanti data nonfarm payrolls AS September yang akan dirilis Jumat untuk membaca arah kebijakan The Fed.

HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas 2026 dan 2027 menjadi masing-masing US$4.490 dan US$4.825 per troy ounce, sembari memperkirakan tekanan jangka pendek masih berlanjut sebelum harga berpotensi menemukan titik bawah.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (1/10/2026) ditutup di posisi US$ 60,85 per troy ons. Harganya melesat 0,73%.

Harga perak masih menguat pada hari ini. Pada Jumat (2/10/2026), harga perak menanjak 0,35% ke US$ 61,06 per troy ons.




Most Popular
Features