MARKET DATA

Asia Kebakaran Hebat: Yen, Yuan, Rupiah - Ringgit Gak Ada yang Selamat

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
01 October 2026 10:19
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Tekanan terjadi merata di kawasan, dengan seluruh mata uang yang dipantau bergerak di zona merah pada pagi ini.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, 10 mata uang Asia yang dipantau tercatat melemah terhadap dolar AS.

Yen Jepang mencatat pelemahan paling dalam setelah terdepresiasi 0,46% ke posisi JPY 158,11/US$. Baht Thailand menyusul dengan koreksi 0,30% ke THB 33,62/US$.

Rupiah turut melemah 0,25% ke level Rp17.915/US$. Pelemahan dengan besaran yang sama juga dialami won Korea Selatan dan ringgit Malaysia, yang masing-masing berada di posisi KRW 1.360,1/US$ dan MYR 4,084/US$.

 

Peso Filipina terkoreksi 0,17% ke PHP 62,716/US$, disusul dolar Singapura yang melemah 0,12% ke SGD 1,279/US$ dan dolar Taiwan turun 0,11% ke TWD 31,902/US$.

Sementara itu, yuan China dan dong Vietnam mencatat pelemahan paling tipis, masing-masing sebesar 0,02% dan 0,01%.

Tekanan terhadap mata uang Asia pagi ini berlangsung seiring penguatan dolar AS. Pada pukul yang sama, indeks dolar AS (DXY) naik 0,15% ke level 101,596.

Dolar AS juga masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan setelah mencatat penguatan sekitar 2% sepanjang September. Kekuatan greenback masih ditopang oleh tingginya imbal hasil Treasury AS, terutama pada tenor panjang.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 5,293%, sementara tenor 30 tahun meningkat 4,5 basis poin ke 5,639%.

Kenaikan yield tersebut terjadi di tengah meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober. Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sekitar 33%, turun dari hampir 50% sehari sebelumnya dan sekitar 70% pada awal pekan, setelah indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE AS Agustus berada di bawah perkiraan.

 

Meski demikian, kuatnya belanja konsumen serta revisi naik pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II masih menjaga ekspektasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

"Dolar AS saat ini tampaknya lebih sensitif terhadap pergerakan yield Treasury 10 tahun dibandingkan dengan ekspektasi mengenai kapan kenaikan suku bunga The Fed berikutnya akan terjadi," ujar Ray Attrill, Head of FX Strategy National Australia Bank, dikutip dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular