MARKET DATA

Boeing Menang Lagi, Kini Garap Jet Siluman Pengganti F/A-18

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
03 October 2026 11:15
Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengirimkan bantuan militer ke Israel. Bahkan kapal-kapal perang dan jet tempur F/A-18 Hornet juga mulai bergeser ke Mediterania Timur. (AP/Andrew Vaughan)
Foto: (AP/Steve Helber)

Jakarta, CNBC Indonesia - Boeing baru saja memenangkan proyek besar dari militer Amerika Serikat (AS). Kali ini, perusahaan dirgantara terkemuka itu dipilih untuk membangun pesawat tempur generasi terbaru bagi Angkatan Laut AS.

Hal ini diumumkan resmi oleh Pentagon pada Selasa (29/9/2026), yang memberikan kontrak senilai lebih dari US$20 miliar atau setara Rp357,4 triliun (asumsi kurs Rp17.870/US$) kepada Boeing untuk mengembangkan F/A-XX, pesawat tempur generasi keenam yang dirancang untuk dioperasikan dari kapal induk.

Boeing berhasil mengalahkan Northrop Grumman dalam tender tersebut.

Kontrak tahap pengembangan ini pun mencakup pembangunan sejumlah pesawat uji untuk pengujian di darat, kelayakaan terbang, sistem, serta pemasangan senjata.

Nilai keseluruhan program mampu bertambah menjadi ratusan miliar dolar AS setelah memasuki tahap produksi.

Nantinya, F/A-XX akan menggantikan F/A-18E/F Super Hornet secara bertahap mulai dekade 2030-an. Pesawat baru itu akan terbang bersama dengan F-35C, yakni pesawat siliuman milik Angkatan Laut AS yang juga memiliki kapabilitas lepas landa dan mendarat di kapal induk.

Hingga artikel ini dibuat, detail teknis F/A-XX masih dirahasiakan. Namun, pesawat tersebut diperkirakan memiliki kemampuan siluman, serta memiliki jangkauan terbang yang lebih jauh, daya tahan terbang lebih lama, hingga dapat bekerja bersama dengan pesawat tempur tanpa awak.

Boeing menyebut F/A-XX akan menggunakan sistem misi yang lebih terbuka sehingga perangkat lunak, sensor, dan persenjataan dapat diperbarui tanpa harus mengubah keseluruhan pesawat.

Kemenangan ini menjadi proyek pesawat tempur generasi keenam kedua yang diterima Boeing. Pada Maret 2025, perusahaan tersebut juga dipilih untuk membangun F-47 bagi Angkatan Udara AS.

"Sejak awal, rencana kami memang mengembangkan dua pesawat tempur canggih secara bersamaan," kata Presiden Boeing Defense, Space & Security Steve Parker.

Pesawat-pesawat terparkir di atas kapal induk USS Gerald R. Ford saat tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas)Pesawat-pesawat terparkir di atas kapal induk USS Gerald R. Ford saat tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas) Foto: Pesawat-pesawat terparkir di atas kapal induk USS Gerald R. Ford saat tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas)

F/A-18 Menjadi Andalan Selama Puluhan Tahun

F/A-XX akan menggantikan pesawat yang selama puluhan tahun menjadi pemandangan umum di atas kapal induk AS, yakni F/A-18 Hornet dan penerusnya, F/A-18E/F Super Hornet.

Huruf "F" dalam namanya berasal dari kata fighter atau pesawat tempur, sedangkan "A" berarti attack atau serang. Nama tersebut menggambarkan kemampuannya menjalankan dua tugas sekaligus, yakni menghadapi pesawat musuh dan menyerang sasaran di darat maupun laut.

Kisah F/A-18 bermula dari pesawat prototipe YF-17 buatan Northrop. Angkatan Laut AS kemudian memilih rancangan tersebut untuk dikembangkan bersama McDonnell Douglas menjadi pesawat tempur yang bisa beroperasi dari kapal induk.

McDonnell Douglas menjadi kontraktor utama, sedangkan Northrop bertindak sebagai mitra utama. Setelah McDonnell Douglas bergabung dengan Boeing pada 1997, pengembangan dan produksi keluarga F/A-18 dilanjutkan oleh Boeing.

F/A-18 Hornet menjalani penerbangan pertamanya pada November 1978. Pesawat ini mulai digunakan Korps Marinir AS pada 1983 dan masuk layanan Angkatan Laut AS setahun kemudian. Hornet disiapkan untuk menggantikan F-4 Phantom II dan A-7 Corsair II.

Adapun, berikut adalah spesifikasi lengkap dari F/A 18 Super Hornet.

Mengapa Super Hornet Harus Diganti?

Super Hornet masih menjadi tulang punggung armada udara kapal induk AS, tetapi sebagian pesawat telah digunakan selama lebih dari dua dekade.

Pesawat tersebut juga bukan pesawat siluman murni. Dalam menghadapi radar, rudal jarak jauh, dan pertahanan udara modern, Super Hornet harus beroperasi dari jarak yang semakin jauh atau mendapatkan dukungan dari pesawat lain.

F/A-XX disiapkan untuk menjawab masalah tersebut. Pesawat baru ini diharapkan bisa terbang lebih jauh dari kapal induk, menembus kawasan yang dijaga ketat, serta mengendalikan atau bertukar data dengan pesawat tanpa awak.

Jangkauan menjadi kebutuhan penting karena kapal induk AS akan menghadapi rudal antikapal yang dapat menyerang dari jarak sangat jauh. Semakin jauh kapal induk harus berada dari wilayah lawan, semakin jauh pula pesawat tempurnya harus terbang untuk mencapai sasaran.

Meski demikian, pergantian tidak akan terjadi sekaligus. Super Hornet diperkirakan tetap digunakan hingga dekade 2040-an, sementara F/A-XX dan F-35C masuk secara bertahap. Angkatan Laut AS juga sedang memperpanjang usia pakai sejumlah Super Hornet dari 6.000 menjadi 10.000 jam terbang.

Proyeksi Congressional Budget Office (CBO) pada Juli 2026 memperkirakan jumlah F/A-18E/F masih mencapai 304 pesawat pada 2040. Pada saat yang sama, F/A-XX mulai masuk armada secara bertahap dan bekerja bersama F-35C, bukan langsung menggantikan seluruh Super Hornet.

Dengan demikian, kemenangan Boeing tidak hanya membuka jalan bagi lahirnya pesawat tempur baru. Proyek tersebut juga meneruskan hubungan perusahaan itu dengan keluarga F/A-18 yang telah terbang dari kapal induk AS selama lebih dari empat dekade.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/luc)



Most Popular