Siap-Siap! Besok Ada Pengumuman Penting, Bisa Jadi Bukan Kabar Baik
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar, terutama cabai.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi September 2026 besok, Kamis (1/10/2026).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September 2026.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan berada di level 3,30%.
Pada pengumuman data inflasi di periode sebelumnya, BPS mencatat inflasi sebesar 0,21% (mtm) dan 3,19% (yoy) pada Agustus 2026.
Dengan demikian, hasil polling menunjukkan tekanan inflasi diperkirakan meningkat baik secara bulanan maupun tahunan pada September.
Harga Pangan Kembali Panas
Kenaikan harga pangan menjadi salah satu faktor yang paling banyak menjadi pendorong inflasi di September.
Kepala ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan kelompok volatile food atau pangan bergejolak mengalami inflasi 1,77% (mtm), meningkat dari 0,88% pada Agustus.
Tekanan terutama datang dari harga cabai rawit dan cabai merah. Berdasarkan perhitungan rata-rata bulanan Bank Mandiri, harga cabai rawit naik sekitar 37% dibandingkan Agustus, sedangkan cabai merah meningkat sekitar 25%.
Harga beras juga diperkirakan naik 0,76% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,27% pada bulan sebelumnya.
Pergerakan tersebut juga terlihat dalam data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN). Rata-rata harga cabai rawit selama September melonjak 30,34% menjadi Rp81.634 per kilogram, dari Rp62.631 per kilogram pada Agustus.
Rata-rata harga cabai merah juga naik 23,40% menjadi Rp62.991 per kilogram, dari Rp51.045 per kilogram pada bulan sebelumnya. Kenaikan kedua komoditas ini menjadi salah satu sumber utama tekanan harga pangan selama September.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang. Menurutnya, pangan menjadi sumber utama kenaikan inflasi pada September.
"Pendorong utamanya berasal dari volatile food, khususnya kenaikan harga cabai," ujar Hosianna kepada CNBC Indonesia.
Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman juga melihat tekanan datang dari lebih banyak komoditas pangan.
"Inflasi September terutama didorong oleh kenaikan harga pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, gandum, cabai, dan cabai merah," ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Ikut Sumbang Tekanan Inflasi
Selain pangan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi ikut memberikan tekanan terhadap inflasi yang terjadi di sepanjang September.
Pertamina melakukan penyesuaian harga sejumlah produk BBM non-subsidi mulai 1 September 2026. Bank Mandiri mencatat harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex meningkat sekitar 7%-20% dibandingkan bulan sebelumnya.
Bank Mandiri memperkirakan kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tipis sebesar 0,02% (mtm), setelah pada Agustus mencatat deflasi 0,33%.
Namun, tekanan dari kelompok ini diperkirakan tetap terbatas karena harga BBM subsidi maupun tarif listrik tidak mengalami penyesuaian.
"Tekanan administered prices relatif terbatas karena tidak terdapat penyesuaian harga BBM subsidi maupun tarif listrik," ujar Hosianna.
Tarif penerbangan juga diperkirakan tidak memberikan tekanan besar. Bank Mandiri mencatat harga tiket dari pemesanan daring cenderung lebih rendah, meski batas atas tambahan biaya bahan bakar atau fuel surcharge dinaikkan dari 30% menjadi 40% pada awal September.
Tekanan harga juga datang dari sejumlah komponen inflasi inti.
Juniman mengatakan biaya pendidikan meningkat seiring dimulainya tahun ajaran baru untuk perguruan tinggi.
"Biaya pendidikan meningkat sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru untuk akademi dan universitas," ujar Juniman.
Ia juga menilai pergerakan rupiah ikut memengaruhi harga barang impor, yang terlihat pada sejumlah barang seperti elektronik, mobil, dan sepeda motor.
"Pelemahan rupiah turut meningkatkan inflasi impor, yang tercermin dari kenaikan harga barang elektronik, mobil, dan sepeda motor," kata Juniman.
Namun, Bank Mandiri melihat tekanan inflasi inti secara keseluruhan berpotensi melambat. Inflasi inti secara bulanan diperkirakan sebesar 0,13% pada September, lebih rendah dibandingkan 0,21% pada Agustus.
Salah satu penahannya adalah harga emas yang diperkirakan turun sekitar 2,2% secara bulanan setelah sempat naik pada Agustus. Bank Mandiri juga mencatat rupiah menguat sekitar 0,54% sepanjang September dalam perhitungannya.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan inflasi September diperkirakan lebih banyak datang dari harga pangan dan beberapa komponen tertentu, bukan kenaikan harga yang terjadi secara merata di seluruh kelompok barang dan jasa.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)