MARKET DATA

Mata Uang Asia Beda Nasib: Won-Yuan Melemah, Rupiah-Yen Perkasa

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
30 September 2026 10:15
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak beragam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Penguatan dan pelemahan terbagi merata di antara 10 mata uang kawasan yang dipantau.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, lima mata uang Asia menguat terhadap dolar AS, sementara lima lainnya melemah.

Yen Jepang mencatat penguatan terbesar pagi ini dengan apresiasi 0,53% ke posisi JPY 156,43/US$. Rupiah menyusul setelah menguat 0,42% ke level Rp17.885/US$.

Baht Thailand turut menguat 0,09% ke THB 33,51/US$, diikuti dolar Singapura yang naik 0,02% ke SGD 1,2774/US$. Ringgit Malaysia melengkapi deretan mata uang di zona hijau dengan penguatan tipis 0,01% ke MYR 4,077/US$.

 

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah terdepresiasi 0,26% ke KRW 1.355,2/US$. Peso Filipina menyusul dengan pelemahan 0,19% ke PHP 62,566/US$.

Dolar Taiwan terkoreksi 0,07% ke TWD 31,84/US$, sementara yuan China dan dong Vietnam masing-masing melemah tipis 0,02% dan 0,01%.


Pergerakan mata uang Asia pagi ini berlangsung di tengah dolar AS yang bergerak terbatas. Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, indeks dolar AS (DXY) melemah tipis 0,02% ke level 101,351.

Meski bergerak turun pagi ini, dolar AS sebelumnya ditutup menguat 0,2% ke level 101,40 dan menyentuh posisi tertinggi sejak 28 Juli. Penguatan greenback ditopang oleh imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi, dengan yield tenor 10 tahun bertahan di atas 5% setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007.

 

Investor kini menantikan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus pada Rabu, disusul laporan nonfarm payrolls September pada Jumat, untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya mulai berkurang. Pelaku pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sekitar 52%, turun dari 70% sehari sebelumnya, setelah komentar sejumlah pejabat bank sentral AS.

"Selisih suku bunga yang semakin lebar tengah mendominasi pasar valuta dan mendorong penguatan dolar AS terhadap seluruh mata uang utama," ujar Karl Schamotta, Chief Market Strategist Corpay, dikutip dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular