Harga Batu Bara Turun Setelah Terbang 3 Hari, China Jadi Biang Kerok?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai seiring jatuhnya harga minyak dan libur di China.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 146,4 per ton pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Harganya melemah 0,64%.
Pelemahan ini memutus tren positifnya di mana harga batu bara sempat menguat tiga hari beruntun.
Minyak Brent turun 2,6% menjadi US$102,59 per barel, sedangkan WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel. Meski terkoreksi, Brent masih menuju kenaikan bulanan sekitar 13% dan WTI sekitar 4%.
Harga batu bara juga melemah seiring turunnya permintaan libur selama libur di China. Tiongkok libur selama Festival Mooncake atau Mid-Autumn Festival sejak 25 September 2026 hingga 30 September.
China Buka Jalur Kereta Khusus Batu Bara Guizhou-Sichuan
Layanan kereta khusus pengangkut batu bara dari Guizhou ke Sichuan, China, mulai beroperasi pada 17 September 2026. Jalur ini mengubah distribusi batu bara yang sebelumnya mengandalkan truk menjadi kombinasi transportasi darat dan kereta api.
Batu bara diangkut menggunakan truk dari Jinsha, Guizhou, menuju Stasiun Longshanzhen East, kemudian dikirim dengan kereta langsung ke pembangkit listrik di Sichuan selatan.
Sistem baru ini diperkirakan memangkas biaya logistik 3%-5% dan meningkatkan kapasitas angkutan hingga 200%-300%, sekaligus memperkuat ketahanan distribusi terhadap cuaca ekstrem.
Guizhou memiliki cadangan batu bara terbukti lebih dari 500 juta ton, sementara Sichuan masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Operator Shudao Railway Operation Group berencana memperluas layanan agar pengiriman batu bara lintas provinsi semakin rutin dan berskala besar.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi China mengalihkan angkutan barang curah dari jalan raya ke kereta api guna menekan biaya logistik dan memperkuat keamanan pasokan energi.
Sementara itu, permintaan listrik puncak India turun menjadi 218,8 gigawatt (GW) pada Minggu, seiring hujan yang mengguyur sejumlah wilayah. Namun, pada Senin, permintaan kembali melonjak menjadi 236,34 GW.
Konsumsi listrik India telah tumbuh lebih dari 14% sepanjang September, didorong kebutuhan pendinginan dan irigasi di tengah curah hujan monsun di bawah normal.
Di sisi lain, pasokan batu bara tertekan akibat hujan yang mengganggu transportasi dari wilayah tambang. Stok batu bara di pembangkit berbasis produksi domestik tercatat 19,2 juta ton, sementara stok batu bara impor hanya 2,55 juta ton atau cukup untuk sekitar 8-9 hari.
Dari 190 pembangkit listrik berbasis batu bara, sekitar 80 unit berada dalam kondisi stok kritis, yakni di bawah 25% dari persediaan normatif.
(mae/mae)