Trump Berambisi Bangkitkan Lagi Masa Keemasan Baja Amerika, Mampukah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendorong agenda industrialisasi domestiknya. Kali ini melalui industri baja.
Perusahaan baja Mesabi Metallics berencana menginvestasikan sekitar US$15 miliar atau Rp 270 triliun (US$ 1= Rp 17.980) untuk membangun pabrik baja di Iowa yang diproyeksikan menjadi salah satu fasilitas terbesar dalam sejarah AS.
Pabrik tersebut ditargetkan mulai memproduksi baja pada 2030.
Pada tahap pertama, kapasitasnya diperkirakan mencapai 7,5 juta ton per tahun, sebelum ditingkatkan hingga sekitar 10 juta ton.
Proyek ini juga diperkirakan mendukung hingga 6.000 pekerjaan selama masa konstruksi dan sedikitnya 1.750 pekerjaan permanen setelah beroperasi.
Â
Mesabi Metallics akan menggunakan bijih besi dari tambangnya di Minnesota, yang baru mulai berproduksi setelah melalui pengembangan selama bertahun-tahun. Dengan demikian, rantai produksi dirancang terintegrasi mulai dari penambangan bijih besi hingga pengolahan menjadi baja di Iowa.
Bagian dari Strategi Baja Trump
Rencana pembangunan pabrik Mesabi Metallics tidak berdiri sendiri. Pemerintahan Trump selama beberapa waktu terakhir memperketat proteksi terhadap industri logam domestik melalui tarif Section 232.
Juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari agenda Trump untuk membangun kembali industri AS dan mendorong reshoring manufaktur.
"Presiden Trump memenuhi janjinya untuk membangun kembali industri Amerika, membawa kembali manufaktur ke dalam negeri, dan menciptakan lapangan kerja baru," ujar Rogers kepada CNBCÂ International.
Per Juni 2026, sejumlah produk baja, aluminium, tembaga, serta turunannya dikenakan tarif hingga 50% atas nilai penuh barang, meski beberapa kategori dan mitra dagang mendapat tarif lebih rendah atau pengecualian tertentu.Â
Pemerintah AS menyatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri yang dinilai strategis bagi keamanan nasional.Â
Cakupan tarif yang luas menunjukkan proteksi AS tidak hanya menyasar baja mentah, tetapi juga berbagai produk turunannya. Tujuannya adalah membuat produksi domestik relatif lebih kompetitif dan mendorong perusahaan membangun kapasitas manufaktur di dalam negeri.
Namun, kebijakan ini juga memiliki konsekuensi bagi industri pengguna baja dan aluminium karena tarif dapat meningkatkan biaya bahan baku. Karena itu, pemerintah tetap memberikan sejumlah pengecualian untuk produk dan mitra dagang tertentu.
Selain tarif, proyek tersebut juga mendapat dukungan pembiayaan melalui U.S. Export-Import Bank. Reuters melaporkan lembaga tersebut telah memberikan komitmen pembiayaan hingga US$10 miliar untuk mendukung pengembangan operasi Mesabi.
Amerika, dari Raja Baja Dunia hingga Perang Dagang
Industri baja menjadi salah satu fondasi kebangkitan ekonomi AS, dari pembangunan rel kereta api hingga infrastruktur modern. Namun, kejayaan tersebut mulai mendapat tekanan seiring bangkitnya Jepang, Eropa, dan China.
Pada abad ke-19, teknologi Bessemer memungkinkan produksi baja massal dengan biaya lebih murah. Pengusaha Andrew Carnegie kemudian membangun bisnis baja terintegrasi, hingga lahir U.S. Steel pada 1901 melalui akuisisi Carnegie Steel oleh kelompok investor J.P. Morgan.
Industri baja AS mencapai masa keemasan selama Perang Dunia I dan II. Baja menjadi bahan utama kapal perang, tank, kendaraan, serta pembangunan infrastruktur. Setelah 1945, AS menikmati keunggulan industri ketika Eropa dan Jepang masih membangun kembali ekonominya.
Namun, sejak 1960-an, persaingan mulai meningkat. Jepang dan Eropa membangun pabrik lebih modern dan efisien, sementara banyak pabrik AS menghadapi biaya produksi tinggi. Krisis minyak dan perlambatan ekonomi pada 1970-an memperburuk tekanan hingga memicu penutupan pabrik dan hilangnya pekerjaan di kawasan industri Rust Belt.
Pada 1980-an hingga 1990-an, industri AS mulai bertransformasi melalui pabrik mini yang menggunakan tungku listrik dan baja bekas. Model ini lebih fleksibel dan menjadi salah satu pendorong perubahan struktur industri.
Memasuki 2000-an, China muncul sebagai kekuatan utama baja dunia berkat pembangunan infrastruktur dan ekspansi kapasitas produksi besar-besaran. Persaingan impor dan kelebihan kapasitas global kemudian menjadi tantangan bagi produsen AS.
Industri baja kembali menjadi prioritas kebijakan ketika Donald Trump memberlakukan tarif impor 25% pada 2018 dengan alasan keamanan nasional. Pada 2025, tarif tersebut dinaikkan menjadi 50%, mempertegas penggunaan kebijakan perdagangan untuk melindungi industri domestik.
Kini, industri baja AS menghadapi tiga tantangan utama: persaingan global, modernisasi teknologi, dan pengurangan emisi karbon. Baja tetap strategis bagi pertahanan dan infrastruktur, tetapi daya saingnya semakin ditentukan oleh efisiensi biaya, teknologi, dan kebijakan perdagangan.
ASÂ Masih Menjadi Produsen Baja Terbesar Ketiga Dunia, Indonesia Nomor 13
Meski sudah menurun, Amerika Serikat sebenarnya sudah menjadi salah satu produsen baja mentah terbesar dunia.
Data World Steel Association menunjukkan produksi crude steel AS mencapai 81,9 juta ton pada 2025, menempatkannya di posisi ketiga global setelah China dan India.
China masih jauh mendominasi dengan produksi sekitar 960,8 juta ton, disusul India 164,9 juta ton. Setelah AS, Jepang berada di posisi keempat dengan 80,7 juta ton, sementara Rusia dan Korea Selatan masing-masing menghasilkan 67,9 juta ton dan 62,2 juta ton.
Indonesia berada di posisi ke-13 dunia dengan produksi sekitar 19 juta ton crude steel pada 2025, di bawah Vietnam dan Italia, tetapi masih berada di atas Taiwan dan Meksiko.
Rencana pabrik Mesabi di Iowa menunjukkan besarnya ambisi AS untuk menambah kapasitas domestik. Jika fasilitas tersebut nantinya mencapai kapasitas penuh 10 juta ton baja per tahun, skalanya setara sekitar 12% dari volume crude steel AS pada 2025.
Namun, perbandingan ini hanya memberi gambaran skala karena angka kapasitas proyek Mesabi tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai kapasitas crude steel, sehingga tidak sepenuhnya sebanding dengan data World Steel Association.
Untung Bagi Industri Baja, Tetapi Ada Risiko ke Sektor Hilir
Dari sisi ekonomi, proyek Mesabi berpotensi menambah investasi manufaktur, memperkuat rantai pasok domestik, serta membuka lapangan kerja baru.
Pemerintah AS memperkirakan proyek tersebut dapat menghasilkan dampak ekonomi sekitar US$95 miliar selama masa pembangunan dan sepuluh tahun pertama operasinya, meski angka ini masih berupa estimasi dan belum merupakan realisasi aktual.
Bagi produsen baja domestik, kombinasi tarif dan ekspansi kapasitas dapat mengurangi persaingan dari produk impor.
Namun, dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan lebih kompleks. Kajian U.S. International Trade Commission terhadap tarif Section 232 periode 2018-2021 menemukan impor baja menurun sekitar 24%, produksi domestik naik 1,9%, tetapi harga baja AS juga meningkat sekitar 2,4%.
Pergerakan harga baja AS dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan volatilitas yang tinggi. Harga futures U.S. Midwest Hot-Rolled Coil sempat melonjak mendekati US$2.000 per short ton pada 2021, kemudian terkoreksi, sebelum kembali bergerak naik pada 2026 ke sekitar US$1.235 per short ton.
Kenaikan biaya bahan baku tersebut ikut menekan industri pengguna baja dan aluminium.
USITC memperkirakan output industri hilir yang intensif menggunakan kedua logam tersebut turun rata-rata sekitar 0,6%, dengan nilai produksi pada 2021 sekitar US$3,5 miliar lebih rendah akibat tarif. Artinya, proteksi dapat menguntungkan produsen baja, tetapi berpotensi meningkatkan biaya bagi sektor otomotif, konstruksi, mesin, dan manufaktur lainnya.
Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, dampak kebijakan baja AS kemungkinan lebih banyak terasa melalui perubahan arus perdagangan global. Ketika akses ke pasar AS semakin ketat, produsen baja dari negara lain dapat mengalihkan penjualan ke pasar alternatif, termasuk Asia Tenggara. Kondisi ini berpotensi meningkatkan persaingan bagi industri baja domestik.
Indonesia sendiri merupakan produsen baja mentah terbesar ke-13 dunia. Data BPS menunjukkan ekspor besi dan baja Indonesia (HS 72) mencapai sekitar 12,37 juta ton dengan nilai US$16,54 miliar sepanjang Januari-Juli 2026.
Karena itu, perkembangan industri baja AS tetap penting diperhatikan Indonesia, bukan hanya dari sisi akses ekspor, tetapi juga potensi trade diversion dan tekanan persaingan yang lebih besar di pasar regional.
(slm/slm)