MARKET DATA

Mata Uang Asia Berguguran: Won, Rupiah-Yen-Yuan Jatuh, Vietnam Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
28 September 2026 10:00
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan dolar Amerika Serikat (AS) kembali terasa di pasar valuta Asia pada perdagangan awal pekan ini, Senin (28/9/2026). Hampir seluruh mata uang kawasan masuk zona merah ketika greenback bertahan dekat level tertinggi dalam dua bulan.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.25 WIB, sembilan dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya dong Vietnam yang mampu bertahan di zona hijau.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam pagi ini setelah melemah 0,44% ke posisi KRW 1.359,2/US$.

Baht Thailand menyusul dengan koreksi 0,42%, sementara rupiah melemah 0,39% ke posisi Rp17.950/US$ atau semakin mendekati level psikologisnya di Rp18.000/US$.  

Yen Jepang terdepresiasi 0,27%. Dolar Taiwan dan ringgit Malaysia sama-sama melemah 0,22%, disusul dolar Singapura dan peso Filipina yang masing-masing terkoreksi 0,08%.

Yuan China turut masuk zona merah dengan pelemahan 0,03%. Sementara itu, dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang yang mampu menguat dengan kenaikan 0,05%.

Tekanan terhadap mata uang Asia pagi ini masih banyak dipengaruhi oleh dolar AS yang bertahan kuat. Indeks dolar AS (DXY) berada di kisaran 101,15, atau mendekati level tertingginya dalam dua bulan.

DXY juga berada di jalur penguatan sekitar 1,7% sepanjang September, yang berpotensi menjadi kenaikan bulanan terbaik dolar AS sejak Juni.

Penguatan greenback masih ditopang oleh kombinasi kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury AS yang tinggi, serta ekspektasi bahwa The Federal Reserve/The Fed belum selesai menaikkan suku bunga.

Harga minyak Brent kembali naik lebih dari 1% dan bertahan di atas US$106 per barel. Kenaikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan damai dengan Iran untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi. Tekanan harga yang masih tinggi membuat pasar memperkirakan The Fed masih memiliki ruang untuk kembali mengetatkan kebijakan.

"Greenback dapat menguat berlebihan dalam jangka pendek jika ketegangan di pasar energi terus berlanjut dan risiko inflasi semakin meningkat," ujar Sim Moh Siong, FX strategist OCBC, dikutip dari Reuters.

Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 65% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober, berdasarkan CME FedWatch.

Perhatian pasar pekan ini juga akan tertuju pada sederet data ekonomi AS. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE akan dirilis pada Rabu, sedangkan laporan nonfarm payrolls (NFP) akan menyusul pada Jumat.

Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai apakah ekonomi dan inflasi AS masih cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga lanjutan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular