MARKET DATA

Trump Ancam Batasi Ekspor Solar, Indonesia Aman Punya Senjata B50

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
27 September 2026 20:30
Ini Negara Pembeli Terbesar Minyak Amerika, Ada Indonesia
Foto: Infografis/ Ini Negara Pembeli Terbesar Minyak Amerika, Ada Indonesia/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menjadi eksportir diesel terbesar dunia pada 2025, dengan volume mencapai 1,26 juta barel per hari atau sekitar 15,4% dari total ekspor global.

Posisi berikutnya ditempati Rusia dengan ekspor sekitar 783.400 barel per hari atau 9,5% dari total dunia, disusul Arab Saudi sebesar 678.200 barel per hari atau 8,3%.

India dan Korea Selatan melengkapi lima besar eksportir diesel dunia, masing-masing dengan volume lebih dari 500.000 barel per hari. Secara keseluruhan, lima negara eksportir terbesar menguasai sekitar 46,9% pasokan diesel global.

Besarnya pangsa AS didukung oleh kapasitas pengolahan minyak yang besar. Per Januari 2026, AS memiliki 130 kilang yang beroperasi dengan kapasitas distilasi minyak mentah mencapai sekitar 18,2 juta barel per hari.

Diesel memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi karena digunakan untuk menggerakkan truk, alat berat pertanian, hingga kapal pengangkut barang. Karena itu, perubahan kebijakan ekspor dari negara pemasok utama dapat berdampak langsung terhadap pasokan dan harga energi global.

Eropa Pimpin Ekspor Berdasarkan Kawasan

Jika dilihat berdasarkan kawasan, Eropa menjadi wilayah dengan ekspor diesel terbesar, yakni sekitar 2,90 juta barel per hari atau 35,3% dari total ekspor dunia.

Asia-Pasifik berada di posisi kedua dengan ekspor sekitar 2,38 juta barel per hari atau 28,9%, disusul Amerika Utara sebesar 18,1% dan Timur Tengah 15,0%.

Namun, besarnya ekspor Eropa tidak seluruhnya mencerminkan produksi domestik. Negara seperti Belanda, Singapura, dan Belgia merupakan pusat perdagangan dan re-export, di mana diesel impor disimpan, dicampur, lalu kembali dikirim ke negara lain.

Meski menjadi eksportir terbesar secara kawasan, Eropa masih menjadi net importir diesel secara keseluruhan dan tetap membutuhkan pasokan dari AS, India, serta Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.

Pembatasan Ekspor Jadi Risiko Baru

Dominasi AS dan Rusia menjadi semakin penting di tengah munculnya wacana pembatasan ekspor diesel.

Presiden AS Donald Trump pada 22 September 2026 menyatakan dukungan terhadap ide pembatasan ekspor diesel. Namun, sehari kemudian Gedung Putih membantah laporan mengenai rencana larangan ekspor selama 90 hari.

Rusia sebelumnya telah lebih dulu memberlakukan pembatasan ekspor diesel pada Juli, yang kemudian diperpanjang hingga akhir September.

Jika digabungkan, AS dan Rusia menyumbang hampir seperempat ekspor diesel dunia pada 2025. Karena itu, pembatasan ekspor dari kedua negara berpotensi memperketat pasokan global.

Namun, kebijakan pembatasan ekspor juga memiliki risiko. Jika permintaan ekspor turun, kilang AS dapat mengurangi tingkat pengolahan minyak mentah. Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi menekan produksi diesel, tetapi juga bensin dan bahan bakar pesawat.

Jadi, pembatasan ekspor memang dapat menahan lebih banyak pasokan diesel di pasar domestik dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka lebih panjang justru dapat menekan produksi produk BBM secara keseluruhan.

Indonesia Kurangi Ketergantungan Impor Solar

Indonesia sendiri tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor solar melalui mandatori biodiesel. Kementerian ESDM mencatat impor solar turun dari sekitar 8,3 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 5 juta ton pada 2025, seiring penerapan B40. Pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter dan disebut mampu menekan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.

Langkah tersebut dilanjutkan dengan implementasi B50 pada 2026, yakni campuran 50% biodiesel berbasis sawit dan 50% solar. Pemerintah menargetkan kebijakan ini dapat menutup sisa kebutuhan impor solar, yang sebelumnya masih berada di kisaran 3-4 juta kiloliter per tahun.

Artinya, gejolak pasokan diesel global tetap relevan bagi Indonesia, terutama dari sisi harga energi dan perdagangan. Namun, semakin besar porsi biodiesel domestik, semakin kecil pula paparan langsung Indonesia terhadap risiko gangguan pasokan solar impor dari negara-negara eksportir utama.

(slm/slm)



Most Popular