MARKET DATA

Harga CPO Merosot, Kabar Baik dari India Tak Mampu Jadi Penopang

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
27 September 2026 07:30
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali tertekan pada akhir perdagangan pekan ini. Kekhawatiran terhadap meningkatnya stok di Malaysia di tengah produksi yang naik dan ekspor yang melemah menjadi tekanan utama bagi harga CPO.

Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO kontrak acuan ditutup di posisi 4.672 ringgit Malaysia (MYR) per ton pada Jumat (25/9/2026). Harga tersebut anjlok 2,10% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya sebesar MYR4.772 per ton.

Secara mingguan, tekanan bahkan lebih dalam. Harga CPO telah merosot 4,61% dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya (18/9/2026) sebesar MYR4.898 per ton. Posisi tersebut juga menjadi level penutupan terendah dalam lebih dari tujuh pekan.

Penurunan tajam terjadi setelah harga CPO sempat menembus MYR5.000 per ton pada Agustus. Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO sempat mencapai MYR5.018 per ton pada 21 Agustus 2026, sebelum berbalik turun hingga ke posisi saat ini.

Stok Malaysia Jadi Ancaman

Tekanan utama datang dari kekhawatiran meningkatnya persediaan minyak sawit Malaysia. Produksi CPO Malaysia masih meningkat secara bulanan pada September meskipun negara produsen terbesar kedua dunia tersebut mulai menghadapi curah hujan di bawah normal akibat El Niño. 

Pada saat yang sama, permintaan ekspor justru melemah. Data Intertek Testing Services (ITS) menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang 1-25 September turun 15,1% menjadi 887.557 ton, dari 1,05 juta ton pada periode yang sama bulan sebelumnya.

Pelemahan terutama terlihat dari sejumlah pasar utama. Ekspor ke Uni Eropa turun menjadi 184.372 ton dari 284.061 ton, sementara pengiriman ke China turun menjadi 55.000 ton dari 94.800 ton. Ekspor ke India dan kawasan anak benua justru naik tipis menjadi 199.630 ton dari 193.620 ton.

Kombinasi produksi yang masih tinggi dan ekspor yang melemah membuat persediaan berpotensi kembali meningkat. Pelaku industri memperkirakan stok Malaysia dapat menembus 3 juta ton pada akhir September, dari 2,82 juta ton pada Agustus yang sudah merupakan level tertinggi dalam delapan bulan. Reuters juga mencatat stok bulanan Malaysia hanya lima kali menembus 3 juta ton.

Bahkan, Kepala Riset Sunvin Group Anilkumar Bagani memperkirakan stok dapat melampaui 3,1 juta ton pada akhir September apabila produksi yang lebih tinggi dari perkiraan berlanjut bersamaan dengan lemahnya ekspor.

India Pangkas Bea Masuk, Belum Mampu Angkat CPO

Dari sisi permintaan, terdapat katalis positif setelah India memangkas bea masuk minyak nabati menjelang musim festival. India merupakan importir minyak nabati terbesar dunia dan mengandalkan impor untuk sekitar dua pertiga kebutuhannya. 

Pemerintah India memangkas bea masuk dasar (basic customs duty) CPO menjadi 5% dari sebelumnya 10%. Tarif minyak sawit olahan juga diturunkan menjadi 27,5% dari 32,5%. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 24 September dan ditujukan untuk menekan harga minyak nabati domestik. 

Secara teori, penurunan tarif membuat biaya impor CPO lebih murah dan berpotensi mendorong permintaan. Namun, sentimen tersebut belum cukup mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap tingginya persediaan.

The Edge Malaysia memperkirakan pembelian India akan melambat setelah negara tersebut melakukan pembelian agresif pada Agustus dan September. Selain itu, selisih harga minyak sawit terhadap minyak kedelai dan minyak bunga matahari semakin menyempit, sehingga pembeli India memiliki insentif lebih besar untuk beralih ke minyak nabati alternatif. 

Tekanan tambahan datang dari minyak nabati pesaing. Pada Jumat, harga soyoil di Chicago Board of Trade turun 1,13%. Pergerakan CPO kerap mengikuti minyak nabati lainnya karena komoditas tersebut saling bersaing di pasar minyak nabati global.

Harga minyak mentah dunia yang melemah juga menjadi tekanan. Harga minyak turun ketika pasar mempertimbangkan peluang gencatan senjata AS-Iran di tengah kekhawatiran serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Pelemahan minyak mentah membuat CPO relatif kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

El Nino Bisa Jadi Penopang Harga

Meski sentimen jangka pendek masih cenderung menekan harga, risiko El Niño dapat menjadi faktor penopang CPO dalam jangka menengah.

Malaysia telah menerima curah hujan di bawah normal akibat El Niño. Namun, dampaknya terhadap produksi belum terlihat signifikan karena perubahan cuaca biasanya membutuhkan waktu sebelum memengaruhi produktivitas tanaman sawit. Pelaku industri memperkirakan dampaknya dapat mulai terlihat lebih jelas pada pertengahan 2027.

Risiko serupa terlihat di Indonesia. Badan meteorologi memperkirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia baru dimulai pada awal November, lebih lambat dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Oktober. Sekitar 61% wilayah Indonesia diperkirakan mengalami keterlambatan musim hujan, sementara El Niño diperkirakan masih memberikan dampak kuat hingga kuartal I-2027. Seorang analis minyak sawit memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2027 berpotensi turun sekitar 2%-8% akibat kekeringan tahun ini. 

MBSB Investment Bank juga masih mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO 2026 sebesar MYR4.400 per ton. Bank investasi tersebut menilai kondisi kering yang berkelanjutan berpotensi menekan produktivitas tandan buah segar dan memperketat pasokan CPO pada 2027. 

Dengan demikian, sentimen CPO saat ini terbagi dua. Dalam jangka pendek, kenaikan produksi, lonjakan stok Malaysia, lemahnya ekspor, dan penurunan harga minyak nabati pesaing masih menjadi tekanan. Sementara dalam jangka menengah, risiko penurunan produksi akibat El Niño berpotensi kembali memperketat pasokan dan menjadi penopang harga.

(slm/slm)



Most Popular