MARKET DATA

Intip Kinerja Emiten Semen Saat Kredit Konstruksi Melejit

Gelson Kurniawan & Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
25 September 2026 18:50
Pekerja UMKM mitra binaan SIG memilah hasil penggilingan limbah bonggol jagung yang akan digunakan sebagai bahan bakar alternatif dalam proses produksi semen di SIG Pabrik Tuban, Jawa Timur.
Foto: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk

Jakarta, CNBC Indonesia - Kredit konstruksi dalam kelompok kredit properti tumbuh 49,5% secara tahunan pada Agustus 2026. Menurut Bank Indonesia (BI), posisinya mencapai Rp585,3 triliun, dibandingkan Rp391,4 triliun pada Agustus tahun lalu. Dalam setahun, nilai kredit yang masih beredar bertambah Rp193,9 triliun.

Kenaikan tersebut berpotensi menjadi perhatian produsen semen. Pembangunan fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mencakup gudang dan gerai, sementara pemerintah juga menjalankan pembangunan Sekolah Rakyat.

Namun, laporan BI tidak menyebut proyek yang menerima kredit konstruksi. Karena itu, kenaikan kredit belum dapat langsung dikaitkan dengan kedua program tersebut ataupun penjualan emiten tertentu.

Kredit Konstruksi

Perubahan bulanan dihitung dari selisih dua posisi kredit yang dipublikasikan dengan pembulatan satu desimal. Angka tersebut menunjukkan perubahan saldo kredit, bukan pencairan kredit baru pada bulan bersangkutan.

Kenaikan terbesar terjadi pada Desember 2025, sebesar Rp73,8 triliun dari bulan sebelumnya. Maret 2026 menyusul dengan penambahan Rp54,4 triliun. Sebaliknya, posisi kredit sempat turun Rp1,2 triliun pada April 2026. Setelah Juni, kenaikan bulanannya jauh lebih kecil: masing-masing Rp1,7 triliun pada Juli dan Agustus.

Deret itu memberi konteks bagi angka pertumbuhan 49,5% YoY. Sebagian besar kenaikan dalam setahun sudah terjadi sebelum Agustus 2026. Bahkan, laju pertumbuhan tahunan Agustus sedikit lebih rendah daripada Juli yang mencapai 49,7%. Jadi, data terbaru menunjukkan posisi kredit yang tetap naik, tetapi dengan tambahan bulanan yang lebih terbatas.

Lantas, bagaimana hasil usaha produsen semen? Laporan semester I 2026 menjadi pembanding yang tersedia untuk melihat penjualan dan laba mereka. Periode laporan keuangan ini berakhir pada Juni, sehingga belum menangkap kemungkinan dampak aktivitas konstruksi pada Juli dan Agustus.

Pendapatan Keseluruhan

Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) mencatat pendapatan terbesar dan kenaikan nominal sekitar Rp2,04 triliun dibandingkan semester I 2025.

Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) dan Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) juga membukukan pertumbuhan dua digit, sedangkan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik 5,2%. Semen Baturaja Tbk (SMBR) bergerak berlawanan: pendapatan keseluruhannya turun 12,2%.

Angka ini mencakup seluruh sumber pendapatan masing-masing perusahaan. Untuk melihat perkembangan bisnis utamanya secara lebih khusus, pendapatan semen perlu dipisahkan.

Pendapatan Semen

Pendapatan semen SMGR bertambah sekitar Rp2,15 triliun, atau 18,1% YoY-laju tertinggi di antara lima emiten tersebut. SMCB tumbuh 12,0%, CMNT 8,5%, dan INTP 5,7%. Sementara itu, pendapatan semen SMBR turun sekitar Rp132,62 miliar.

Kinerja yang tidak merata ini penting diperhatikan saat membaca lonjakan kredit konstruksi. Kebutuhan material suatu proyek baru tercermin pada pendapatan produsen ketika pembelian terjadi. Hasil tiap emiten juga dipengaruhi wilayah penjualan, harga, serta bauran produknya.

Laba Bersih

Laba SMGR naik tajam dari basis yang relatif rendah pada semester I tahun lalu. INTP juga membukukan kenaikan laba 19,2%. SMCB masih mencatat pertumbuhan laba, tetapi lajunya 4,3%, lebih lambat daripada kenaikan pendapatan semennya.

Di sisi lain, laba SMBR menyusut menjadi Rp21,21 miliar. CMNT memperlihatkan kontras paling jelas antara penjualan dan hasil akhir: pendapatan keseluruhan serta pendapatan semennya naik, tetapi rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melebar menjadi Rp254,89 miliar.

Dengan demikian, pertumbuhan kredit konstruksi merupakan sinyal aktivitas pembiayaan, sementara manfaatnya bagi emiten semen masih harus dibuktikan lewat penjualan dan laba pada laporan berikutnya.

Angka kredit tidak dapat dipakai sendirian untuk memastikan proyek pemerintah tertentu menjadi penyebab kenaikan ataupun menentukan emiten yang paling diuntungkan.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular