Dolar AS Perkasa: Bikin Rupiah-Won Tumbang, Hanya Yen & Dong Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia gagal menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Dolar AS memang terkoreksi tipis pagi ini, tetapi masih bertahan di level tinggi setelah melonjak pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.25 WIB, delapan dari 10 mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang mampu menguat.
Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,59% ke posisi Rp17.900/US$.
Won Korea Selatan menyusul dengan pelemahan 0,35% ke KRW 1.379,56/US$. Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,25%, sementara dolar Taiwan turun 0,20%.
Baht Thailand melemah 0,12%, peso Filipina turun 0,10%, yuan China terkoreksi 0,09%, dan dolar Singapura melemah 0,07%.
Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam setelah naik 0,24% ke JPY 157,92/US$. Dong Vietnam juga masih mampu menguat tipis 0,03%.
Tekanan terhadap mata uang Asia pagi ini masih banyak dipengaruhi oleh dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) memang terpantau melemah 0,09% ke posisi 101,189, tetapi masih bertahan jauh di atas level 100.
Posisi tersebut terjadi setelah dolar AS melesat pada perdagangan Rabu kemarin. DXY sebelumnya menguat 0,51% ke 101,06 dan sempat menyentuh 101,23, level tertinggi sejak 29 Juli. Kondisi ini memperlihatkan pasar yang tengah memburu aset berdenominasi dolar AS dan pada gilirannya membuat ruang penguatan bagi mata uang negara lain termasuk mata uang Asia semakin sempit.
Penguatan dolar AS mendapat tenaga dari semakin besarnya ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) belum selesai menaikkan suku bunga.
Sejak The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pada pekan lalu, sejumlah pejabat bank sentral AS kembali membuka peluang kenaikan lanjutan apabila inflasi belum mereda.
Gubernur The Fed Michael Barr pada Rabu mengatakan kenaikan bunga pekan lalu merupakan langkah penting untuk menyesuaikan kembali biaya pinjaman jangka pendek dan menekan inflasi. Menurutnya, The Fed kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga lagi.
"Ini soal suku bunga sekarang," ujar Elias Haddad, global head of markets strategy Brown Brothers Harriman, dikutip dari Reuters.
Menurut Haddad, penguatan dolar merupakan kelanjutan dari respons pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang hawkish pada pekan lalu. Komentar sejumlah pejabat The Fed juga menunjukkan pengetatan lebih lanjut masih berada dalam agenda.
Dolar AS mendapat dorongan tambahan dari data ekonomi yang kuat. Indeks awal S&P Global US Composite PMI naik menjadi 58,4 pada September, tertinggi sejak Juli 2021, dari 56,0 pada Agustus. Kenaikan tersebut ditopang lonjakan pesanan baru.
Data itu kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Berdasarkan data LSEG, peluang kenaikan setidaknya 25 basis poin melonjak menjadi sekitar 70%, dari sekitar 53% sebelum data tersebut dirilis.
Harga minyak juga kembali menjadi perhatian. Harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah sempat menekan harga minyak, tetapi sentimen berbalik setelah Iran kembali meragukan kemajuan perundingan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali dan negosiasi tidak akan dilakukan selama persyaratan Iran belum dipenuhi.
Kenaikan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee bahkan memperingatkan bahwa bank sentral perlu berhati-hati karena guncangan energi saat ini berpotensi menjadi sumber inflasi yang lebih persisten.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw)