Elite China Menua, Bursa Penerus Xi Jinping Memanas
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun depan, Partai Komunis China akan menggelar kongres yang menentukan siapa saja pejabat yang memimpin negara itu hingga 2032. Posisi Xi Jinping diperkirakan tetap aman. Namun, ratusan jabatan penting di bawahnya akan diperebutkan.
Pergantian itu menarik perhatian karena banyak pejabat senior China mulai mendekati usia pensiun. Di belakang mereka, muncul kelompok politikus yang usianya jauh lebih muda dan tumbuh pada masa China mulai membuka diri kepada dunia.
Pembicaraan soal susunan pemimpin berikutnya akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Salah satu agenda terdekat adalah pertemuan Komite Sentral Partai Komunis China di Beijing pada 26-29 Oktober 2026. Secara resmi, pertemuan itu akan membahas pengawasan dan disiplin di dalam partai.
Di tengah persiapan tersebut, perhatian mulai tertuju pada pejabat yang dikenal sebagai generasi ketujuh. Mereka umumnya lahir pada akhir 1960-an hingga 1970-an. Berbeda dengan Xi, yang berusia 73 tahun, sebagian besar dari mereka tidak punya banyak ingatan tentang masa pemerintahan Mao Zedong.
Tumbuh Saat China Mulai Terbuka
Masa muda generasi ketujuh berlangsung pada 1980-an. Saat itu, China mulai membuka ekonominya, menjalin lebih banyak hubungan dengan dunia luar, dan memberi ruang bagi perdebatan yang sebelumnya sulit dilakukan.
Pengalaman mereka juga berbeda dari generasi pejabat yang lebih tua dalam hal pendidikan. Mereka tidak mengalami gangguan sekolah sebesar yang dialami pendahulunya selama Revolusi Kebudayaan pada 1966-1976. Banyak yang kemudian belajar di universitas ternama, termasuk mengambil bidang teknik, ekonomi, dan keuangan.
Beberapa bahkan pernah belajar atau bekerja di luar China daratan. Yin Yong, yang kini menjadi wali kota Beijing, memiliki gelar master dari Universitas Harvard. Guo Ningning, pejabat yang kariernya tengah menanjak di Provinsi Fujian, pernah bekerja untuk bank milik negara di Hong Kong dan Singapura.
Nama lain yang mulai diperhatikan adalah Zhu Zhongming. Ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas wali kota Shanghai pada Agustus lalu. Ada pula Liu Jie, gubernur Provinsi Zhejiang, serta A Dong, pemimpin organisasi kepemudaan Partai Komunis.
Latar belakang mereka memunculkan pertanyaan tentang arah China kelak. Apakah pejabat yang tumbuh saat negaranya lebih terbuka akan memimpin dengan cara berbeda dari Xi?
Jawabannya belum tentu. Untuk mencapai jabatan tinggi, mereka telah melewati proses panjang di dalam partai. Kedekatan mereka dengan dunia luar atau pendidikan tinggi tidak serta-merta berarti mereka akan mengubah arah politik China. Sejauh ini, tidak ada tanda Xi sedang menyiapkan peralihan kekuasaan kepada salah satu dari mereka.
Chinese President Xi Jinping, center, waves next to former President Hu Jintao, right, during a ceremony to mark the 100th anniversary of the founding of the ruling Chinese Communist Party at Tiananmen Gate in Beijing Thursday, July 1, 2021. (AP Photo/Ng Han Guan) Foto: Presiden China Xi Jinping (tengah) melambai di samping mantan Presiden Hu Jintao (kanan) saat upacara peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis China yang berkuasa di Gerbang Tiananmen di Beijing, Kamis, 1 Juli 2021. (AP Photo/ Ng Han Guan) |
Xi Belum Menunjuk Penerus
Xi berasal dari generasi kelima pemimpin China, yang sebagian besar lahir pada 1950-an. Menurut pola pergantian kepemimpinan setelah era Deng Xiaoping, ia semestinya menyerahkan kekuasaan kepada pejabat dari generasi berikutnya setelah sekitar satu dekade memimpin.
Itu tidak terjadi. Xi tetap memegang kekuasaan, sementara kampanye antikorupsi yang dijalankannya membuat sejumlah pejabat generasi keenam kehilangan jabatan atau tersingkir dari persaingan politik.
Pembersihan itu masih berlangsung. Pada 21 September, Zhang Youxia dan Liu Zhenli, dua petinggi militer China, dikeluarkan dari Partai Komunis dan dinas militer karena dituduh melakukan pelanggaran disiplin serta hukum.
Sementara sebagian pejabat lama tersingkir dan sebagian lainnya mendekati usia pensiun, ruang bagi generasi ketujuh pun terbuka.
Mengutip The Economist, porsi mereka di Komite Sentral saat ini diperkirakan baru sekitar 8%. Angka itu berpeluang naik menjadi lebih dari 40% setelah kongres tahun depan jika banyak pejabat senior pensiun sesuai kebiasaan partai.
Meski begitu, masuknya lebih banyak pejabat muda belum berarti Xi akan segera memilih penerusnya. Menunjuk seseorang terlalu dini dapat membuat pejabat tersebut dipandang sebagai calon pemimpin berikutnya, sementara Xi belum menunjukkan keinginan untuk melepaskan kendali.
Persoalan itu mungkin semakin sulit ditunda menjelang kongres berikutnya pada 2032, ketika Xi akan berusia 79 tahun. Pada saat itu, pejabat generasi ketujuh akan berada pada usia yang lebih memungkinkan untuk mengambil alih kepemimpinan.
Untuk sekarang, satu hal terlihat lebih jelas daripada siapa penerus Xi nantinya. Wajah-wajah baru akan semakin banyak muncul di puncak politik China, tetapi apakah mereka membawa cara berpikir baru baru bisa diketahui setelah mereka benar-benar memegang kekuasaan.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
(evw)