Kecolongan Saat Rusia Serang Ukraina, Eropa Kini Perkuat Mata-Mata
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Rusia menyerang Ukraina pada Februari 2022, sejumlah negara Eropa ternyata tidak siap. Amerika Serikat (AS) dan Inggris sudah memperingatkan bahwa serangan akan terjadi, tetapi badan intelijen beberapa negara sekutu meragukannya. Mereka juga tidak punya cukup informasi sendiri untuk memastikan apakah peringatan itu benar.
Salah satu yang salah membaca keadaan adalah Bruno Kahl, kepala badan intelijen luar negeri Jerman saat itu. Ia tiba di Kyiv pada 23 Februari 2022 dengan keyakinan Rusia tidak akan menyerang. Rencananya, ia akan menemui para pemimpin Ukraina.
Pada kenyataannya, pertemuan itu tidak pernah terjadi. Menjelang subuh keesokan harinya, pasukan Rusia bergerak menuju Kyiv. Kahl harus dievakuasi dari hotelnya dengan bantuan intelijen negara sekutu, melewati kerumunan warga yang mengungsi ke arah Polandia.
Pengalaman tersebut kini ikut mendorong banyak negara membenahi badan intelijennya. Jepang sedang menyatukan kerja lembaga-lembaga intelijennya. Contoh lainnya adalah Swedia, mereka tengah menyiapkan badan intelijen luar negeri baru. Kanada turut mempertimbangkan langkah serupa, sementara Jerman dan Belanda ingin memberi petugas intelijen mereka ruang gerak lebih luas.
Seperti melansir The Economist, mereka ingin lebih siap menghadapi ancaman dari Rusia dan China.
Mereka juga mulai memikirkan kemungkinan AS suatu hari mengurangi informasi yang dibagikan kepada negara-negara sekutunya.
Jepang Ingin Bisa Mengumpulkan Informasi Sendiri
Selama puluhan tahun, Jepang belum memiliki badan intelijen luar negeri seperti Inggris atau AS. Sejumlah lembaganya memang mengumpulkan informasi, tetapi hasilnya tidak selalu mudah disatukan.
Tahun ini, Jepang membentuk Dewan Intelijen Nasional untuk mengoordinasikan pekerjaan mereka. Pemerintah juga membentuk Biro Intelijen Nasional yang bertugas menghimpun informasi dari berbagai sumber.
Rencananya tidak berhenti di situ. Jepang ingin memiliki badan intelijen luar negeri dan sedang menyiapkan aturan baru untuk menangkal mata-mata asing di dalam negeri. China, Rusia, dan Korea Utara menjadi perhatian utamanya.
Namun, perluasan wewenang intelijen masih menimbulkan perdebatan di Jepang. Kenangan akan polisi rahasia pada masa kekaisaran membuat sebagian masyarakat berhati-hati terhadap rencana tersebut.
Eropa Berbenah Setelah Salah Membaca Rusia
Di Eropa, kemampuan tiap badan intelijen juga berbeda jauh. Survei terhadap 60 profesional intelijen yang dimuat majalah Prancis L'Express menempatkan MI6 Inggris di urutan teratas dengan 251 poin. DGSE Prancis menyusul dengan 169 poin, sedangkan BND Jerman berada di urutan kelima dengan 62 poin.
PERINGKAT BADAN INTELIJEN Foto: The Economist |
Jerman punya alasan tersendiri mengapa badan intelijennya selama ini dibatasi ketat. Pengalaman dengan Gestapo pada masa Nazi dan Stasi pada masa Jerman Timur membuat pemberian wewenang kepada petugas intelijen menjadi persoalan sensitif.
Kini, parlemen Jerman membahas perubahan aturan yang dapat memberi BND lebih banyak pilihan untuk bertindak di luar negeri. Usulannya mencakup operasi siber dan tindakan lain terhadap pihak yang dianggap mengancam, dengan batasan tidak sengaja melukai orang.
Swedia juga mengubah pendekatannya. Menurut mantan Perdana Menteri Carl Bildt, sistem intelijen negaranya bisa melihat kemampuan militer Rusia, tetapi gagal membaca apakah Rusia benar-benar berniat menyerang Ukraina.
Swedia pun menyiapkan badan intelijen luar negeri baru yang dijadwalkan mulai bekerja pada 2027. Badan itu akan menggabungkan informasi rahasia dengan informasi dari sumber terbuka dan komersial agar pemerintah mendapat gambaran yang lebih lengkap.
Belanda ingin petugas intelijennya bisa bergerak lebih cepat saat menghadapi pihak yang jelas dianggap sebagai ancaman. Sementara itu, sebuah komite parlemen di Kanada sedang menilai apakah negaranya memerlukan badan khusus untuk mengumpulkan informasi rahasia di luar negeri.
Sekutu AS Mulai Memikirkan Rencana Cadangan
Selama ini, informasi dari AS sangat penting bagi banyak negara sekutunya. Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru bahkan tergabung bersama AS dalam kelompok berbagi informasi intelijen bernama Five Eyes.
Kerja sama itu masih berjalan. Meski begitu, sikap Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah sekutu membuat mereka mulai memikirkan kemungkinan akses tersebut berkurang. Kekhawatiran itu menguat ketika AS sempat menghentikan pemberian informasi intelijen kepada Ukraina pada tahun lalu.
Karena itu, negara-negara Eropa kini lebih sering bekerja sama. Sejumlah badan intelijen membagi tugas saat mencari informasi tentang Rusia dan China, lalu saling bertukar hasilnya.
Ada pula gagasan untuk membentuk kerja sama intelijen Eropa yang lebih erat, mirip Five Eyes. Namun, rencana tersebut tidak sederhana. Informasi rahasia akan makin sulit dijaga jika dibagikan kepada terlalu banyak pihak. Tiap negara juga tidak selalu sepakat mengenai ancaman mana yang harus didahulukan.
Membangun badan intelijen yang lebih kuat memang tidak menjamin suatu negara akan selalu tepat membaca keadaan. Namun, setelah pengalaman menjelang invasi Ukraina, negara-negara ini tidak ingin hanya menunggu peringatan dari pihak lain. Mereka ingin punya cukup informasi untuk menilai sendiri apakah bahaya benar-benar sudah dekat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw)