Asia Kuasai 80% Industri Elektronik Dunia, China Rajanya
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian besar perangkat elektronik dunia ternyata masih "Made in Asia", dengan China menjadi pusat manufaktur terbesar.
China, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang menyumbang 80,5% kapasitas digital hardware global pada 2024-2025 Menurut Ember Energy.
Besarnya konsentrasi manufaktur di Asia menunjukkan bahwa produksi elektronik global belum benar-benar berpindah dari kawasan tersebut.
China Kuasai Hampir 60% Elektronik Dunia
China menyumbang 58,8% kapasitas digital hardware global, hampir enam kali lipat dibandingkan Taiwan yang berada di posisi kedua.
Data di bawah ini mencakup berbagai produk dan komponen digital, mulai dari semikonduktor, display dan printed circuit board hingga smartphone dan komputer.
Besarnya kapasitas China juga terlihat dari skala industrinya. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mencatat produksi sejumlah barang elektronik juga tetap berada pada skala raksasa.
China memproduksi 1,54 miliar unit ponsel pada 2025, termasuk 1,27 miliar smartphone. Produksi integrated circuit mencapai 484,3 miliar unit.
Besarnya kapasitas China juga terlihat dari skala industrinya. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mencatat pada Desember 2025 pendapatan industri manufaktur informasi elektronik di wilayah tengah mencapai CNY 344,5 miliar atau sekitar Rp920,0 triliun (1CN¥=Rp2.670,20).
Angka itu melonjak 24,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, pendapatan wilayah tersebut mencapai CNY 3,01 triliun, naik 11,6%.
Sebagai contoh, kota Zhengzhou di wilayah tengah China dikenal sebagai "kota iPhone," dimana pabrik Foxconn yang merakit rata-rata hingga 500.000 unit iPhone per hari berada di kota tersebut.
Basis manufaktur seperti ini ikut menjelaskan mengapa wilayah tengah China mampu mencatat pertumbuhan industri elektronik yang tinggi.
Bahkan, pemerintah China juga menargetkan pendapatan operasional industri terkait teknologi tersebut menembus lebih dari CNY 30 triliun pada 2030.
Negara Asia Lain Punya Peran Berbeda
Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang menyumbang tambahan 21,7% kapasitas digital hardware global.
Jika digabung dengan China, keempat negara tersebut menguasai 80,5% kapasitas global.
Taiwan menjadi salah satu pusat manufaktur semikonduktor dunia, Korea Selatan kuat di semikonduktor dan display, sementara Jepang memiliki basis industri elektronik yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Keempat negara tersebut membentuk rantai pasok elektronik yang saling terhubung mulai dari produksi semikonduktor, komponen dan display hingga perakitan produk elektronik.
Sejumlah perusahaan besar seperti TSMC, Foxconn, Samsung, BOE, dan Sony juga berbasis di kawasan ini.
Amerika Serikat Mulai Kejar dari Sisi Chip
Amerika Serikat (AS) memiliki posisi yang berbeda. Porsi AS dalam kapasitas digital hardware global hanya 2,9%.
Namun perusahaan semikonduktor yang berkantor pusat di AS menguasai 53,4% penjualan semikonduktor dunia pada 2025 menurut Semiconductor Industry Association (SIA).
Kini AS berusaha memperbesar kapasitas produksi chip di dalam negeri. Sejak 2020, perusahaan di ekosistem semikonduktor telah mengumumkan investasi swasta lebih dari US$770 miliar melalui lebih dari 160 proyek.
Investasi tersebut mencakup fabrikasi chip, packaging, material, peralatan manufaktur hingga riset.
Di saat yang sama, perusahaan semikonduktor juga terus menggelontorkan investasi untuk memperbesar kapasitas produksi chip di Amerika Serikat.
Persaingan industri elektronik pun tidak lagi hanya soal siapa yang paling banyak memproduksi smartphone atau komputer.
China masih menjadi pusat manufaktur terbesar, negara-negara Asia lainnya mengisi bagian penting dalam rantai pasok, sementara AS memperbesar kapasitas chip dan teknologi yang menopang ledakan AI.
Peta tersebut membuat industri elektronik dunia terlihat seperti satu jaringan produksi besar di Asia, dengan Amerika Serikat berusaha memperkuat bagian strategisnya sendiri.
(mae/mae)