Nasib Harga CPO Usai Tembus Rekor MYR5.000, El Nino-2 Rival Mengadang
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih bergerak dalam tren penguatan sepanjang 2026. Ke depan, pasar memperkirakan harga CPO berpotensi bertahan di level tinggi, didorong oleh risiko gangguan pasokan akibat faktor cuaca, perkembangan produksi negara produsen utama, serta dinamika harga minyak nabati global.
Pada perdagangan Senin (21/9/2026), harga CPO menguat tipis di tengah pasar yang mencermati perkembangan ekspor produk sawit Malaysia. Sejak awal tahun 2026, harga CPO terpantau berfluktuasi dan tercatat sempat cetak rekor di MYR5.018 pada tanggal 21 Agustus 2026.
Bagaimana nasib harga CPO hingga akhir tahun setelah sempat cetak rekor? Di tengah persaingan menghadapi pergerakan harga minyak nabati lainnya, juga CPO Malaysia yang merupakan produsen kedua terbesar dunia setelah Indonesia. Di sisi lain, konsumsi di dalam negeri terus meningkat dan menyebabkan stok CPO Indonesia menyusut.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 10.00 WIB, harga CPO tercatat berada di level MYR4.913 per ton, naik sekitar 0,31% dibandingkan harga penutupan Jumat (18/9/2026) sebesar MYR4.898 per ton.
Meski mengalami koreksi pada akhir pekan lalu, harga CPO masih mencatat penguatan secara mingguan. Dibandingkan posisi penutupan Jumat (11/9/2026) sebesar MYR4.814 per ton, harga CPO meningkat sekitar 1,75%.
Dalam tren yang lebih panjang, harga CPO juga menunjukkan penguatan sepanjang 2026. Berdasarkan data Refinitiv yang diolah CNBC Indonesia Research, rata-rata harga CPO meningkat dari MYR4.111 per ton pada Januari 2026 menjadi MYR4.792 per ton pada Agustus 2026.
Setelah sempat melemah pada awal tahun, harga CPO kembali menguat sejak Maret. Rata-rata harga CPO tercatat sebesar MYR4.495 per ton pada Maret, naik menjadi MYR4.603 per ton pada April, sebelum bergerak di kisaran MYR4.500-MYR4.600 per ton pada Mei hingga Juli.
Kenaikan berlanjut pada Agustus, ketika rata-rata harga CPO mencapai level tertinggi tahun berjalan sebesar MYR4.792 per ton.
Harga CPO Diperkirakan Bertahan di atas RM4.000
Sejumlah analis memperkirakan harga CPO masih akan berada di atas level RM4.000 per ton dalam beberapa bulan mendatang hingga awal 2027.
BIMB Research memproyeksikan harga rata-rata CPO berada di kisaran RM4.400 per ton pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar RM4.500 per ton pada 2027.
Menurut analis, faktor utama yang menopang harga berasal dari risiko produksi akibat kondisi cuaca kering, sementara permintaan global masih relatif terjaga terutama dari sektor pangan dan biodiesel.
Namun, pergerakan harga tetap bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan, termasuk perkembangan produksi Indonesia dan Malaysia sebagai dua eksportir terbesar dunia.
Indonesia Jadi Kunci Pasokan CPO Global
Meski Indonesia masih mencatat produksi yang kuat, pasar tetap mencermati perkembangan stok minyak sawit nasional sebagai salah satu indikator keseimbangan pasokan dan permintaan.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan stok akhir minyak sawit Indonesia tercatat sebesar 2,84 juta ton pada Juni 2026, turun dibandingkan posisi 3,04 juta ton pada Mei 2026.
Penurunan stok tersebut menunjukkan adanya peningkatan penyerapan pasokan sepanjang Juni 2026. Namun, secara tahunan, posisi stok masih lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang tercatat sebesar 2,53 juta ton.
Kondisi ini menunjukkan pasokan domestik masih relatif terjaga hingga pertengahan tahun. Meski demikian, pasar tetap memperhatikan perkembangan semester kedua karena risiko cuaca kering akibat fenomena El Niño berpotensi memengaruhi produksi maupun distribusi CPO dari wilayah sentra sawit.
Dari sisi produksi, Indonesia mencatat produksi CPO sebesar 4,82 juta ton pada Juni 2026, naik dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar 4,17 juta ton. Secara kumulatif hingga Juni 2026, produksi CPO mencapai 27,66 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 25,48 juta ton.
El Niño Juga Jadi Risiko Produksi dan Logistik Bagi Pasokan Sawit
Selain perkembangan ekspor Malaysia dan pasokan Indonesia, pasar CPO juga memperhatikan dampak fenomena El Niño terhadap produksi dan distribusi minyak sawit di Asia Tenggara.
Di Indonesia, dampak kemarau panjang mulai terlihat pada sisi logistik. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengungkapkan bahwa penurunan debit air di sejumlah sungai, terutama di Kalimantan Barat, dapat menghambat distribusi CPO karena jalur sungai menjadi salah satu moda transportasi penting bagi industri sawit.
Ketika muka air sungai turun, kapasitas kapal pengangkut dapat berkurang sehingga pengiriman CPO menjadi kurang optimal. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi rantai produksi karena perusahaan dapat mengalami keterbatasan dalam menyerap tandan buah segar (TBS) dari petani apabila kapasitas pengangkutan dan penyimpanan terganggu.
Risiko cuaca ekstrem juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Laporan UkrAgroConsult menyebut kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan berpotensi menekan produksi sawit hingga sekitar 15%. Namun, dampak terhadap produksi biasanya tidak langsung terlihat karena tekanan kekeringan terhadap tanaman sawit memiliki jeda waktu sebelum tercermin pada hasil panen.
Sementara itu di Malaysia, El Niño lebih banyak menjadi perhatian dari sisi produktivitas perkebunan. Kondisi kering dapat mengurangi ketersediaan air bagi tanaman dan menekan produksi tandan buah segar. Sejumlah analis memperkirakan dampak El Niño terhadap hasil sawit Malaysia dapat muncul dengan jeda beberapa bulan hingga tahun berikutnya, tergantung tingkat keparahan dan durasi kekeringan.
Malaysia sendiri masih menjadi acuan utama pergerakan harga CPO global melalui perdagangan berjangka, sehingga risiko penurunan produksi di negara tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.
Malaysia Hadapi Tekanan Ekspor dan Biaya Produksi
Selain Indonesia sebagai produsen terbesar dunia, perkembangan industri sawit Malaysia juga menjadi perhatian pasar karena negara tersebut menjadi salah satu acuan utama perdagangan CPO global.
Dari sisi perdagangan, ekspor produk sawit Malaysia menunjukkan perlambatan. Data Intertek Testing Services (ITS) mencatat ekspor minyak sawit Malaysia periode 1-20 September 2026 turun 12,8% menjadi 714.012 ton, dibandingkan 819.141 ton pada periode yang sama bulan sebelumnya.
Selain faktor cuaca, kenaikan biaya input juga menjadi perhatian bagi industri sawit Malaysia. Harga pupuk yang meningkat dapat menambah biaya operasional perkebunan, mengingat pupuk merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga produktivitas tanaman.
Kombinasi antara risiko produksi akibat cuaca dan tekanan biaya menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Sementara itu, perkembangan ekspor menjadi indikator penting untuk melihat keseimbangan antara permintaan global dan ketersediaan pasokan.
Harga Soybean Oil Jadi Faktor Eksternal Harga CPO
Selain faktor domestik, pergerakan CPO juga akan dipengaruhi oleh harga minyak nabati alternatif, terutama soybean oil.
Sebagai produk substitusi, pergerakan harga soybean oil dapat menentukan daya saing CPO di pasar global.
Ketika harga soybean oil meningkat, daya saing CPO sebagai salah satu alternatif minyak nabati dapat meningkat karena pembeli akan membandingkan harga relatif antar komoditas.
Dari sisi eksternal, pasar juga mencermati pergerakan soybean oil sebagai salah satu minyak nabati substitusi CPO. Harga soybean oil berjangka CBOT sempat menguat hingga kisaran 78 sen AS per pound pada pertengahan tahun, sebelum kembali bergerak di area 67-68 sen AS per pound pada September 2026.
Karena itu, pasar juga akan memperhatikan perkembangan produksi kedelai di Amerika Serikat dan Amerika Selatan sebagai faktor eksternal yang memengaruhi harga minyak sawit.
(slm/slm)