MARKET DATA
Sentimen Pasar Pekan Depan

Dunia Kacau-Balau, BI Bakal Jadi Penentu!

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
20 September 2026 17:45
Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Seorang Karyawan berdiri di depan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (11/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar keuangan dalam negeri pada pekan depan akan dipengaruhi oleh rilis beberapa data ekonomi seperti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan dampak dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS).

Selain itu, perilisan data awal dari Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur di beberapa negara dan perkembangan ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah memanasnya eskalasi antara kelompok Houthi dan Arab Saudi juga bakal menjadi perhatian pasar pekan depan.

Berikut ini sentimen pekan depan:

1. Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate)

Pada pekan ini, terutama pada Rabu, BI akan memutuskan kebijakan suku bunga (BI Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi September. Pengumuman RDG kali ini juga menjadi pertama kalinya bagi Destry Damayanti setelah resmi dilantik menjadi Gubernur BI definitif pada 2 September lalu.

Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Sedangkan untuk deposit facility dan lending facility juga diperkirakan tetap di level 4,75% dan 6,5%.

Pada RDG edisi Agustus, Destry yang saat itu masih menjadi Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI, mengatakan keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Seiring dengan suku bunga acuan yang tetap dipertahankan di level 5,75%, dewan gubernur BI juga memutuskan untuk terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.

2. Kenaikan Federal Fund Rate (FFR) The Fed

Pada pekan depan, pasar juga masih akan memantau dampak dari kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang diumumkan pada Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September lalu.

Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk menaikkan Fed Fund Rates (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%.

Seluruh anggota FOMC sepakat dengan keputusan tersebut, dengan hasil pemungutan suara berakhir 12-0, tanpa satu pun anggota yang menolak.

The Fed mengambil langkah ini karena inflasi AS masih tinggi dan belum bergerak cepat menuju target The Fed di 2%.

"Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat menuju target Komite sebesar 2%," tulis The Fed dalam pernyataan resminya.

Keputusan tersebut sekaligus mengubah arah kebijakan moneter AS. Sepanjang 2024 dan 2025, The Fed rajin memangkas bunga hingga batas atasnya turun dari 5,50% menjadi 3,75%.

Namun, tekanan inflasi yang belum benar-benar reda membuat The Fed kembali menginjak rem. Suku bunga pun dinaikkan untuk yang pertama kalinya di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

3. Konflik Houthi vs Arab Saudi

Ketegangan di Timur Tengah belum berakhir dan juga akan menjadi perhatian pasar pekan depan. Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang disebut sebagai "area sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026).

Dikutip dari Reuters dan CNA, serangan itu terjadi beberapa jam setelah kobaran api dan asap hitam pekat terlihat di dekat bandara utama Riyadh.

Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa Houthi berupaya menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik. Ini menjadi serangan pertama yang menargetkan ibu kota Saudi sejak eskalasi konflik dengan kelompok Houthi yang didukung Iran meningkat pada Juli lalu.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengatakan rudal tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai targetnya. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut. Namun, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara.

Rekaman video dan foto Reuters menunjukkan kolom asap hitam raksasa membumbung tinggi dari area dekat Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Dalam salah satu rekaman, kobaran api terlihat muncul dari area yang diduga merupakan tangki penyimpanan bahan bakar.

Houthi tidak merinci target yang mereka serang di Riyadh. Namun kelompok tersebut mengaku juga menyerang fasilitas milik raksasa energi Saudi Aramco di kota Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Houthi menyebut operasi itu dilakukan sebagai balasan atas serangan yang terjadi di ibu kota Yaman, Sanaa.

Selain Riyadh, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.

Ketegangan tersebut dapat memperpanjang kekhawatiran pasar akan berakhirnya konflik di Timur Tengah, di mana hal ini juga dapat membuat harga komoditas energi seperti minyak mentah sulit untuk turun kembali dan berimbas ke inflasi yang masih berpotensi meninggi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)



Most Popular