Ada AS-Korsel, 10 Negara Ini Punya Anggaran R&D Militer Terbesar Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Tak hanya saat perang yang dapat menguras anggaran negara, penelitian militer yang dilakukan sebelum perang pun membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Penelitian dan pengembangan pertahanan secara historis juga memainkan peran penting dalam membentuk teknologi sipil. Penelitian yang terkait dengan keamanan nasional telah membantu mendukung terobosan di bidang-bidang seperti komputasi, kedirgantaraan, satelit, kedokteran, dan material canggih.
Namun, hubungan antara pengeluaran militer dan inovasi bukanlah hal yang otomatis, karena kerahasiaan dapat menghambat penyebaran pengetahuan, di antara faktor-faktor lainnya.
Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang juga membutuhkan anggaran besar hanya untuk penelitian terkait militer. Hal ini dilakukan agar militer Negeri Paman Sam tidak kalah tertinggal dari negara lainnya, termasuk dengan rival terberatnya yakni Rusia.
Alokasi anggaran penelitian dan pengembangan pertahanan di AS setara dengan US$ 3,64 per US$ 1.000 produk domestik bruto (PDB). Secara absolut, AS juga merupakan negara dengan pengeluaran militer tertinggi di dunia dengan selisih yang cukup besar, dengan pengeluaran 2025 mencapai US$ 954 miliar atau sekitar Rp 16.914 triliun (asumsi kurs Rp 17.730/US$) dan menyumbang sepertiga dari pengeluaran militer global pada tahun tersebut.
Alokasi penelitian dan pengembangan militer AS hampir 1,8 kali lipat dari Korea Selatan dan lebih dari 3,7 kali lipat dari Inggris, yang masing-masing berada di peringkat kedua dan ketiga.
Meskipun pengeluaran militer AS sebagai bagian dari PDB menurun pada 2025, dibandingkan dengan rata-rata tahunan antara 2015 dan 2022, Departemen Perang AS di bawah pemerintahan Donald Trump mengumumkan pada April 2026 bahwa Anggaran Pertahanan Tahun Fiskal 2027 diproyeksikan menembus US$ 1,5 triliun (Rp 26.595 triliun), melonjak 42% dibandingkan dengan pendanaan 2026.
Jumlah tersebut mencakup rencana untuk meningkatkan pengeluaran penelitian dan pengembangan (R&D) pertahanan dari US$ 16,6 miliar pada 2026, menjadi US$ 18,7 miliar pada 2027, dengan fokus yang dinyatakan pada dana sains dan teknologi umum.
Dengan mengalokasikan US$ 2,06 per US$ 1.000 PDB untuk penelitian dan pengembangan pertahanan, Korea Selatan menempati peringkat kedua, menjadikannya satu-satunya negara OECD lain yang berada di atas US$ 2 per US$ 1.000 PDB.
Korea Selatan telah muncul sebagai salah satu produsen dan pengekspor senjata dengan pertumbuhan tercepat di dunia, didukung oleh investasi pemerintah yang berkelanjutan di industri pertahanannya.
Mencerminkan pertumbuhan ini, empat perusahaan Korea Selatan muncul dalam daftar SIPRI Top 100 produsen senjata global dengan pendapatan penjualan senjata terbesar pada 2024. Pendapatan gabungan mereka meningkat sebesar 30% dari 2023 hingga 2024.
Setelah Korea Selatan, Inggris menempati posisi ketiga dengan US$ 0,97 per US$ 1.000 PDB. Antara 2019 dan 2024, Kementerian Pertahanan Inggris melipatgandakan pengeluaran bersihnya untuk penelitian dan pengembangan dari £1,02 miliar menjadi £3,07 miliar.
Sementara Jerman berada di urutan keempat dengan US$ 0,79 per US$ 1.000 PDB dan Prancis berada di peringkat kelima dengan US$ 0,50 per US$ 1.000 PDB. Jerman dan Prancis masing-masing merupakan negara dengan pengeluaran penelitian dan pengembangan pertahanan terbesar dan terbesar kedua di Uni Eropa.
Di antara 20 negara OECD yang ditampilkan, alokasi rata-rata untuk penelitian dan pengembangan pertahanan adalah US$ 0,58 per US$ 1.000 PDB.
Intensitas penelitian dan pengembangan pertahanan sangat bervariasi di antara negara-negara kaya karena setiap negara mungkin memprioritaskan pengadaan, personel aktif , operasi, atau penelitian secara berbeda.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)