MARKET DATA

Dolar Mengamuk: Yen, Rupiah - Won Kebakaran, Cuma China Kalahkan AS

mae,  CNBC Indonesia
19 September 2026 10:00
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia hancur pada pekan ini di tengah lonjakan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/9/2026), nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis pada akhir perdagangan hari ini.

Meski demikian, mata uang Garuda masih membukukan pelemahan sepanjang pekan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,03% dan mengakhiri perdagangan Jumat (18/9/2026) di posisi Rp17.730/US$.

Meski berakhir di zona hijau, rupiah masih melemah 0,82% sepanjang pekan ini.


Mata Uang Asia Ambruk
Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia jatuh pada pekan ini. Pengecualian terjadi pada yuan China.

Mata uang Asia ambruk menyusul lonjakan indeks dolar ke level 100 sejak Rabu atau setelah bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.

Pelemahan terbesar dialami won Korea yang ambruk 3,19% disusul dengan yen yang tersungkur 2,11%.

Melemahnya yen ini terbilang mengagetkan mengingat Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25% pada Jumat (18/9/2026). Kenaikan ini membawa suku bunga ke level tertinggi sejak 1995.

Namun, yen justru melemah karena pasar menilai keputusan tersebut kurang hawkish dari perkiraan.

Kekhawatiran bahwa BoJ akan kesulitan mengejar laju pengetatan moneter Federal Reserve (The Fed) AS turut menekan yen. Selisih suku bunga yang masih lebar antara AS dan Jepang juga membuat strategi carry trade yen tetap menarik.

Investor dapat meminjam dana dalam yen dengan biaya murah, kemudian menginvestasikannya pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.

 

The Fed sendiri menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Rabu pekan ini (16/9/2026), kenaikan pertama sejak Juli 2023. Bank sentral AS juga membuka peluang kenaikan berikutnya tahun ini karena inflasi masih tinggi dan harga minyak tetap mahal.

Yen juga berada di bawah tekanan setelah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil pendekatan hati-hati terhadap pengetatan moneter.

Yuan Terbang

Mata uang China yuan menembus CNY 6,69/US$1 pada perdagangan Jumat kemarin.Level tersebut menjadi yang terkuat sejak Juli 2022 atau lebih dari empat tahun.

Penguatan tersebut melanjutkan tren yang berlangsung sejak awal tahun. Sepanjang 2026, yuan telah menguat sekitar 4,2% terhadap dolar AS atau greenback.



Wang Qing, Kepala Analis Makro Golden Credit Rating, mengatakan penguatan yuan didorong dua faktor. Pertama, indeks dolar AS yang sempat melonjak setelah kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kemudian kembali melemah. Kedua, kurs tengah yuan terus diarahkan ke level yang lebih kuat.

Pertumbuhan ekspor China yang solid dan kondisi ekonomi makro yang relatif stabil juga menjadi penopang fundamental yuan. Wang memperkirakan yuan akan bergerak dalam kisaran 6,7-6,9 hingga akhir tahun.

Namun, Guan Tao, Kepala Ekonom Huafu Securities, mengingatkan bahwa fluktuasi dua arah merupakan hal yang normal dan pasar sebaiknya tidak terlalu menafsirkan penguatan yuan.

Dari sisi fundamental domestik, kondisi perdagangan luar negeri China secara umum masih stabil. Ekspor terus tumbuh kuat dan ekonomi makro tetap berkembang secara stabil.

 

Dalam jangka lebih panjang, yuan onshore telah menguat lebih dari 4,1% terhadap dolar AS sejak awal tahun, sementara yuan offshore menguat sekitar 4%.

China Tak Khawatir Dampak Kenaikan Bunga The Fed

Terkait dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap yuan, Wang mengatakan China telah membangun kerangka regulasi yang menggabungkan kebijakan makroprudensial dan pengawasan mikro terhadap arus modal lintas negara.

Menurutnya, risiko volatilitas besar pada arus modal akibat perbedaan siklus kebijakan moneter China dan AS dapat dikendalikan secara efektif.

Karena itu, pasar dinilai tidak perlu terlalu membesar-besarkan dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap yuan.

Wakil Gubernur People's Bank of China (PBOC) Lu Lei juga mengatakan China menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali.

China tetap memberikan peran menentukan kepada pasar dalam pembentukan nilai tukar, sekaligus mencegah perilaku ikut-ikutan (herd behavior) dan penguatan ekspektasi pasar yang tidak rasional.

"China tidak membutuhkan dan tidak memiliki niat untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan melalui depresiasi mata uang," ujar Lu.

 

Wang memperkirakan yuan akan mempertahankan tren stabil hingga menguat dalam jangka pendek setelah kenaikan suku bunga The Fed.

Namun, pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekspor China dan dampak penyesuaian kebijakan moneter negara-negara besar terhadap indeks dolar AS.

Wang memperkirakan yuan akan bergerak berlawanan arah dengan dolar AS dengan volatilitas yang relatif terbatas dan berada dalam kisaran 6,7-6,9 hingga akhir tahun.

Pola pergerakan yuan sepanjang tahun berpotensi mencerminkan kondisi "menguat terlebih dahulu, kemudian stabil."

Penguatan Yuan Tak Selalu Positif

Guan Tao mengingatkan agar pasar melihat penguatan yuan secara rasional.

Menurutnya, terdapat faktor yang mendukung maupun menekan pergerakan yuan. Meski faktor positif relatif dominan dalam jangka pendek, penguatan yuan juga dapat memberikan efek pengetatan makroekonomi yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

Dalam jangka panjang, ketidakpastian yang memengaruhi nilai tukar masih sangat besar.

"Penguatan dan pelemahan yuan masing-masing memiliki manfaat dan kerugian. Jangan memberikan penilaian berlebihan terhadap arah pergerakannya," ujar Guan.

(mae/mae)



Most Popular