MARKET DATA

Demam AI Makin Gila, Indosat Siapkan "Senjata" untuk Raup Cuan

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
25 September 2026 11:15
Indosat Ooredoo Hutchison (Istimewa)
Foto: Indosat Ooredoo Hutchison (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan artificial intelligence (AI) kini tidak hanya mendorong penggunaan chatbot dan aplikasi digital. Gelombang tersebut juga meningkatkan kebutuhan terhadap graphics processing unit atau Unit pemrosesan grafis (GPU), pusat data, listrik, jaringan dan layanan cloud.

Salah satu perusahaan terpenting dalam ekosistem tersebut adalah NVIDIA. GPU perusahaan menjadi perangkat utama untuk melatih dan menjalankan model AI.

Pangsa NVIDIA pada pasar GPU AI diperkirakan lebih dari 80%, ditopang ekosistem perangkat lunak CUDA yang sudah menjadi standar industri.

Pertemuan Presiden Direktur PT Indosat Tbk (ISAT), Vikram Sinha dan CEO Nvidia Jensen Huang dalam acara Sahabat AI. (Linkedin/Vikram Sinha)Pertemuan Presiden Direktur PT Indosat Tbk (ISAT), Vikram Sinha dan CEO Nvidia Jensen Huang dalam acara Sahabat AI. (Linkedin/Vikram Sinha) Foto: Pertemuan Presiden Direktur PT Indosat Tbk (ISAT), Vikram Sinha dan CEO Nvidia Jensen Huang dalam acara Sahabat AI. (Linkedin/Vikram Sinha)

Perusahaan teknologi dan berbagai negara kini berlomba mengamankan produk NVIDIA untuk membangun kapasitas AI, sementara permintaan global terus meningkat dan pasokan masih terbatas.

Namun, pilihan investasi serupa belum banyak tersedia di Bursa Efek Indonesia. Salah satu nama yang mulai masuk dalam radar adalah PT Indosat Tbk (ISAT). Telekomunikasi masih menjadi bisnis inti Indosat, tetapi perusahaan mulai membangun pertumbuhan baru dari layanan dan infrastruktur AI.

Pengembangan tersebut dijalankan melalui Lintasarta, anak usaha yang berperan sebagai AI Factory Grup Indosat dan berstatus NVIDIA Cloud Partner. NVIDIA menyediakan teknologi GPU dan arsitektur komputasi, sedangkan Lintasarta mengoperasikan GPU Merdeka dan AI Neocloud.

Kapasitas tersebut ditawarkan kepada korporasi, pemerintah dan perusahaan teknologi. Indosat juga mengembangkan Sahabat-AI dan AI-RAN bersama Nokia dan NVIDIA, serta terlibat dalam pengembangan RAIA Grid bersama Arsari Group untuk memperkuat infrastruktur digital pendukung AI.

Pendapatan AI Mulai Tumbuh

Bisnis AI Cloud Indosat sudah menghasilkan pendapatan. Sepanjang 2025, bisnis tersebut membukukan US$28 juta atau sekitar Rp 501,48 miliar (US$1= Rp 17.910). Pada semester I-2026, pendapatannya telah mencapai US$33 juta.

Realisasi selama enam bulan pertama 2026 sudah 17,9% lebih tinggi dibandingkan pencapaian sepanjang 2025, meskipun kedua angka tersebut memiliki periode berbeda.

Manajemen menargetkan pendapatan AI Cloud US$100 juta pada 2026 atau sekitar Rp 1,8 triliun. Indosat juga menyebut AI Neocloud telah memiliki contracted revenue sebesar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar.

Selain itu, annual recurring revenue atau ARR diproyeksikan mencapai lebih dari US$330 juta mulai 2027.

Contracted revenue belum menjadi pendapatan yang sudah dibukukan, tetapi memberikan gambaran mengenai permintaan yang telah diamankan dan kapasitas yang perlu disiapkan Indosat.

RAIA Grid Perkuat Infrastruktur Digital

Selain kapasitas komputasi, Indosat memperluas infrastruktur digital melalui RAIA Grid. Platform ini dikembangkan PT Infra Fiber Teknologi, perusahaan hasil kolaborasi Indosat dan Arsari Group.

RAIA Grid dirancang sebagai platform infrastruktur digital berbasis AI dengan menggabungkan lebih dari 86.000 kilometer jaringan serat optik, intelligent networking dan kapabilitas AI melalui model open access. Infrastruktur tersebut menghubungkan 5G, fixed broadband, pusat data, penyedia cloud, hyperscaler dan perusahaan.

Kolaborasi ini mempertemukan jaringan dan pengalaman digital Indosat dengan kemampuan investasi infrastruktur Arsari Group.

RAIA Grid juga menargetkan memulai perakitan GPUNVIDIA B300 di Indonesia pada Desember 2026. Langkah tersebut memperluas eksposurIndosat menuju pembangunan infrastruktur pendukung AI.

Zankore Membawa Bisnis AI ke Skala Regional

Indosat bersama Ooredoo Group, Nokia dan NVIDIA mengembangkan Zankore sebagai platform AI compute dan neocloud untuk Indonesia serta pasar Asia Tenggara.

Zankore menargetkan kapasitas awal 200 MW pada semester I-2027. Dalam jangka panjang, kapasitas tersebut direncanakan mencapai 1.000 MW atau 1 GW.

Fase awal Zankore direncanakan menggunakan sistem NVIDIA GB300 NVL72. Ooredoo menjadi founding shareholder dan investor utama dengan kepemilikan 49% serta komitmen investasi US$800 juta.

Ooredoo memberikan dukungan pendanaan, NVIDIA menyediakan teknologi komputasi, sedangkan Indosat melengkapi proyek melalui jaringan dan pengalamannya di Indonesia. Skala ini penting karena pengoperasian AI membutuhkan GPU, listrik, pendinginan serta konektivitas dalam jumlah besar.

AI Tumbuh, Bisnis Inti Tetap Kuat

Indosat menempatkan AI sebagai mesin pertumbuhan baru, sembari tetap memperkuat bisnis telekomunikasi sebagai fondasi pendapatan, laba dan arus kas perusahaan.

Pada semester I-2026, pendapatan meningkat 13,1% menjadi Rp30,7 triliun. EBITDA tumbuh 13,6% menjadi Rp14,6 triliun, dengan margin EBITDA sebesar 47,6%.

Laba bersih entitas induk meningkat 84,5% menjadi Rp4,3 triliun.

Kenaikan ini turut dipengaruhi keuntungan satu kali dari transaksi aset fiber. Laba bersih normalisasi tercatat Rp3,2 triliun atau tumbuh 49,2%. ARPU meningkat 17,3% menjadi Rp46.000, sedangkan trafik data tumbuh 19,9%.

Kontribusi AI Cloud saat ini diperkirakan sekitar 2% terhadap pendapatan konsolidasi. Artinya, pengembangan AI dilakukan di atas bisnis inti yang tetap tumbuh.

Salah Satu Pilihan Saham AI Indonesia

Melalui Lintasarta, GPU Merdeka, AI Neocloud, Sahabat-AI, AI-RAN, RAIA Grid dan Zankore, Grup Indosat membangun eksposur AI dari infrastruktur hingga layanan.

Kombinasi tersebut membuat ISAT menjadi salah satu emiten paling representatif bagi investor yang mencari eksposur AI di Indonesia. Bisnis telekomunikasi menjadi fondasinya, sedangkan AI memberikan peluang pertumbuhan baru.

Jika target pendapatan AI Cloud serta pengembangan RAIA Grid dan Zankore berjalan sesuai rencana, kontribusi AI terhadap kinerja Indosat berpeluang meningkat mulai 2027.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular