MARKET DATA

Ringgit Juara Asia: Rupiah Menguat, Yen-Won Masuk Zona Merah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
18 September 2026 09:57
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/9/2026).

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, enam dari 10 mata uang Asia yang dipantau berhasil menguat terhadap dolar AS. Sementara empat mata uang lainnya masih berada di zona merah.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Ringgit menguat 0,49% ke posisi MYR4,076/US$.

Dolar Taiwan menyusul dengan kenaikan 0,26%. Yuan China dan peso Filipina sama-sama menguat 0,12%, masing-masing ke CNY 6,699/US$ dan PHP 62,589/US$.

Yuan China dan peso Filipina sama-sama menguat 0,12%, disusul dong Vietnam yang naik 0,08%. Rupiah juga ikut masuk zona hijau dengan penguatan 0,06% ke posisi Rp17.725/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,35%.  

Yen Jepang juga terkoreksi 0,21% ke JPY 156,3/US$, disusul baht Thailand yang turun 0,12% dan dolar Singapura yang melemah tipis 0,02%.

Yuan Tembus Level Terkuat Sejak 2022

Penguatan yuan pada pagi ini ke posisi CNY6,699/US$ sekaligus mencatatkan level terkuatnya sejak Juli 2022 atau lebih dari empat tahun. Hal ini ditopang oleh kinerja ekspor China yang solid dan sinyal dukungan dari bank sentral China.

People's Bank of China (PBoC) menaikkan kurs referensi harian yuan selama delapan sesi beruntun hingga Jumat. Rangkaian kenaikan tersebut menjadi yang terpanjang sejak 2023.

Penguatan yuan juga terjadi menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir September. Menjelang agenda tersebut, bank sentral China dinilai terus memberi dukungan kepada yuan melalui penetapan kurs referensi harian yang lebih kuat.

"Ke depan, renminbi kemungkinan masih akan mendapat dukungan dari pertemuan Trump-Xi yang diperkirakan berlangsung pekan depan," ujar Serena Zhou, strategist Mizuho Securities, dikutip dari Reuters.

Indeks Dolar Pengaruhi Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau melemah tipis 0,02% ke posisi 100,231.

Meski melemah tipis, DXY masih bertahan di atas level 100. Posisi tersebut menunjukkan dolar AS belum kehilangan tenaga setelah pada perdagangan sebelumnya mendapat dorongan besar dari keputusan The Fed menaikkan suku bunga.

The Fed pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Bank sentral AS juga memberi sinyal masih ada ruang kenaikan suku bunga lanjutan.

Dolar AS sempat melonjak tajam setelah keputusan tersebut. Namun, pada perdagangan Kamis waktu setempat, greenback mulai sedikit terkoreksi karena imbal hasil Treasury AS turun dan harga minyak mulai lebih moderat.

"Saya pikir dolar bergerak sejalan dengan suku bunga AS saat ini," ujar Marc Chandler, chief market strategist Bannockburn Forex, dikutip dari Reuters.

Chandler menilai ketika yield Treasury AS mulai turun setelah kenaikan sebelumnya, dolar AS ikut terkoreksi terbatas.

Meski begitu, tekanan terhadap dolar AS belum sepenuhnya hilang. Pasar masih menilai The Fed sudah memenuhi ekspektasi hawkish, tetapi arah dolar berikutnya akan sangat bergantung pada seberapa agresif The Fed membuka ruang kenaikan suku bunga lanjutan.

Perhatian pasar kini beralih ke Bank of Japan (BOJ). Bank sentral Jepang diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat dan memberi sinyal kesiapan untuk kembali menaikkan biaya pinjaman ke depan.

Pelaku pasar akan mencermati pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda, terutama terkait waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya.

Yen sempat menguat tajam pada awal September karena ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang, intervensi bersama Jepang-AS, serta dugaan repatriasi dana investor Jepang dari luar negeri. Namun, dalam beberapa sesi terakhir, yen kembali tertekan seiring dolar AS yang kembali menguat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular