MARKET DATA

10.000 "Isi Hutan" Dimakan Miliaran Manusia, Gulai Pakis - Babi Liar

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
18 September 2026 14:25
Hutan
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Hutan selama ini identik dengan kayu, penyimpanan karbon atau ancaman deforestasi. Namun, bagi miliaran orang di dunia, fungsi hutan jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hutan menjadi sumber makanan, obat-obatan, bahan bakar hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.

Buah liar, daun, jamur, umbi, ikan hingga daging satwa menjadi bagian dari konsumsi masyarakat yang hidup di dalam maupun sekitar kawasan hutan.

Laporan terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) bertajuk Forests for Food: Nourishing People, Sustaining the Planet mencatat lebih dari 50.000 spesies liar dimanfaatkan manusia untuk makanan, energi, material dan obat-obatan. Sedikitnya 10.000 spesies digunakan langsung sebagai makanan.



Hutan. (Dok. Pixabay)Hutan. (Dok. Pixabay) Foto: Hutan. (Dok. Pixabay)

Dalam sejumlah komunitas yang sangat bergantung pada hutan, pangan hutan bahkan dapat memenuhi hingga 80% kebutuhan protein. Lebih dari 5 miliar orang juga diperkirakan bergantung pada hutan dalam berbagai tingkat untuk menopang mata pencaharian.

Pemanfaatan tersebut tidak selalu berarti hutan dapat dieksploitasi tanpa batas. Dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, hasil hutan tetap dapat dimanfaatkan selama tidak merusak kemampuan ekosistem untuk pulih dan beregenerasi.

Dari Afrika hingga Asia, Hutan Masuk ke Meja Makan

Pemanfaatan hasil hutan berbeda di setiap kawasan.

Di Afrika, buah liar, sayuran daun, jamur dan daging satwa menjadi bagian penting konsumsi masyarakat. Di Amerika, hutan menopang pangan melalui buah-buahan, ikan dan wild meat, terutama di kawasan Amazon.

Asia memiliki keragaman pangan hutan terbesar, mulai dari tanaman liar, jamur hingga serangga dan daging satwa. Sementara di Eropa, buah beri, jamur, kacang-kacangan dan game meat masih banyak dikonsumsi, sedangkan di Oceania hutan menyediakan sagu, buah, umbi dan daging liar bagi masyarakat pedesaan dan terpencil.

Indonesia Punya Gulai Pakis

Indonesia juga memiliki hubungan panjang antara hutan dan makanan.

FAO bahkan secara khusus menyinggung pakis hutan atau forest ferns di Indonesia sebagai contoh pangan hutan yang tetap bertahan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

Pakis telah lama menjadi bagian dari kuliner Nusantara. Pucuk mudanya diolah menjadi sayur, ditumis, direbus hingga dimasak dengan santan.

Gulai PakisGulai Pakis Foto: Facebook; Resep Istimewa

Di Sumatera Barat, salah satu olahan yang paling dikenal adalah gulai pakis. Pucuk pakis dimasak menggunakan santan dan rempah hingga menjadi salah satu hidangan yang lazim dijumpai dalam kuliner Minangkabau.

Keberadaan pakis menunjukkan bahwa pangan hutan tidak selalu identik dengan bahan makanan yang asing atau hanya dikonsumsi masyarakat terpencil.

Sebaliknya, produk yang awalnya berasal dari kawasan hutan dapat masuk ke dalam tradisi kuliner dan tetap bertahan hingga ke masyarakat modern.

Wikimedia commonsWikimedia commons Foto: Wikimedia commons

FAO mencatat daun liar merupakan salah satu produk hutan yang paling banyak dikonsumsi di berbagai belahan dunia. Daun-daunan tersebut dapat menjadi sumber protein serta mikronutrien seperti vitamin A, kalsium dan zat besi.

Wild Meat, Sumber Protein yang Punya Dua Sisi

Selain tanaman, hutan juga menjadi sumber protein hewani.

FAO mencatat masyarakat yang tinggal dekat kawasan hutan mengonsumsi berbagai jenis satwa, ikan, burung hingga serangga. Di sedikitnya 60 negara, pangan dari hutan diperkirakan menyumbang setidaknya 20% protein hewani dalam pola makan masyarakat pedesaan.

Perannya bahkan jauh lebih besar di sejumlah wilayah Afrika.

Konsumsi daging satwa liar atau wild meat di Congo Basin diperkirakan mencapai sekitar 5 juta ton per tahun. Di sejumlah masyarakat Afrika, daging satwa liar dapat memenuhi hingga 80% kebutuhan protein harian.

Namun konsumsi wild meat juga menghadirkan persoalan keberlanjutan.

FAO mencatat perburuan di banyak kawasan hutan Asia telah mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan dalam 30-40 tahun terakhir. Tekanan meningkat seiring tumbuhnya permintaan dari masyarakat perkotaan, akses yang semakin mudah ke kawasan hutan serta perkembangan teknologi perburuan.

Artinya, peran daging liar sebagai sumber pangan perlu dibedakan antara pemanfaatan untuk kebutuhan masyarakat lokal dan eksploitasi berlebihan untuk pasar komersial. Jika pengambilan satwa melebihi kemampuan populasinya untuk pulih, sumber pangan yang selama ini menopang masyarakat justru dapat hilang.

Dari Sagu hingga Babi Liar, Hutan Menghidupi Papua

Di Papua, hubungan antara masyarakat dan hutan terlihat jelas dari pola pangan sehari-hari. Sagu menjadi salah satu bahan pangan penting dan di sejumlah wilayah Papua diolah menjadi papeda.

Hutan juga menyediakan sumber protein. FAO mencatat daging babi liar menjadi pangan bernilai di banyak wilayah Papua Indonesia dan kerap dibagikan dalam pesta atau kegiatan komunal. Ikan air tawar dan hewan akuatik lainnya juga menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat di kawasan hutan dataran rendah.

Kegiatan masyarakat Desa Klayas sebelumnya mencari sagu di hutan dan mengolah dengan air kubangan. (Dok: Pertamina Kilang Internasional)Kegiatan masyarakat Desa Klayas sebelumnya mencari sagu di hutan dan mengolah dengan air kubangan. (Dok: Pertamina Kilang Internasional) Foto: Kegiatan masyarakat Desa Klayas sebelumnya mencari sagu di hutan dan mengolah dengan air kubangan. (Dok: Pertamina Kilang Internasional)

Namun, perubahan pola konsumsi dan gaya hidup mulai menggeser hubungan tersebut. FAO mencatat masyarakat lanjut usia di Provinsi Papua mulai mengkhawatirkan berkurangnya pengetahuan generasi muda mengenai pangan liar tradisional.

Hutan Sangat Boleh Dimanfaatkan, Asal Tetap Lestari

Secara global, sustainable forest management menekankan bahwa hutan dapat tetap dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial, tetapi fungsi ekologisnya harus tetap terjaga. FAO menyebut pengelolaan berkelanjutan harus mempertahankan nilai ekonomi, sosial dan lingkungan hutan untuk generasi saat ini maupun mendatang.

Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menilai keberlanjutan hutan melalui tujuh unsur, mulai dari luas dan keanekaragaman hayati hutan, kesehatan ekosistem, fungsi produksi dan perlindungan, hingga manfaat sosial-ekonomi serta kualitas tata kelolanya.

Prinsip serupa digunakan dalam standar sertifikasi global seperti PEFC. Standarnya mengatur persyaratan pengelolaan hutan agar pemanfaatan produk dan jasa hutan tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber dayanya.

(slm/slm)



Most Popular