The Fed "Membakar" Mata Uang Asia; Rupiah-Ringgit Jatuh, 2 Negara Aman
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Tekanan datang setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) resmi menaikkan suku bunga dan membuka peluang kenaikan lanjutan hingga akhir tahun.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.19 WIB, tekanan dolar AS terasa cukup merata di Asia. Dari 10 mata uang yang dipantau, delapan mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara hanya dua mata uang yang mampu menguat.
Baht Thailand menjadi mata uang yang paling tertekan pagi ini. Baht melemah 0,39% ke posisi THB 33,41/US$.
Tekanan berikutnya turut dirasakan oleh rupiah dan ringgit Malaysia yang sama-sama melemah 0,31%. Rupiah turun ke posisi Rp17.730/US$, sedangkan ringgit Malaysia bergerak ke MYR 4,095/US$.
Won Korea Selatan juga masuk daftar mata uang dengan tekanan cukup besar setelah melemah 0,29% ke KRW 1.380,8/US$. Dong Vietnam turun 0,10% ke VND 26.024/US$, disusul dolar Taiwan yang terkoreksi 0,09% ke TWD 31,86/US$.
Yuan China melemah 0,06% ke CNY 6,7103/US$, sementara peso Filipina turun tipis 0,01% ke PHP 62,728/US$.
Di tengah tekanan tersebut, dolar Singapura masih mampu menguat 0,09% ke SGD 1,277/US$. Yen Jepang juga bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,08% ke JPY 156,14/US$.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dibayangi penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini masih terpantau menguat 0,07% ke posisi 100,324.
DXY melanjutkan penguatan setelah pada perdagangan sebelumnya menguat 0,63%. Posisi DXY yang sudah kembali berada di atas level 100 menunjukkan dolar AS kembali mendapat tenaga besar setelah keputusan The Fed.
The Fed resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan ini diumumkan pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, setelah FOMC menggelar rapat selama dua hari.
Kenaikan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023 atau lebih dari tiga tahun terakhir. Keputusan ini juga diambil secara bulat oleh 12 anggota FOMC.
"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed dalam rilis resminya.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga masih menjadi fokus utama bank sentral AS. Ia menyebut inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut terlalu lama.
"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Sikap The Fed yang lebih tegas membuat dolar AS kembali menguat. Dot plot, The Fed menunjukkan 16 dari 18 pejabat memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini.
Karl Schamotta, chief market strategist Corpay, menilai kenaikan suku bunga yang tegas dan didukung seluruh anggota FOMC dapat membantu memulihkan keyakinan pasar terhadap komitmen The Fed dalam memerangi inflasi.
"Kenaikan tegas hari ini, yang didukung seluruh anggota FOMC dan disertai peningkatan proyeksi dalam dot plot, seharusnya membantu memulihkan kepercayaan terhadap komitmen The Fed dalam melawan inflasi dan menghapus hambatan besar yang selama ini menahan dolar," ujar Schamotta, dikutip dari Reuters.
Dolar AS juga mendapat dorongan dari sinyal bahwa kebijakan moneter AS masih bisa lebih ketat hingga tahun depan. Pernyataan dan proyeksi terbaru The Fed membuka peluang suku bunga bergerak ke kisaran 4,00%-4,25% pada akhir tahun ini.
David Krakauer, vice president of portfolio management Mercer Advisors, menilai keputusan bulat FOMC menjadi sinyal kuat bahwa The Fed di bawah Warsh siap bertindak untuk menahan inflasi.
"Keputusan bulat hari ini adalah sinyal paling jelas bahwa The Fed di bawah Warsh bersatu, berbasis data, dan bersedia bertindak," ujar Krakauer, dikutip dari Reuters.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)