MARKET DATA

Asia Kebakaran Hebat: Won, Yen - Rupiah Melemah, Cuma Filipina Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
15 September 2026 10:05
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali memberi tekanan besar ke mata uang Asia pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Sentimen kenaikan harga minyak dan peluang The Fed menaikkan suku bunga pekan ini membuat mayoritas mata uang Asia tak berdaya.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.17 WIB, sebanyak delapan dari sembilan mata uang Asia yang dipantau melemah terhadap dolar AS. Sementara hanya satu mata uang yang berhasil menguat.

Tekanan terbesar di Asia pagi ini datang dari won Korea Selatan. Mata uang Negeri Ginseng tersebut melemah 0,47% ke posisi KRW 1.353,42/US$.

Yen Jepang menyusul dengan pelemahan 0,31% ke JPY 154,83/US$, sementara baht Thailand terkoreksi 0,18% ke THB 33,25/US$.

Rupiah juga belum mampu keluar dari tekanan. Mata uang Garuda melemah 0,11% ke posisi Rp17.660/US$. Dolar Singapura ikut turun 0,10% ke SGD 1,2717/US$.

Pelemahan juga terjadi pada dolar Taiwan yang turun 0,08% ke TWD31,765/US$. Ringgit Malaysia melemah 0,05% ke MYR 4,076/US$, sedangkan yuan China turun tipis 0,04% ke CNY 6,7107/US$.

Hanya peso Filipina yang mampu melawan tekanan dolar AS pagi ini. Peso menguat tipis 0,05% ke posisi PHP 62,801/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.20 WIB terpantau menguat 0,20% ke posisi 99,594.

Dolar AS bergerak naik dan diperdagangkan dekat level tertinggi dalam dua pekan. Kenaikan harga minyak ikut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pekan ini.

Harga minyak naik ke sekitar US$107 per barel, mendekati level tertinggi empat bulan, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan pembicaraan Teluk-Iran ditunda.

Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat pasar semakin yakin The Fed masih memiliki alasan untuk menaikkan suku bunga dalam rapat 15-16 September 2026.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai sekitar 93%. Jika terealisasi, kenaikan ini akan menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun.

"Kombinasi harga minyak yang lebih tinggi, yield AS yang lebih tinggi, dan selera risiko yang melemah membantu mengangkat dolar AS secara luas," ujar Christopher Wong, analis FX OCBC, dikutip dari Reuters.

Meski begitu, ruang penguatan dolar AS dinilai belum sepenuhnya terbuka lebar. Menurut Wong, kenaikan suku bunga The Fed sudah banyak diperhitungkan pasar. Karena itu, dolar AS membutuhkan sinyal bahwa The Fed masih membuka peluang kenaikan lanjutan agar bisa menguat lebih jauh.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular