MARKET DATA

Sakti! Trump Bangkitkan Harga Batu Bara Setelah Mati Suri 5 Hari

mae,  CNBC Indonesia
15 September 2026 08:25
Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)
Foto: Batu bara kokas. (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara menanjak ditopang kenaikan harga minyak serta kebijakan Donald Trump.

Merujuk Refnitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (14/9/2026) ditutup di posisi US$ 148,55 per ton atau menguat 0,44%.

Kenaikan ini memutus tren negatifnya di mana harga pasir hitam melemah lima hari beruntun.

Kenaikan harga batu bara ditopang lonjakan harga minyak. Pada perdagangan Senin kemarin, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,34% menjadi US$101,39 per barel, sementara minyak Brent naik 1,02% menjadi US$105,68 per barel.

Kenaikan harga batu bara juga ditopang kebijakan Trump.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) pada Senin mengumumkan tidak akan lagi mengatur emisi yang menyebabkan pemanasan global dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas alam.

EPA memperkirakan produksi batu bara untuk kebutuhan sektor listrik dapat meningkat lebih dari 10 kali lipat akibat perubahan kebijakan tersebut. Ini merupakan katalis yang sangat positif bagi batu bara termal AS.

EPA mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya mencabut sebagian besar aturan iklim era pemerintahan Joe Biden dengan alasan mengurangi "birokrasi" yang meningkatkan biaya energi. EPA juga mengusulkan pencabutan aturan sektor kelistrikan era Barack Obama serta mencegah pemerintahan mendatang menerapkan aturan serupa.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas merupakan sumber emisi gas rumah kaca terbesar kedua di Amerika Serikat (AS) dan menjadi pendorong utama perubahan iklim secara global.

Administrator EPA Lee Zeldin mengatakan pemerintahan Trump ingin melindungi sektor energi AS dan memastikan masyarakat tetap mampu membayar kebutuhan listrik.

Namun, para ahli memperingatkan pencabutan aturan tersebut dapat menambah emisi karbon dioksida hingga 5,8 miliar metrik ton pada 2050 serta menimbulkan dampak kesehatan senilai ratusan miliar dolar akibat polusi, penyakit, dan kematian dini.

Mantan penasihat senior EPA pada era Biden, Zealan Hoover, mengatakan meningkatnya permintaan listrik tidak harus dipenuhi melalui pembangkit batu bara dan gas yang menghasilkan polusi tinggi. Menurutnya, pemerintah sebenarnya dapat menetapkan standar kesehatan masyarakat yang ketat, tetapi pemerintahan saat ini justru memilih memangkas standar tersebut.

Penggunaan batu bara di AS naik sekitar 10% tahun lalu, salah satunya didorong meningkatnya kebutuhan energi dari pusat data. Pemerintahan Trump juga mendorong penggunaan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi pusat data.

Di saat yang sama, pemerintahan Trump mendorong investasi pada minyak dan gas, termasuk investasi US$700 juta untuk sektor batu bara dan terminal ekspor batu bara di Oakland.

Berbanding terbalik dengan as, Provinsi Shanxi, wilayah penghasil batu bara terbesar di China, justru mempercepat peralihan menuju struktur energi yang lebih bersih dan beragam. Langkah ini dilakukan seiring China mengejar target puncak emisi karbon dioksida sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060.

Shanxi secara bertahap melakukan pembenahan struktur industrinya.

Di tambang bawah tanah, teknologi otomatisasi dan jaringan 5G mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi. Sementara itu, di permukaan, bekas wilayah yang mengalami penurunan tanah akibat aktivitas tambang diubah menjadi kawasan pembangkit listrik tenaga surya dan angin berskala besar.

 

Pada saat yang sama, Shanxi mulai menggunakan kendaraan komersial bertenaga hidrogen untuk jalur angkutan barang, memanfaatkan sumber daya panas bumi untuk pemanas kawasan, serta menangkap metana dari tambang batu bara untuk digunakan sebagai sumber pembangkit listrik.

Harga Batu Bara China Tertekan

Pasar batu bara termal domestik China masih berada di bawah tekanan meskipun beberapa tambang mencoba menaikkan harga.

Sejumlah tambang menaikkan harga untuk jenis batu bara yang dinilai kompetitif dari sisi biaya. Namun, kenaikan tersebut belum cukup membalikkan tren pelemahan pasar.

Permintaan dari pengguna akhir masih lesu. Banyak pembeli menahan pembelian, sementara trader cenderung wait and see.

Aktivitas pembelian batu bara melemah karena kebutuhan pembangkit listrik tertekan. Aktivitas topan di wilayah selatan dan timur China mengurangi permintaan listrik.

Persediaan batu bara di pembangkit listrik masih tinggi, sementara pasokan dari kontrak jangka panjang juga mencukupi sehingga kebutuhan pembelian baru terbatas.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga di tingkat tambang hanya bersifat tentatif, belum menunjukkan pembalikan tren yang kuat.

Secara lebih luas, pasar batu bara China saat itu menghadapi kombinasi permintaan listrik yang melemah, stok pembangkit yang tinggi, dan pembeli yang berhati-hati. Kondisi ini membuat harga batu bara domestik sulit menguat meskipun beberapa tambang mencoba menaikkan harga.

(mae/mae)



Most Popular