MARKET DATA
Review Sepekan

Perang Makin Panas, Harga Minyak Terbang Nyaris 10% Dalam Sepekan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 September 2026 10:00
Peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang jaringan pipa minyak cetak 3D dalam ilustrasi. (REUTERS/Dado Ruvic)
Foto: Peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang jaringan pipa minyak cetak 3D dalam ilustrasi. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia turun pada perdagangan terakhir pekan ini. Namun, Brent dan WTI tetap bertahan di atas US$100 per barel karena perang Amerika Serikat (AS) dan Iran masih mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Jumat (11/9/2026) ditutup melemah 2,81% ke posisi US$104,61 per barel.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), turun 2,37% menjadi US$100,05 per barel.

Koreksi tersebut memutus kenaikan harga Brent selama lima hari beruntun. WTI juga berbalik melemah setelah sebelumnya menguat dalam delapan hari perdagangan berturut-turut.

Kendati melemah pada perdagangan terakhir, kedua harga minyak acuan dunia tersebut masih mencatatkan kenaikan tajam secara mingguan.

Dalam sepekan, harga Brent melesat 8,65%, sedangkan WTI terbang 9,37%. Keduanya telah membukukan kenaikan selama dua pekan beruntun.

Lonjakan tersebut mencerminkan besarnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah. Perang AS dan Iran telah menghambat pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak terpenting dunia.

Harga minyak bahkan sempat menyentuh posisi tertinggi sejak pertengahan Mei pada Jumat. Namun, kenaikannya berbalik setelah muncul laporan bahwa sejumlah menteri luar negeri di Timur Tengah tengah membahas kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Laporan tersebut meredakan kepanikan pasar untuk sementara dan mendorong pelaku pasar merealisasikan keuntungan setelah harga minyak melonjak dalam beberapa hari sebelumnya.

"Hal-hal yang memicu kepanikan kemarin mulai mereda hari ini," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group, dikutip dari Reuters.

Namun, laporan mengenai pembicaraan tersebut belum menghilangkan ancaman terhadap pasokan. Amerika Serikat dan Iran masih saling melancarkan serangan, sedangkan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap terbatas.

Pasar juga masih memperhitungkan risiko perang yang berlangsung lebih lama. Terlebih, serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Pipa Minyak Utama Arab Saudi Diserang Drone

Kekhawatiran terhadap pasokan minyak Timur Tengah juga meningkat setelah jaringan pipa utama Arab Saudi menjadi sasaran serangan.

Melansir CNBC International, Arab Saudi menutup sementara jaringan pipa minyak mentah East-West pada Jumat sebagai langkah pencegahan. Keputusan tersebut diambil setelah beberapa serangan pesawat nirawak atau drone yang disebut diluncurkan dari wilayah Irak.

Serangan terjadi pada Kamis pagi dan menyasar jaringan pipa di wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut memicu kebakaran dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian jaringan pipa. Beberapa orang juga dilaporkan mengalami luka-luka.

Kementerian Energi Arab Saudi kemudian mengerahkan tim darurat untuk mengamankan lokasi dan memeriksa kondisi jaringan pipa. Pemerintah Saudi belum mengumumkan kapan pipa tersebut dapat kembali beroperasi.

"Perkembangan lebih lanjut akan diumumkan pada waktunya," ujar Kementerian Energi Arab Saudi, dikutip dari CNBC International.

Jaringan pipa East-West merupakan salah satu infrastruktur energi terpenting Arab Saudi. Pipa tersebut memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari dan membentang melintasi wilayah kerajaan menuju terminal ekspor di pesisir Laut Merah.

Jalur ini memungkinkan minyak mentah dari kawasan produksi di bagian timur Arab Saudi dialirkan ke terminal di Laut Merah. Dengan demikian, kapal tanker tidak harus berlayar melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz untuk mengangkut minyak ke pasar global.

Peran pipa East-West semakin besar sejak perang Amerika Serikat dan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Arab Saudi mengandalkan jalur tersebut untuk mempertahankan ekspor minyak sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rute di Teluk Persia.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser pada bulan lalu bahkan mengatakan pipa East-West memberikan peran lebih besar dalam mengurangi dampak gangguan pasokan akibat perang Iran dibandingkan pelepasan cadangan minyak darurat.

Kabar mengenai serangan tersebut telah beredar sejak Kamis dan diperkirakan turut mendorong lonjakan harga minyak. Pada perdagangan hari itu, harga Brent dan WTI sama-sama melesat lebih dari 6% hingga menembus US$100 per barel.

Pemerintah Arab Saudi untuk sementara memilih tidak melakukan serangan balasan.

Riyadh ingin memberikan waktu kepada pemerintah Irak untuk mengambil langkah guna mencegah wilayahnya kembali digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan.

Serangan terhadap pipa East-West menambah panjang ancaman terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran juga meningkatkan serangan terhadap kerajaan tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Serangan Houthi pada awal pekan menyasar fasilitas energi dan sejumlah aset sipil di Arab Saudi. Lebih dari 70 orang dilaporkan terluka akibat rangkaian serangan tersebut.

Sejak Juli, Houthi juga telah mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Kelompok milisi yang terafiliasi dengan IRGC itu berupaya mengganggu pengiriman minyak kerajaan melalui Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan jalur pelayaran global.

Situasi tersebut membuat dua jalur penting pengiriman minyak Arab Saudi sama-sama menghadapi ancaman. Pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu oleh perang Amerika Serikat dan Iran, sedangkan akses menuju Laut Merah dibayangi serangan terhadap pipa East-West dan aktivitas Houthi di sekitar Bab el-Mandeb.

Lalu lintas kapal minyak di Selat Bab el-Mandeb.Lalu lintas kapal minyak di Selat Bab el-Mandeb. Foto: CNBC

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular