MARKET DATA

Bikin Bangga! RI Jadi Raja Ikan Tangkap Laut Dunia

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
14 September 2026 11:15
Ikan tuna dan cakalang bersiap diekspor  ke Thailand. (Dok: Perum Perindo)
Foto: Ikan tuna dan cakalang bersiap diekspor ke Thailand. (Dok: Perum Perindo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tuna merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai tinggi di pasar global.

Badan Pangan Dunia FAO dalam The State of World Fisheries and Aquaculture 2026 mencatat nilai pasar tuna dunia mencapai sekitar US$40 miliar per tahun atau sekitar Rp 705 triliun (US$1= Rp 17.625).

Pendaratan spesies tuna komersial pada 2024 diperkirakan mencapai 5,9 juta ton, setara sekitar 6,5% dari produksi perikanan tangkap laut global.

Dari sisi perdagangan, kelompok tuna, bonito, dan billfish juga menyumbang sekitar US$17,7 miliar atau 10% dari total nilai ekspor produk hewan akuatik dunia pada 2024.

Ikan Cakalang hasil tangkapan nelayan dibongkar dari kapal di Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru Jakarta, Kamis (1/2/2018). Ditahun 2018 KKP menargetkan nilai ekspor perikanan Indonesia capai USD5,4 miliar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Ikan Cakalang hasil tangkapan nelayan dibongkar dari kapal di Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru Jakarta, Kamis (1/2/2018). Ditahun 2018 KKP menargetkan nilai ekspor perikanan Indonesia capai USD5,4 miliar. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Indonesia punya posisi penting dalam rantai pasok tersebut. FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen perikanan tangkap laut terbesar kedua dunia pada 2024, dengan kontribusi sekitar 9,1% terhadap total produksi global, hanya di bawah China.

Untuk komoditas tuna dan kelompok terkait, data terbaru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi tuna, cakalang, dan tongkol (TCT) Indonesia mencapai sekitar 1,44 juta ton pada 2024. 

Tuna Jadi Salah Satu Penopang Ekspor Perikanan Indonesia

Besarnya peran tuna dalam ekonomi Indonesia juga terlihat dari posisi komoditas ini di sektor perikanan nasional.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa dalam kelompok perikanan tangkap 2024, tuna masuk jajaran 10 komoditas terbesar Indonesia dengan produksi mencapai 345.095 ton. Sementara itu, jika digabung dengan tongkol dan cakalang, total produksi ketiga kelompok ikan tersebut mencapai sekitar 1,44 juta ton.

Meski secara volume tuna bukan komoditas tangkap terbesar, nilai ekonominya tetap sangat besar. Hal ini terlihat dari kinerja ekspor tuna, tongkol, dan cakalang (TCT) Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung tinggi dan sempat menembus level US$1 miliar pada 2024.

Data KKP mencatat nilai ekspor tuna, tongkol, dan cakalang Indonesia mencapai sekitar US$1,03 miliar pada 2024, sebelum turun menjadi sekitar US$927,2 juta pada 2025.

Sementara itu, hingga September 2026, nilainya telah mencapai sekitar US$490,4 juta, meski angka ini masih bersifat sementara dan belum mencerminkan satu tahun penuh.


Kombinasi antara produksi yang besar dan nilai ekspor yang tinggi menunjukkan bahwa tuna bukan sekadar komoditas perikanan biasa. Bagi Indonesia, tuna menjadi salah satu sumber devisa penting sekaligus penopang aktivitas ekonomi di rantai pasok perikanan, mulai dari penangkapan, pengolahan, logistik, hingga ekspor.

Strategi Ekonomi Biru Indonesia

Besarnya nilai ekonomi tuna membuat pengelolaannya tidak bisa hanya mengejar volume tangkapan. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengelolaan perikanan yang tetap menjaga stok ikan agar manfaat ekonominya bisa bertahan dalam jangka panjang.

Salah satu kebijakan utamanya adalah Penangkapan Ikan Terukur berbasis kuota. Lewat skema ini, jumlah tangkapan disesuaikan dengan kuota dan kondisi sumber daya ikan.

Untuk tuna, pendekatan ini penting karena ikan tersebut bermigrasi lintas wilayah, sehingga pengelolaannya juga mencakup rumpon, pembatasan tangkapan, hingga pengaturan area dan musim penangkapan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat tata kelola sektor perikanan tangkap dari hulu. (Dok. Humas KKP)Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat tata kelola sektor perikanan tangkap dari hulu. (Dok. Humas KKP) Foto: (Dok. Humas KKP)

Secara global, pengelolaan tuna mulai menunjukkan hasil.

FAO mencatat sekitar 91,3% stok tuna yang dinilai pada 2023 berada pada tingkat biologis berkelanjutan, sementara lebih dari 99% volume tangkapan berasal dari stok yang masih berada pada tingkat berkelanjutan.

Kondisinya jauh membaik dibandingkan sekitar dua dekade lalu, ketika sekitar 28% stok tuna masih mengalami overfishing.

Artinya, ekonomi biru bukan berarti mengurangi nilai ekonomi sektor perikanan. Justru, pengelolaan yang lebih terukur dapat membantu menjaga stok ikan tetap produktif, sekaligus mempertahankan pendapatan nelayan, pasokan bagi industri pengolahan, dan nilai ekspor dalam jangka panjang.

Efek Ekonomi Tuna Tidak Berhenti Di Laut

Dampak ekonomi tuna tidak berhenti pada nelayan atau nilai ekspor.

Aktivitas penangkapan ikut menggerakkan kebutuhan bahan bakar, es, logistik, pelabuhan, tenaga kerja, pengolahan ikan, hingga perdagangan di daerah pesisir.

Studi mengenai perikanan tuna tropis Indonesia memperkirakan production multiplier sekitar 1,3 kali di tingkat usaha, sementara total dampak ekonominya bisa mencapai sekitar 3,2 kali nilai produksi awal ketika konsumsi rumah tangga ikut diperhitungkan.

Artinya, menjaga stok tuna tetap sehat bukan hanya agenda lingkungan. Bagi Indonesia, perikanan yang dikelola secara berkelanjutan juga berarti menjaga sumber devisa, lapangan kerja, pasokan industri, dan perputaran ekonomi di wilayah pesisir.

(slm/slm)



Most Popular