MARKET DATA

Harga Emas Ambruk 2%, Perak Ambles 5%: Amerika Bikin Panik

mae,  CNBC Indonesia
11 September 2026 06:37
Emas
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok lebih dari 1% setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang kuat dan kenaikan harga minyak meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pekan depan.

Merujuk Refinitiv,  harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup di posisi US$ 4315,69 per troy ons. Harganya jatuh 1,93%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 1,06% pada Rabu.

Harga emas nyaris tak bergerak pada hari ini. Pada Jumat (11/9/2026) pukul 06.24 WIB, harga emas ada di US$ 4315,8 atau menguat 0,003%.

Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, mengatakan data Producer Price Index (PPI) menunjukkan adanya peningkatan tekanan inflasi yang mendasari perekonomian AS. Salah satu pemicunya adalah kenaikan biaya energi.

"Data PPI menunjukkan adanya sedikit peningkatan inflasi yang mendasari ekonomi AS, dan sebagian disebabkan oleh kenaikan biaya energi," ujar Rodda.

 

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi harga produsen AS untuk permintaan akhir naik 0,4% pada bulan lalu, setelah sebelumnya meningkat 0,1% pada Juli. Angka Juli tersebut juga direvisi naik.

Data inflasi tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada pekan depan mencapai 70%, naik dari 62% sebelum data inflasi dirilis.

 

Namun, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga dalam pertemuan 15-16 September dan tidak mengubahnya hingga akhir tahun.

Penguatan dolar AS turut menjadi beban bagi emas. Kenaikan dolar membuat emas yang dihargai dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Tekanan juga datang dari kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun.

Indeks dolar kini sudah mencapai level 99,05 atau tertinggi dalam tiga hari. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melesat ke 4,98% atau tetringgi sejak Oktober 2023.

Emas tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield US Treasury membuat emas tidak menarik.

Menurut Rodda, kenaikan harga minyak membuat pasar obligasi harus mencerminkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama. Kondisi tersebut turut menekan harga emas.

Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026) ditutup di posisi US$ 53,55 per troy ons. Harganya ambruk 5,5%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 2,3% pada Rabu.

Harga perak masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (11/9/2026) pukul 06.26 WIB, harga perak ada di US$ 63,42 atau melemah 0,2%.




Most Popular
Features