MARKET DATA

Rupiah Pimpin Asia Tendah Dolar AS, Ringgit Makin Jatuh

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
09 September 2026 10:05
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (9/9/2026).

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.17 WIB, sebanyak delapan dari 10 mata uang Asia yang dipantau berhasil menguat terhadap dolar AS. Adapun dua mata uang lainnya masih berada di zona merah.

Rupiah memimpin penguatan mata uang Asia pagi ini. Mata uang Garuda terapresiasi 0,43% ke posisi Rp17.550/US$.

Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,23% ke JPY 153,6/US$. Dolar Taiwan juga naik 0,11% ke TWD 31,471/US$.

Dong Vietnam menguat 0,05% ke VND 25.962/US$, sementara yuan China dan baht Thailand sama-sama naik 0,03%, masing-masing ke CNY 6,7082/US$ dan THB 32,86/US$.

Won Korea Selatan dan dolar Singapura juga bergerak positif dengan penguatan 0,02%, masing-masing ke KRW 1.339,8/US$ dan SGD 1,264/US$.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Ringgit melemah 0,20% ke MYR 4,065/US$.

Peso Filipina juga terkoreksi 0,07% ke posisi PHP 62,405/US$.

Dinamika dolar AS masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Asia pagi ini. DXY tercatat menguat tipis 0,01% ke posisi 98,796.

Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menunjukkan dolar AS benar-benar pulih. DXY masih berada di bawah level 99, seiring tekanan dari penguatan yen Jepang yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir.

Mata uang Jepang tersebut bergerak dekat level terkuat sejak Februari setelah sempat menyentuh JPY152,89/US$ pada perdagangan Selasa.

Penguatan yen ikut menahan laju dolar AS. Sebab, yen merupakan salah satu komponen utama dalam perhitungan indeks dolar AS. Ketika yen menguat tajam, tekanan terhadap DXY ikut meningkat.

Sorotan terhadap yen muncul setelah mata uang Jepang itu menguat sekitar 4% sepanjang September. Kenaikan tersebut mulai mengubah perhitungan dalam transaksi carry trade, yakni strategi meminjam yen dengan biaya rendah untuk ditempatkan pada aset atau mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Penguatan yen didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), potensi repatriasi dana investor Jepang dari luar negeri, serta tekanan dari Washington agar yen bergerak lebih kuat.

Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September mendatang. Namun, arah yen ke depan masih akan sangat bergantung pada nada kebijakan Gubernur BOJ Kazuo Ueda.

"Fair value untuk yen berada di kisaran 140-an menurut estimasi kami, dan pergerakan lebih lanjut ke arah tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan setelah sebelumnya terjadi pelemahan yen yang berlebihan," ujar Aninda Mitra, head of Asia macro and investment strategy BNY Investments, dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, dolar AS masih mendapat penahan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Harga minyak Brent naik lebih dari 1,48% ke US$99,37 per barel setelah konflik di Timur Tengah kembali melebar.

Eskalasi terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Sementara itu, pasukan AS menyerang beberapa kapal tanker minyak Iran dan Iran menargetkan pangkalan AS di Yordania.

Kenaikan harga minyak membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi global. Kondisi ini penting karena data inflasi AS yang akan dirilis Jumat pekan ini akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan bank sentral (The Federal Reserve/The Fed).

OCBC menilai eskalasi terbaru di Timur Tengah membuat dampak harga energi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian, terutama setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

"Untuk saat ini, harga minyak dan yield yang lebih tinggi dapat membantu membatasi pelemahan dolar AS, tetapi kami menduga pergerakan yang lebih tegas membutuhkan konfirmasi dari data inflasi mendatang," tulis OCBC, dikutip dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular