MARKET DATA

RI Baru Punya Kapal Induk, Ini 5 Negara yang Bisa Bikin Sendiri

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
09 September 2026 13:37
Kapal induk Giuseppe Garibaldi buatan Italia yang akan dipesan Presiden Prabowo Subianto. (Dok. seaforces)
Foto: Kapal induk Giuseppe Garibaldi buatan Italia yang akan dipesan Presiden Prabowo Subianto. (Dok. seaforces)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia segera memasuki babak baru pertahanan maritim. Kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi telah bertolak dari Italia dan dijadwalkan tiba di Tanah Air pada pertengahan September 2026.

Kapal buatan Fincantieri tersebut rencananya berganti nama menjadi KRI Gajah Mada dan menjadi carrier pertama yang dioperasikan TNI AL. Sebelum digunakan sepenuhnya, kapal berusia lebih dari empat dekade itu masih membutuhkan retrofit dan modernisasi.

Kehadirannya belum menjadikan Indonesia sebagai negara produsen kapal induk karena Giuseppe Garibaldi dirancang dan dibangun Italia. Kemampuan membangun carrier secara mandiri masih dikuasai segelintir negara.

Berikut lima negara dengan industri kapal induk paling maju di dunia.

Amerika Serikat Mendominasi Industri

Amerika Serikat memiliki 11 supercarrier nuklir, jauh lebih banyak dibandingkan negara lain.

Setiap carrier mampu membawa lebih dari 60 pesawat dan menjadi pusat kelompok tempur yang dilengkapi kapal perusak, kapal selam nuklir, kapal logistik dan pesawat peringatan dini.

Pembangunannya dilakukan Newport News Shipbuilding, divisi Huntington Ingalls Industries atau HII.

Newport News menjadi satu-satunya galangan yang mampu merancang, membangun dan mengisi ulang bahan bakar carrier nuklir Amerika. Sejak 1933, perusahaan tersebut telah membangun lebih dari 31 kapal induk.

HII kini memproduksi Gerald R. Ford Class yang berbobot lebih dari 90.000 ton dan memakai electromagnetic aircraft launch system.

HII merupakan perusahaan swasta yang tercatat di bursa. Namun, pemerintah Amerika tetap menjadi pemesan, penyedia anggaran, pengendali teknologi dan pemilik kapal.

Foto udara menunjukkan kapal induk USS Gerald R Ford telah tiba di Mediterania timur. (VIA REUTERS/U.S. NAVAL FORCES CENTRAL COMMAN)Foto udara menunjukkan kapal induk USS Gerald R Ford telah tiba di Mediterania timur. (VIA REUTERS/U.S. NAVAL FORCES CENTRAL COMMAN) Foto: (VIA REUTERS/U.S. NAVAL FORCES CENTRAL COMMAN)

China Mengejar dengan Mesin Industri Negara

China telah mengoperasikan Liaoning, Shandong dan Fujian. Dalam waktu relatif singkat, negara tersebut berkembang dari pengguna kapal era Soviet menjadi produsen carrier dengan peluncur elektromagnetik.

Fujian resmi masuk armada pada November 2025. Kapal berbobot lebih dari 80.000 ton itu menjadi carrier pertama China yang memakai electromagnetic catapult.

Teknologi tersebut memungkinkan pesawat lepas landas dengan membawa lebih banyak bahan bakar dan persenjataan. Namun, kemampuan tempur penuh Fujian masih memerlukan pematangan awak, pesawat dan kelompok tempurnya.

Pembuatnya adalah China State Shipbuilding Corporation atau CSSC melalui galangan Jiangnan dan Dalian.

CSSC merupakan BUMN pusat dengan sekitar 182.800 pegawai, 34 lembaga penelitian dan 11 perusahaan publik di bawah kendalinya.

China belum menyamai pengalaman Amerika. Namun, skala industri dan kecepatan produksinya menjadikan negara tersebut sebagai pesaing terdekat AS.

Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)Kapal induk ketiga Tiongkok, Fujian, sedang melakukan uji coba laut di lokasi yang tidak diketahui. Kapal induk ketiga Tiongkok mulai beroperasi setelah upacara serah terima kepada Angkatan Laut pekan ini, (7/11/2025). (AFP/HANDOUT)

Prancis Menguasai Teknologi Nuklir

Prancis hanya memiliki satu carrier aktif, tetapi menguasai teknologi yang sangat langka.

Charles de Gaulle merupakan satu-satunya kapal induk nuklir non-Amerika yang aktif. Kapal tersebut menggunakan catapult dan arrested landing untuk mengoperasikan Rafale M serta pesawat E-2 Hawkeye.

Kemampuan ini dilanjutkan melalui PA-NG. Kapal generasi baru berbobot sekitar 78.000 ton tersebut memasuki tahap realisasi pada 2026 dan ditargetkan menggantikan Charles de Gaulle mulai 2038.

Naval Group menjadi arsitek dan integrator kapal. Chantiers de l'Atlantique menangani platform, sedangkan TechnicAtome mengembangkan sistem propulsi nuklir.

Naval Group dikendalikan negara. Pemerintah Prancis memiliki 62,25% sahamnya, sementara 35% dikuasai Thales.

Prancis ditempatkan di atas Inggris karena menguasai teknologi nuklir dan sistem CATOBAR. Inggris mempunyai lebih banyak carrier, tetapi menggunakan sistem STOVL yang lebih sederhana.

The French aircraft carrier Charles de Gaulle arrives in the bay of Toulon, southern France, Sunday April 12, 2020. The Defense Ministry said in a statement that around 40 sailors showed symptoms compatible with COVID-19, the disease the coronavirus causes. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (AP Photo/Daniel Cole)The French aircraft carrier Charles de Gaulle arrives in the bay of Toulon, southern France, Sunday April 12, 2020. The Defense Ministry said in a statement that around 40 sailors showed symptoms compatible with COVID-19, the disease the coronavirus causes. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (AP Photo/Daniel Cole) Foto: Kapal Induk Tenaga Nuklir di Prancis Charles de Gaulle Terserang Covid-19 (AP/Daniel Cole)AP/Daniel Cole

Britania Raya Mengandalkan Perusahaan Swasta

Britania Raya memiliki HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales. Kedua kapal berbobot sekitar 65.000 ton dan dirancang mengoperasikan F-35B.

Pembangunannya dilaksanakan melalui Aircraft Carrier Alliance yang melibatkan BAE Systems, Babcock, Thales UK dan Kementerian Pertahanan Inggris.

BAE Systems memimpin sisi industri, sedangkan Babcock berperan besar dalam perakitan dan integrasi di Rosyth, Skotlandia.

BAE dan Babcock merupakan perusahaan swasta yang tercatat di London Stock Exchange. Pemerintah Inggris tetap menentukan spesifikasi, menyediakan anggaran dan terlibat dalam pengelolaan program.

Model tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan swasta dapat membangun aset strategis, sementara kendali utama tetap berada di tangan negara.

HMS Queen ElizabethHMS Queen Elizabeth Foto: Dokumentasi Twitter HMS Queen Elizabeth

India Memasuki Kelompok Produsen Carrier

Kemampuan India meningkat setelah INS Vikrant masuk armada pada September 2022.

India kini mengoperasikan INS Vikramaditya dan INS Vikrant. Angkatan lautnya juga pernah menggelar latihan menggunakan kedua carrier secara bersamaan.

INS Vikrant memiliki panjang sekitar 262 meter, displacement mendekati 45.000 ton dan kapasitas sekitar 30 pesawat. Kapal tersebut memakai konfigurasi STOBAR dengan ski-jump dan arresting wire.

Vikrant memiliki kandungan domestik sekitar 76%. Desainnya dikembangkan Warship Design Bureau, sedangkan pembangunannya dilakukan Cochin Shipyard Limited.

Cochin Shipyard tercatat di bursa, tetapi tetap berstatus BUMN. Pemerintah India menguasai 63,33% sahamnya setelah penjualan sebagian kepemilikan pada Juli 2026.

India masih menggunakan teknologi luar negeri, termasuk MiG-29K Rusia dan Rafale Marine Prancis. Namun, pembangunan Vikrant membuktikan India telah menguasai fondasi produksi carrier domestik.

Kapal induk Vikrant menjadi kapal indul buatan lokal pertama India. Ini membuat India sejajar dengan sejumlah negara elit yang mampu membangun kapal induknya sendiri.Kapal induk Vikrant menjadi kapal indul buatan lokal pertama India. Ini membuat India sejajar dengan sejumlah negara elit yang mampu membangun kapal induknya sendiri.

Rusia Tertinggal dalam Regenerasi Carrier

Rusia tetap lebih kuat daripada India dalam senjata nuklir, rudal strategis dan kapal selam nuklir. Namun, keunggulan tersebut tidak terlihat dalam industri kapal induk.

Admiral Kuznetsov menjalani perbaikan panjang setelah penugasan pada 2016. Hingga September 2026, belum ada konfirmasi kuat bahwa carrier tunggal Rusia tersebut kembali berdinas secara operasional.

Rusia juga belum membangun kapal induk baru sejak bubarnya Uni Soviet.

Sevmash pernah mengubah Admiral Gorshkov menjadi INS Vikramaditya untuk India. Proyek itu menunjukkan kemampuan rekonstruksi besar, tetapi berbeda dari membangun carrier baru sejak tahap desain.

India kini berada di depan Rusia dalam ketersediaan carrier, pembangunan domestik dan keberlanjutan program. Rusia tetap lebih kuat secara militer keseluruhan, tetapi belum memiliki program kapal induk baru yang setara.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)



Most Popular