MARKET DATA

Dolar Ditendang di Mana-Mana: Yen-Rupiah Perkasa, Ringgit Menangis

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
08 September 2026 10:10
Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak
Foto: Infografis/ Ini Peta Kekuatan Mata Uang ASEAN Usai Krisis 1998: Rupiah Kalah Telak/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Pelemahan yang cukup tajam pada dolar AS pagi ini memberi ruang bagi hampir seluruh mata uang Asia untuk menguat. 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak sembilan mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara hanya satu mata uang yang melemah.

Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Yen melesat 0,79% ke posisi JPY 153,16/US$.

Won Korea Selatan menyusul dengan penguatan 0,52% ke posisi KRW 1.337,5/US$. Dong Vietnam dan peso Filipina sama-sama menguat 0,22%, masing-masing ke VND 25.959/US$ dan PHP 62,444/US$.

Rupiah juga ikut bergerak positif. Mata uang Garuda menguat 0,14% ke posisi Rp17.605/US$.

Dolar Singapura naik 0,13% ke SGD 1,264/US$, baht Thailand menguat 0,12% ke THB 32,80/US$, dolar Taiwan naik 0,06% ke TWD 31,487/US$, sementara yuan China menguat tipis 0,01% ke CNY 6,7103/US$.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah pagi ini. Ringgit turun tipis 0,02% ke posisi MYR 4,045/US$.

Penguatan mayoritas mata uang Asia terjadi saat dolar AS kembali berada di bawah tekanan. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini terpantau melemah 0,41% ke posisi 98,765.

DXY melanjutkan pelemahan untuk hari kedua dan bergerak di sekitar level terendah dalam lebih dari dua pekan. Tekanan terhadap dolar AS semakin besar karena yen Jepang kembali menguat tajam.

Penguatan yen memberi dorongan besar terhadap pelemahan DXY. Sebab, yen merupakan salah satu komponen utama dalam indeks dolar AS. Ketika yen menguat terhadap dolar AS, tekanan terhadap DXY ikut membesar.

Meski demikian, pelemahan dolar AS masih berpotensi tertahan. Pasar masih menunggu data inflasi AS pekan ini, yakni indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Kamis dan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat pekan ini.

Data inflasi tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam rapat FOMC 15-16 September mendatang.

Laporan tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan pada Jumat pekan lalu sempat meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September. Namun, penguatan dolar AS belum mampu berlanjut karena pasar masih membutuhkan bukti inflasi yang lebih kuat.

Analis OCBC menilai laporan tenaga kerja AS memang mendukung dolar AS, tetapi belum cukup untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan.

"Laporan tenaga kerja AS mendukung dolar AS secara terbatas, tetapi belum cukup untuk mendorong penguatan yang berkelanjutan," tulis analis OCBC.

Pasar juga masih mencermati harga minyak yang bertahan tinggi akibat ketegangan AS-Iran di sekitar Selat Hormuz. Harga energi yang tinggi berpotensi menjaga tekanan inflasi dan membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka.

Namun untuk pagi ini, tekanan terhadap dolar AS masih lebih dominan. Kondisi tersebut membuat mayoritas mata uang Asia menguat, dengan yen Jepang dan won Korea Selatan menjadi yang paling perkasa.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular