Perang Iran Memanas: Harga Minyak Makin Ganas, Terbang Hampir 10%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak masih menguat di tengah masih panasnya perang Iran.
Harga minyak melesat di tengah kembali berlangsungnya serangan udara Amerika Serikat di Iran dan respons Teheran, terutama terhadap target militer yang terkait dengan Amerika Serikat (AS).
Merujuk Refinitiv, pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (5/9/2026) harga minyak mentah brent untuk pengiriman November naik 0,80% menjadi US$96,28 per barel.
Kenaikan tersebut membawa penguatan harga brent 7,8% dalam sepekan.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik 0,20% pada Jumat menjadi US$91,48 per barel.
Dalam sepekan, harga WTI melesat 9,7% atau hampir 10%.
"Eskalasi konflik mendorong harga minyak mentah, tetapi penguatan ini bisa kehilangan tenaga jika pengiriman minyak melalui kapal tanker di Selat Hormuz tetap berjalan lancar," jelas analis ING, dikutip dari Refinitiv.
"Laporan mengenai transit minyak melalui Selat Hormuz belum memberikan gambaran yang jelas mengenai situasi sebenarnya," ujar Barbara Lambrecht dari Commerzbank.
Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump membagikan grafik melalui platform media sosial Truth yang menunjukkan sekitar 18 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut. Angka itu, menurut Trump, mendekati sekitar 20 juta barel per hari yang tercatat sebelum perang.
Pasar menilai presiden AS tersebut melebih-lebihkan volume arus minyak, tetapi belum ada konsensus mengenai angka sebenarnya.
Badan Informasi Energi AS (EIA) dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan merilis pembaruan bulanan mengenai estimasi pasokan dan permintaan minyak global pada pekan depan.
Sementara itu, data impor minyak mentah China yang akan diumumkan pada Selasa dinilai akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi permintaan.
Hilangnya jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia akibat konflik telah sedikit terkompensasi oleh penurunan pembelian minyak China.
Di Amerika Serikat, harga solar (diesel) juga mencetak rekor baru, dengan rata-rata mencapai US$5,85 per galon atau sekitar 3,78 liter, berdasarkan data American Automobile Association (AAA).
Data yang dihimpun Bloomberg, Kpler, dan Vortexa menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Agustus turun menjadi sekitar 3 juta barel per hari (bph), terendah dalam sembilan tahun.
Di saat yang sama, permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sepanjang pekan ini. Kondisi tersebut mengurangi harapan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya dalam waktu dekat.
Namun, kenaikan harga minyak masih terbatas karena terdapat tanda-tanda bahwa arus minyak mentah masih tetap mengalir melalui Selat Hormuz.
(mae/mae)