MARKET DATA

Gara-Gara RI: Harga Batu Bara Dunia Terbang 8 Hari, India dalam Bahaya

mae,  CNBC Indonesia
05 September 2026 09:30
Pekerja melakukan bongkar muat di kapal tongkang bermuatan batubara dari Kalimantan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (4/8/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Pekerja melakukan bongkar muat di kapal tongkang bermuatan batubara dari Kalimantan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (4/8/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat ke posisi tertinggi dalam 2,5 tahun lebih. Lonjakan harga dipicu kenaikan harga minyak serta persoalan pasokan di China dan Indonesia.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (4/9/2026) ditutup di posisi US$ 153 per ton. Harganya naik 1,8%.

Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan melonjak 10,5% dalam delapan hari terakhir.

Harga batu bara kemarin menembus rekor tertinggi sejak 18 Desember 2023 atau dua tahun sembilan bulan.

Lonjakan harga batu bara hingga menembus level SU$ 150 per ton merupakan hal tak biasa karena jarang.

Dalam sepekan, harga batu bara melonjak 9,5%. Artinya, harga batu bara sudah terbang dalam empat pekan beruntun.

Harga batu bara melonjak karena harga minyak dan kekurangan pasokan. Harga minyak melonjak 9% dalam sepekan ini karena kembali memanasnya perang.

Minyak dan batu bara adalah dua komoditas yang saling mensubstitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Harga batu bara juga melesat karena kekhawatiran pasokan di China dan beberapa negara. Salah satu penyebabnya adalah karena berkurangnya pasokan dari Indonesia.

Stok batu bara di Pelabuhan Qinhuangdao terus melanjutkan tren penurunan. Penyebab utamanya adalah pasokan batu bara yang masuk melalui jalur kereta api terus menyusut. Pengiriman batu bara keluar dari pelabuhan juga turun, tetapi penurunan arus masuk lebih besar sehingga stok tetap tertekan.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Qinhuangdao. Data Sxcoal menunjukkan stok gabungan di sejumlah pelabuhan utama China utara masih mengalami tekanan pada awal September.

Penurunan arus kereta membuat pelabuhan kesulitan mengisi kembali stok yang keluar untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan industri.

 

Sxcoal melaporkan bahwa harga batu bara di mulut tambang China terus naik meskipun permintaan listrik mulai mendingin. Artinya, penguatan harga saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan daripada lonjakan permintaan.

Hujan deras di Inner Mongolia juga mengganggu logistik dan membatasi arus batu bara menuju pelabuhan.

Meski harga naik, tidak semua pelaku pasar yakin reli akan terus berlangsung. Musim panas dan puncak penggunaan AC mulai berakhir, sehingga konsumsi batu bara pembangkit listrik pesisir China diperkirakan mulai mengalami penurunan musiman.

Sejumlah pembangkit juga disebut sudah memiliki persediaan yang relatif tinggi dan lebih mengandalkan batu bara dari kontrak jangka panjang. Mereka hanya masuk pasar spot ketika perlu melakukan pengisian ulang wajib.

Kenaikan harga domestik China juga merembet ke pasar batu bara impor. Pasokan batu bara dari Indonesia yang lebih ketat ikut mendorong harga.

Batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR untuk pengiriman Oktober terdengar ditransaksikan di sekitar US$70-71/ton FOB, sementara batu bara 3.400 kcal/kg berada di sekitar US$60-61/ton. Untuk batu bara Australia 5.500 kcal/kg NAR, transaksi September tercatat sekitar US$101/ton FOB.

Pasokan dari Indonesia Terhambat

Kekeringan dan turunnya muka air sejumlah sungai utama di Kalimantan mulai mengganggu pengangkutan batu bara. Kondisi ini membuat kapal tongkang tak bisa beroperasi optimal dan berpotensi menahan stok di tambang maupun stockpile pelabuhan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan, sungai yang dangkal membatasi draft tongkang sehingga muatan batu bara tak bisa diangkut secara maksimal.

 

"Secara umum, kekeringan dan penurunan muka air sungai terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan mulai memengaruhi aktivitas pengangkutan batu bara," kata Gita kepada CNBC Indonesia, Jumat (4/6/2026).

Menurutnya, gangguan logistik tersebut dapat meningkatkan stok batu bara sementara di area tambang dan pelabuhan. Namun, kondisi domestik bukan satu-satunya faktor penentu harga batu bara karena pergerakannya tetap dipengaruhi permintaan dan pasokan global.

Kementerian ESDM juga menyoroti kekeringan Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, salah satu jalur distribusi batu bara. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan, terhentinya tongkang bukan akibat pembatasan produksi, melainkan karena debit air sungai menyusut drastis.

"Justru karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan," ujar Yuliot di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Kondisi ini membuat sejumlah tongkang tertahan hingga kedalaman sungai kembali memungkinkan untuk dilalui.

Fenomena tersebut juga ramai di media sosial. Di Kampung Sungai Raya, Sekadau, hamparan pasir yang muncul akibat surutnya Sungai Kapuas bahkan dimanfaatkan warga sebagai lokasi rekreasi dadakan. Sementara sebuah tongkang dilaporkan telah hampir tiga bulan kandas di sungai tersebut.

Stok di India Kritis

Stok batu bara di pembangkit listrik tenaga termal di seluruh India telah turun hingga kurang dari separuh level yang direkomendasikan. Sebanyak 50 pembangkit diklasifikasikan memiliki persediaan batu bara yang "sangat rendah" per Rabu (2/9/2026), di tengah tingginya permintaan listrik dan gangguan pasokan akibat musim monsun, berdasarkan data Central Electricity Authority (CEA).

 

Ke-50 pembangkit tersebut memiliki kapasitas gabungan sekitar 224 GW. Hingga Rabu, stok batu bara mencapai 28,2 juta ton, atau hanya 48% dari kebutuhan yang ditetapkan sebesar 58,7 juta ton.

Persediaan yang tersedia setara dengan kebutuhan batu bara sekitar sembilan hari dengan asumsi tingkat utilisasi pembangkit sebesar 85%, dibandingkan kebutuhan normal sekitar 19 hari.

Pembangkit yang dikategorikan kekurangan stok memiliki persediaan kurang dari 25% dari tingkat stok normal.

Namun, pejabat Kementerian Batu Bara mengatakan seluruh pembangkit yang masuk kategori kritis terus dipantau setiap hari oleh tim lintas kementerian dan tetap mendapatkan pasokan bahan bakar secara rutin.

Dari 50 pembangkit tersebut, 45 menggunakan batu bara domestik, empat dirancang menggunakan batu bara impor, dan satu pembangkit menggunakan washery rejects atau limbah hasil pencucian batu bara.

Seorang pejabat senior Kementerian Batu Bara mengatakan, klasifikasi pembangkit sebagai "kritis" merupakan bagian dari pemantauan rutin berdasarkan ketentuan CEA. Status tersebut berarti pembangkit mendapatkan pengawasan lebih ketat dan prioritas penanganan.da

(mae/mae)



Most Popular