Satu per Satu Tumbang: Bendungan Raksasa Dunia Mandek Hasilkan Listrik
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman El Niño diperkirakan masih berlanjut.
Outlook terbaru International Research Institute for Climate and Society (IRI) pada Agustus 2026 menunjukkan El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027, dengan probabilitas 100% dari Agustus-Oktober 2026 hingga Februari-April 2027. Peluangnya baru mulai turun pada periode Maret-Mei 2027.
Kondisi tersebut tidak hanya membawa risiko kekeringan terhadap pertanian dan pasokan air. Produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga dapat ikut tertekan ketika curah hujan berkurang dan volume air di bendungan menyusut.
PLTA bergantung pada ketersediaan air untuk menggerakkan turbin. Ketika curah hujan turun, aliran sungai dan inflow menuju waduk ikut berkurang.
Jika kondisi kering berlangsung cukup lama, permukaan air waduk dapat turun dan volume air yang tersedia untuk pembangkitan listrik menjadi semakin terbatas.
Risiko tersebut semakin besar bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap tenaga air. Fitch Ratings pada Juli 2026 menilai sistem kelistrikan Asia yang bergantung besar pada PLTA menghadapi tekanan lebih tinggi dari El Niño, terutama jika kondisi kering berlangsung berkepanjangan.
Porsi pembangkit listrik tenaga air terhadap total produksi listrik pada 2024. Berdasarkan data terbaru yang tersedia hingga 2026. Foto: Our World In Data |
Persoalannya tidak berhenti pada penurunan produksi PLTA. Ketika pasokan listrik tenaga air berkurang, operator sistem harus menggantinya dengan sumber pembangkit lain yang berpotensi memiliki biaya produksi lebih tinggi, sehingga biaya pembangkitan listrik secara keseluruhan dapat ikut meningkat.
Vietnam Jadi Salah Satu yang Paling Terekspos
Di Asia, Vietnam menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap risiko tersebut. Fitch Ratings menilai sektor kelistrikan Vietnam sebagai yang paling terekspos terhadap El Niño di antara pasar Asia yang diperingkat lembaga tersebut.
Pasalnya, PLTA menyumbang sekitar 30%-40% dari pembangkitan listrik Vietnam. Ketika curah hujan turun dan level waduk menyusut, porsi yang besar tersebut membuat sistem kelistrikan lebih sensitif terhadap kondisi kering.
Risiko tersebut pernah terlihat pada 2023 ketika rendahnya ketersediaan air ikut menyebabkan gangguan pasokan listrik dan kerugian aktivitas ekonomi. Fitch menilai tambahan pembangkit termal dan energi terbarukan memang akan mengurangi kerentanan Vietnam secara bertahap, tetapi pembangunan kapasitas tersebut belum sepenuhnya selesai.
Waduk Menyusut, PLTA Malaysia Tertekan
Malaysia juga menghadapi tekanan terhadap pembangkit tenaga air akibat kondisi kering. Dampaknya paling terlihat di Sarawak, yang sistem kelistrikannya sangat bergantung pada PLTA.
Sarawak Energy mencatat sejak April 2026, curah hujan yang lebih rendah telah menekan inflow ke reservoir PLTA Bakun, Murum, dan Batang Ai. Tenaga air biasanya memasok sekitar 65% listrik di Sarawak, sehingga penurunan ketersediaan air membuat produksi hidro perlu dikurangi dan pembangkit termal digunakan lebih besar untuk menjaga pasokan.
Secara nasional, kondisi waduk juga mulai mendapat perhatian. Hingga akhir Agustus 2026, dari 49 bendungan utama yang dipantau di Malaysia, sembilan berada pada level peringatan dan satu berada pada level kritis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa periode kering tidak hanya berdampak pada pasokan air, tetapi juga dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem listrik di wilayah yang bergantung besar pada PLTA.
India, Produksi PLTA Anjlok Lebih dari 20%
Dampak El Niño kini juga terlihat di India. Produksi listrik dari PLTA pada Juni 2026 turun hampir 21% secara tahunan, menjadi sekitar 13.361 GWh, dari 16.775 GWh pada Juni 2025. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Februari 2024.
Kondisi itu terjadi ketika curah hujan monsun kumulatif India hingga awal Juli tercatat 38% di bawah normal.
Sebanyak 166 waduk yang dipantau Central Water Commission hanya menyimpan sekitar 47,7 miliar meter kubik air, atau sekitar seperempat dari total kapasitas. Volume tersebut juga 39% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemandangan Bendungan Baglihar, yang juga dikenal sebagai Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Baglihar, di Sungai Chenab yang mengalir dari Kashmir wilayah India menuju Pakistan, di Chanderkote, wilayah Jammu, pada 6 Mei 2025 Foto: Reuters |
Tekanan berlanjut hingga akhir Juli. Dari 30 waduk PLTA utama, 23 waduk mencatat level air lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi listrik PLTA besar sepanjang 1 April-30 Juli turun 10,75%, sementara pembangkit berbasis batu bara justru meningkat 9,49% menjadi 463.995,61 juta unit (MU).
Pada Juli saja, produksi listrik batu bara naik sekitar 13% secara tahunan, menunjukkan bagaimana pembangkit termal harus bekerja lebih keras ketika produksi hidro melemah.
Zimbabwe Mulai Pulih, Tapi Risiko Belum Hilang
Zimbabwe menjadi contoh bagaimana kekeringan berkepanjangan dapat menekan sistem listrik yang bergantung besar pada tenaga air. Krisis air di Danau Kariba pada 2024-2025 sempat memangkas produksi PLTA dan memicu pemadaman listrik berkepanjangan.
Memasuki 2026, kondisinya mulai membaik.
Data Zambezi River Authority menunjukkan usable storage atau ketersediaan air yang dapat digunakan untuk pembangkitan listrik Danau Kariba mencapai 43% pada 31 Agustus 2026, naik dari hanya 19,59% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan tersebut ikut mendorong produksi Kariba South Power Station menjadi sekitar 520 MW pada Juni 2026, dibandingkan 400 MW pada periode yang sama 2025.
Meski demikian, level air Kariba kembali menurun setelah mencapai puncak sekitar 48,55% pada akhir Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan pembangkit listrik tenaga air terhadap pola curah hujan dan ketersediaan air, terutama ketika periode kering berlangsung panjang.
Indonesia Juga Punya Risiko
Indonesia memang tidak terlalu bergantung pada PLTA seperti beberapa negara lain. Namun, tenaga air tetap penting dalam bauran energi nasional. Kapasitas PLTA Indonesia mencapai sekitar 7.587 MW pada akhir 2025, menjadikannya salah satu sumber pembangkit EBT nasional yang signifikan. Dalam RUPTL PLN 2025-2034, pemerintah juga menargetkan tambahan pembangkit hidro sekitar 11,7 GW.
Risikonya sudah terlihat di PLTA Saguling, Jawa Barat.
Petugas bekerja di area PLTA Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, Rabu (11/11/2021). PLTA Saguling POMU berperan penting dalam sistem kelistrikan Jawa Bali. Berkapasitas 700,72 Mega Watt (MW), PLTA Saguling berkontribusi sebesar 2,5 persen dari sistem Jawa-Bali yang memiliki total kapasitas 27.700 MW. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: PLTA Saguling (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) |
Penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan El Niño 2015 menurunkan curah hujan sekitar 50% pada Juni-Oktober. Pada saat yang sama, inflow ke Waduk Saguling turun sekitar 60% pada Juli-September. Debit air bahkan hanya sekitar 20-30 meter kubik per detik, sehingga produksi listrik ikut tertekan.
(slm/slm)

