MARKET DATA

Iran Terjepit: Ekspor-Impor Anjlok 35%, AS Mulai Putus Jalur Dolar

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
31 August 2026 20:40
Mau Perang Lawan Israel, Ternyata Begini Kekuatan Militer Iran
Foto: Infografis/ Mau Perang Lawan Israel, Ternyata Begini Kekuatan Militer Iran / Aristya rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Iran semakin tertekan akibat sanksi Amerika Serikat (AS) dan terganggunya jalur perdagangan akibat konflik dengan Amerika Serikat (AS). Ekspor dan impor negara tersebut turun tajam, sementara Washington mulai memperluas tekanan hingga ke lembaga keuangan di negara lain yang diduga membantu transaksi Teheran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan ekspor dan impor negaranya turun sekitar 25% hingga 35%. Penurunan impor tercatat lebih dalam dibandingkan ekspor.

Menurut Pezeshkian, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sanksi tetap memberikan dampak nyata terhadap perekonomian Iran.

"Mengatakan bahwa sanksi sama sekali tidak berdampak tidak sesuai dengan fakta," kata Pezeshkian dalam wawancara dengan televisi pemerintah, dikutip dari CNBC International.

Penurunan perdagangan terjadi ketika Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mendorong pemerintah memperkuat produksi dalam negeri dan secara bertahap mengurangi peran dolar AS dalam perekonomian.

"Sama pentingnya untuk memberikan perhatian khusus terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, secara bertahap mengurangi peran utama dolar AS, dan pada akhirnya menjadikan Resistance Economy sebagai fokus utama," kata Khamenei dalam pesan tertulisnya.

Resistance Economy merupakan strategi Iran untuk memperkuat produksi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap barang impor, serta menggunakan jalur perdagangan dan sistem pembayaran alternatif.

Dorongan mengurangi penggunaan dolar muncul ketika AS semakin aktif memakai dominasi mata uangnya untuk membatasi akses Iran terhadap sistem keuangan global.

Sayangnya, Pezeshkian tidak menjelaskan secara terperinci periode maupun basis perhitungan dari penurunan ekspor dan impor sebesar 25%-35% tersebut.

Merujuk Trading Economics yang bersumber dari Bank Sentral Iran, neraca perdagangan Iran terus mengalami defisit sejak kuartal IV-2022 hingga kuartal III-2025.

Defisit terbesar terjadi pada kuartal III-2024 sebesar US$6,01 miliar. Saat itu, ekspor Iran hanya mencapai US$12,24 miliar, sedangkan impor menembus US$18,25 miliar.

Defisit kemudian menyusut menjadi US$934 juta pada kuartal IV-2024. Memasuki 2025, defisit tercatat sebesar US$1,40 miliar pada kuartal pertama dan US$1,03 miliar pada kuartal kedua.

Pada kuartal III-2025, defisit kembali menyempit menjadi US$490 juta. Ekspor meningkat menjadi US$15,29 miliar, sementara impor tercatat sebesar US$15,78 miliar.

Iran Ingin Kurangi Ketergantungan Dolar

Penurunan perdagangan membuat Iran kembali mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS.

Iran sebenarnya telah menggunakan sejumlah cara alternatif, mulai dari pembayaran menggunakan mata uang yuan, pertukaran dalam mata uang lokal, perdagangan barter, hingga perusahaan perantara yang terdaftar di negara lain.

Namun, menghilangkan ketergantungan terhadap dolar bukanlah sebuah hal yang mudah mudah.

Sebagian besar perdagangan global, pembiayaan komoditas, dan transaksi antar negara masih bergantung pada penggunaan dolar. Bank-bank di luar AS juga umumnya memerlukan rekening pada lembaga keuangan Amerika untuk menyelesaikan transaksi dalam dolar.

Kondisi tersebut memberikan AS kekuatan. Sebuah bank tidak harus beroperasi di AS untuk terkena dampaknya.

Kehilangan akses terhadap rekening dapat membuat bank kesulitan memproses pembayaran internasional, membiayai perdagangan, dan melayani transaksi nasabah dalam dolar.

Jaringan keuangan bayangan Iran pun dibangun untuk melewati hambatan tersebut.

Menurut Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN), jaringan itu melibatkan tempat penukaran uang di Iran dan perusahaan perantara yang didirikan di negara lain, terutama Uni Emirat Arab (UEA) dan Hong Kong.

Perusahaan tersebut digunakan untuk menyamarkan pemilik dana, asal transaksi, serta penerima akhir uang hasil penjualan minyak dan komoditas Iran.

FinCEN memperkirakan sekitar US$9 miliar transaksi yang berpotensi berkaitan dengan jaringan perbankan bayangan Iran mengalir melalui rekening koresponden AS sepanjang 2024.

AS Ancam Putus Akses Dolar Banque Misr UAE

Di tengah dorongan Iran mengurangi ketergantungan terhadap dolar, AS mulai menyasar bank negara ketiga yang diduga membantu transaksi Iran.

Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) mengusulkan penetapan Banque Misr UAE sebagai lembaga keuangan yang menjadi pantauan dalam tindak pencucian uang atau primary money laundering concern.

FinCEN memperkirakan lima cabang Banque Misr di Uni Emirat Arab memproses sekitar US$1,8 miliar untuk 103 perusahaan yang berpotensi terhubung dengan jaringan perbankan bayangan Iran sepanjang Januari 2024 hingga Juni 2026. Sekitar US$520 juta diproses dalam 12 bulan terakhir pada periode tersebut.

Di antara perusahaan yang disorot adalah Alpa Trading FZCO dengan transaksi lebih dari US$32 juta, Naba Alzaki Raw Materials Trading LLC sebesar US$29 juta, serta Midas Oil Trading DMCC lebih dari US$1 juta. Perusahaan-perusahaan itu diduga berkaitan dengan Kementerian Pertahanan Iran, Korps Garda Revolusi Iran, dan jaringan keuangan Mojtaba Khamenei.

Banque Misr merupakan bank milik pemerintah Mesir dan bank terbesar kedua di negara tersebut. Namun, tindakan AS hanya menyasar lima cabangnya di UEA, sedangkan kantor pusat di Kairo dan operasinya di negara lain tidak termasuk.

Langkah ini menjadi penggunaan pertama Section 311 terhadap bank negara ketiga dalam Operation Economic Outcast yang diluncurkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 24 Agustus 2026.

Tindakan tersebut berbeda dengan sanksi konvensional karena tidak membekukan aset Banque Misr UAE. FinCEN mengusulkan agar bank itu diputus dari rekening koresponden di AS, baik secara langsung maupun melalui bank asing lain.

Banque Misr UAE saat ini memiliki tiga hubungan koresponden langsung dengan lembaga keuangan AS. Seluruh jalur tersebut dapat ditutup jika usulan disahkan setelah melewati masa tanggapan publik selama 30 hari.

Kehilangan akses dolar berpotensi mengganggu pembayaran internasional dan pembiayaan perdagangan bank tersebut. Banque Misr UAE memiliki aset 23,4 miliar dirham atau sekitar US$6,4 miliar, dengan rasio kecukupan modal sebesar 24,7%.

Bank Sentral UEA telah memulai pemeriksaan terhadap transaksi Banque Misr pada periode yang disorot FinCEN. Otoritas UEA dan Mesir juga menyatakan tengah berkoordinasi, sementara Banque Misr memastikan layanan perbankannya masih berjalan normal.

Sejauh ini, AS belum menyasar bank-bank besar China yang terlibat dalam pembiayaan perdagangan Iran. Tindakan terhadap Banque Misr UAE menjadi peringatan bagi bank negara lain mengenai risiko kehilangan akses dolar apabila tetap memfasilitasi jaringan Iran.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular