MARKET DATA

Benarkah Bumi Makin Sering Dihantam Monster Gempa? Ini Faktanya

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
31 August 2026 17:10
Gempa Lombok
Foto: Edward Ricardo

Jakarta,CNBC Indonesia - Rentetan gempa besar yang terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia, kembali memunculkan pertanyaan: apakah gempa bumi kini semakin sering terjadi?

Dalam tiga bulan terakhir, beberapa gempa besar terjadi di dekat pusat-pusat populasi di berbagai negara dan menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat maupun infrastruktur:

  • Filipina (magnitudo 7,8)
  • Indonesia (M7,7)
  • Venezuela (M7,5 dan M7,2)
  • Kolombia (M7,4)
  • Jepang (M6,8)

Selain itu, gempa berkekuatan menengah juga terjadi di Pulau Hawai (M6,0) dan Granada, Spanyol (M5,2), yang menyebabkan kerusakan ringan hingga sedang.

Apakah kondisi ini tidak biasa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu melihat datanya.

Tingkat Kejadian Gempa

Bumi merupakan planet yang dinamis dan gempa selalu terjadi di suatu tempat. Sebagian besar gempa terlalu kecil atau terjadi terlalu jauh untuk dirasakan, sehingga luput dari perhatian banyak orang.

Namun, secara rata-rata, gempa besar dengan magnitudo di atas 6,5 terjadi di suatu tempat di dunia sekitar setiap delapan hari sekali. Artinya, dalam satu tahun biasanya terjadi sekitar 46 gempa bumi dengan magnitudo 6,5 atau lebih besar.

Sejak 1950, tercatat 3.126 gempa bumi dengan magnitudo di atas M6,5. Gempa yang terjadi pada 2026 ditandai dengan warna kuning.Sejak 1950, tercatat 3.126 gempa bumi dengan magnitudo di atas M6,5. Gempa yang terjadi pada 2026 ditandai dengan warna kuning. Foto: The Conversation ; USGS

Per 21 Agustus, tercatat 26 gempa bumi berkekuatan M6,5 atau lebih sepanjang 2026, yang ditampilkan sebagai titik kuning pada peta global di atas. Secara statistik, jumlah gempa M6,5 atau lebih besar sepanjang tahun ini diperkirakan akan sedikit lebih rendah dari rata-rata.

Jumlah tersebut juga sedikit di bawah frekuensi tahunan selama 40 tahun terakhir, yang ditunjukkan oleh garis putus-putus pada grafik.

Grafik menunjukkan jumlah gempa berkekuatan M6,5 atau lebih besar setiap tahun sejak 1985. Rata-rata tahunan berada di kisaran 45,8 gempa.Grafik menunjukkan jumlah gempa berkekuatan M6,5 atau lebih besar setiap tahun sejak 1985. Rata-rata tahunan berada di kisaran 45,8 gempa. Foto: The Conversation ; USGS

Mengapa Gempa Terkonsentrasi di Zona Tertentu?

Gempa bumi umumnya terkonsentrasi di sepanjang batas lempeng tektonik dan dipicu oleh pergerakan lempeng-lempeng tersebut.

Wilayah di sekitar batas lempeng memiliki risiko seismik yang lebih tinggi.

Contohnya berada di sekitar Sesar San Andreas di California, Sesar Alpine di Selandia Baru, kawasan Karibia bagian selatan, hingga sepanjang tepi Lempeng Pasifik yang dikenal sebagai Ring of Fire atau Cincin Api. Kawasan ini juga memiliki risiko geologi lain, termasuk aktivitas gunung api.

Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah data dari instrumen tersebut meningkat drastis. Teknologi dan metodologi baru juga dikembangkan untuk mendeteksi, menentukan lokasi, dan mempelajari gempa dengan lebih akurat.

Namun, lebih banyak data bukan berarti jumlah gempa semakin banyak. Rata-rata jumlah gempa besar dalam katalog tetap relatif konstan. Hal ini juga menunjukkan bahwa peningkatan jumlah gempa yang terdeteksi terutama berasal dari kemampuan pemantauan yang semakin baik, bukan karena bumi mengalami lebih banyak gempa besar.

Lalu Kenapa Gempa Besar Terasa Makin Sering

Gempa besar sebenarnya cukup sering terjadi. Namun, sebagian besar tidak terjadi dekat pusat populasi sehingga luput dari perhatian banyak orang. Rangkaian gempa yang terjadi belakangan ini bukan luar biasa dari sisi jumlah. Peristiwa tersebut terasa lebih menonjol karena berdampak langsung pada masyarakat dan permukiman.

Bahkan, jumlah gempa yang menyebabkan kerusakan besar juga relatif stabil dari waktu ke waktu.

Grafik menunjukkan jumlah gempa yang menyebabkan sedikitnya 100 kematian sejak 1985. Meski berfluktuasi dari tahun ke tahun, rata-rata kejadian tercatat sekitar 2,6 gempa per tahun.Grafik menunjukkan jumlah gempa yang menyebabkan sedikitnya 100 kematian sejak 1985. Meski berfluktuasi dari tahun ke tahun, rata-rata kejadian tercatat sekitar 2,6 gempa per tahun. Foto: The Conversation, NOAA

Meski demikian, besarnya kerusakan dan dampak terhadap masyarakat membuat gempa-gempa tersebut mendapat sorotan luas dari media. Kombinasi antara dampak, visibilitas, dan kedekatan waktu dapat memicu bias persepsi, sehingga gempa seolah-olah terasa semakin sering terjadi.

Dua bias yang sering muncul adalah recency bias dan frequency illusion. Recency bias terjadi ketika seseorang memberi bobot lebih besar pada peristiwa yang baru terjadi dibandingkan informasi yang lebih lama.

Sementara itu, frequency illusion atau fenomena Baader-Meinhof terjadi ketika seseorang merasa suatu fenomena muncul lebih sering setelah mulai menyadarinya.

Karena itu, ketika beberapa gempa besar mendominasi pemberitaan dalam waktu berdekatan, masyarakat bisa merasa frekuensi gempa meningkat. Padahal, data jangka panjang menunjukkan jumlahnya relatif stabil.

Faktanya, dari 26 gempa berkekuatan di atas M6,5 sepanjang tahun ini, hanya sebagian kecil yang mendapat perhatian luas di media. Pola pemberitaan juga dipengaruhi lokasi, karena gempa di suatu kawasan cenderung lebih banyak diberitakan oleh media di wilayah yang sama.

Gempa Tak Meningkat, Tapi Kesiapsiagaan Tetap Penting

Meski belum ada bukti bahwa jumlah gempa destruktif terus meningkat, rangkaian gempa belakangan ini tetap menjadi pengingat penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa.

Kesiapsiagaan perlu dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat. Memahami risiko seismik, memastikan bangunan dirancang tahan gempa, serta meningkatkan kesiapan publik dapat membantu mengurangi risiko dan mencegah bencana alam berkembang menjadi bencana besar.

Sejumlah negara telah memiliki program khusus. Di Selandia Baru, program AF8 menggabungkan pemodelan ilmiah, perencanaan respons, dan keterlibatan masyarakat untuk menghadapi potensi gempa di Sesar Alpine. California juga menyediakan berbagai panduan kesiapsiagaan gempa bagi masyarakat.

Berbagai panduan serupa tersedia di banyak negara dan dapat disesuaikan dengan tingkat risiko masing-masing wilayah. Bagi Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa persoalan utamanya bukan apakah gempa semakin sering terjadi. Sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire, tantangan terbesar justru terletak pada kesiapsiagaan masyarakat, ketahanan infrastruktur, dan mitigasi risiko ketika gempa terjadi.

(slm/slm)



Most Popular