Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melemah pada perdagangan Jumat pekan lalu tetapi masih mampu mencatatkan kinerja positif dalam sepekan. Indeks melemah menyusul pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyampaikan kekhawatirannya terhadap tren inflasi saat ini.
Indeks S&P turun 0,25% dan ditutup di level 7.711,76. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 0,52% ke level 26.402,42, tertekan oleh penurunan saham-saham semikonduktor seperti Nvidia dan Intel.
Adapun Dow Jones Industrial Average turun 9,45 poin atau 0,02% dan berakhir di level 53.559,99.
Secara mingguan, S&P 500 masih menguat 0,5%, sedangkan Nasdaq naik 0,9% pada pekan lalu. Dow Jones juga menguat 0,5% sepanjang pekan, sekaligus mencatat pekan positif pertamanya dalam tiga pekan terakhir.
Dalam pidatonya pada simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, Warsh mengatakan data inflasi PCE dan CPI pada musim panas ini memang lebih baik dari perkiraan. Namun, menurut dia, data tersebut belum menunjukkan perbaikan yang berarti pada tren inflasi yang mendasarinya.
"Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami dengan jelas dan dalam kecepatan yang memadai. Jika tidak, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Warsh, dikutip dari CNBC International.
Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang pelaku pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September meningkat menjadi 57,5% pada Jumat. Angka tersebut melonjak dari 35,4% sehari sebelumnya.
Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau Treasury pada tenor pendek juga langsung naik setelah pidato Warsh. Sementara itu, yield tenor panjang, yang berkaitan erat dengan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi dan belakangan menjadi perhatian pasar, relatif datar.
Namun, hingga akhir perdagangan, kenaikan yield tenor pendek tersebut mulai mereda dari level tertingginya.
Bill Birmingham, Managing Director REX Financial, menilai pidato Warsh memberikan pesan yang sangat kuat kepada pasar sekaligus menunjukkan bahwa The Fed mungkin perlu memperketat kembali pendekatannya terhadap kebijakan moneter.
Menurut Birmingham, komentar Warsh mengenai komponen indeks harga konsumen (CPI) juga mengindikasikan bahwa sang pejabat The Fed tengah mencari konsensus internal untuk menaikkan suku bunga.
Di luar isu suku bunga, investor juga mencermati sejumlah laporan keuangan perusahaan.
Saham Gap melonjak sekitar 13% meski laporan keuangannya beragam. Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan ritel itu mengumumkan CEO baru untuk merek Old Navy yang tengah menghadapi tekanan.
Sebaliknya, saham Marvell Technology anjlok lebih dari 10% setelah perusahaan memberikan proyeksi margin kotor non-GAAP untuk kuartal berjalan yang mengecewakan ekspektasi pasar.
Pergerakan pasar keuangan pekan ini akan dibayangi sejumlah pengumuman dan rilis data penting, mulai dari rebalancing MSCI, pengumuman inflasi hingga PMI manufaktur.
Pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole juga diperkirakan masih berdampak ke pasar keuangan dalam negeri. Warsh berpidato pada Jumat malam sehingga investor belum menyerap dampaknya karena pasar keuangan sudah tutup.
Berikut sejumlah sentimen yang akan menggerakkan pasar keuangan Indonesia hari ini dan sepekan ke depan:
1. Perkembangan Perang: AS Serang Peluncur Roket Iran di Dekat Selat Hormuz
Pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, Minggu (30/8/2026). Serangan dilakukan setelah pasukan AS mendeteksi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tengah menyiapkan roket yang membawa ranjau laut untuk ditembakkan ke Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan tersebut kepada MS NOW.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa pasukan AS hari ini menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak. Pasukan IRGC terlihat sedang mempersiapkan peluncuran roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz," kata juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins.
Menurut Hawkins, CENTCOM pada pekan lalu telah menyelesaikan operasi pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
"Pasukan AS terus memantau kawasan tersebut dengan ketat dan tetap siap melindungi kelancaran arus perdagangan melalui jalur perairan penting ini," ujarnya.
Serangan pada Minggu menjadi serangan AS terhadap posisi Iran yang pertama kali diakui secara terbuka sejak akhir Juli, menurut laporan Associated Press (AP).
Perang antara AS dan Iran kini telah memasuki bulan keenam. Konflik tersebut telah mengganggu lalu lintas kapal secara signifikan di Selat Hormuz, salah satu jalur paling strategis bagi pengiriman energi dunia.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengiriman energi sekaligus memicu gejolak harga komoditas dan inflasi global.
IRGC mengakui adanya serangan tersebut dan melaporkan sejumlah korban. Garda Revolusi Iran juga menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan AS, menurut AP.
Di tengah eskalasi konflik, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan negara-negara Muslim, khususnya negara-negara Teluk, untuk bersatu menghadapi apa yang disebutnya sebagai "musuh sebenarnya".
Pesan tersebut disampaikan melalui akun Telegram Khamenei dalam rangka Pekan Persatuan Islam, yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
Khamenei menyerukan persatuan, kerja sama di berbagai bidang, serta pertahanan bersama. Ia memperingatkan bahwa pihak yang menciptakan perpecahan di antara umat Muslim, baik secara sadar maupun tidak, justru membantu kepentingan musuh-musuh Islam.
Ia bahkan mempertanyakan apakah rakyat Palestina akan berada dalam kondisi "tidak berdaya" seperti sekarang jika negara-negara Muslim bersatu.
Khamenei juga secara khusus menyampaikan pesan kepada para penguasa negara Arab di kawasan Teluk.
Ia mempertanyakan apakah pihak yang disebutnya sebagai "perusuh tanpa identitas" akan berani mengincar wilayah dan kekayaan negara-negara Teluk jika masyarakat dan pemerintah kawasan tersebut bersatu "di bawah panji Islam".
Sejak Revolusi Islam 1979, negara-negara monarki Arab di Teluk memandang ideologi revolusioner Iran sebagai ancaman terhadap sistem politik mereka. Kekhawatiran tersebut mencakup retorika anti-monarki serta meningkatnya pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Dalam konflik saat ini, Iran telah menyerang fasilitas militer AS serta sejumlah infrastruktur di negara-negara Teluk. Kondisi tersebut semakin memperuncing hubungan antara Teheran dan negara-negara tetangganya.
"Rekomendasi saya yang tegas dan berulang kali kepada para penguasa negara-negara Islam, terutama negara-negara Asia Barat dan Teluk, adalah kenali musuh sebenarnya, pahami rencananya dan hadapi mereka," kata Khamenei.
2. Warsh Beri Sinyal Hawkish, Bunga The Fed Bisa Naik Lagi
Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pidatonya di Jackson Hole, Jumat (28/8/2026), memberikan sinyal lebih jelas soal arah kebijakan moneter. Warsh memberikan sinyal yang lebih hawkish. Ia nyaris secara terang-terangan mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga bisa kembali dipertimbangkan jika inflasi tidak kunjung mereda.
Warsh menegaskan inflasi AS masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Inflasi pengeluaran pribadi konsumen AS (PCE) di Juli 2026 mencapai 3,7%, sementara Indeks Harga Konsumen (CPI) berada di 3,4%.
Menurut Warsh, sekitar 54% komponen PCE mencatat inflasi di atas 3% dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga masih terlalu tinggi.
Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode lonjakan inflasi akibat pandemi. Namun, menurut Warsh, level tersebut masih berada di atas tren jangka panjang.
Artinya, ancaman kenaikan suku bunga kembali terbuka
"Inflasi masih berada di atas target 2% kami," kata Warsh, dikutip dari CNBC International.
Meski belum memberikan kepastian soal keputusan September, Warsh menegaskan suku bunga jangka pendek tetap menjadi alat utama The Fed untuk menjalankan mandatnya.
Pesannya juga berseberangan dengan Presiden Donald Trump yang terus mendorong pemangkasan bunga.
Trump ingin bunga turun, sementara Warsh justru membuka pintu kenaikan bunga.
Selain inflasi, Warsh menyebut perkembangan AI belum menjadi alasan utama untuk mengubah kebijakan moneter. Dengan demikian, rapat The Fed September menjadi pertaruhan berikutnya bagi pasar.
Warsh juga memberikan pembacaan ekonomi yang lebih hawkish dibandingkan saat konferensi pers Juli. Menurutnya, tingginya harga harus menjadi fokus utama The Fed. Ia juga menilai kondisi keuangan secara keseluruhan belum cukup ketat, berbeda dari pernyataannya sebelumnya yang menyebut kondisi tersebut tidak merata.
Meski demikian, Warsh menegaskan bahwa kebijakan komunikasinya yang cenderung ambigu tetap akan dipertahankan.
"Kami dapat dimintai pertanggungjawaban untuk menjalankan mandat kami-dan itu merupakan satu-satunya ujian nyata terhadap kredibilitas kami," kata Warsh.
The Fed baru akan kembali menggelar rapat kebijakan pada pertengahan September. Warsh memang tidak secara eksplisit mengatakan apakah suku bunga akan dinaikkan. Namun, pidatonya menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap ancaman inflasi.
Warsh juga menyoroti indikator lain, yakni Consumer Price Index (CPI), yang saat ini berada di 3,4%.
"Tidak ada satu pun ukuran yang sempurna, tetapi semuanya menceritakan kisah yang sama: inflasi masih berada di atas target 2% kami," tegasnya.
"Sebagian besar kolega saya dan saya berpandangan bahwa langkah yang lebih bijaksana adalah menunggu informasi baru selama periode antara rapat," ujarnya.
Namun, pidatonya kali ini menunjukkan bahwa kesabaran tersebut memiliki batas.
Warsh juga membantah anggapan bahwa dirinya enggan menggunakan suku bunga untuk memerangi inflasi.
3. Rebalancing MSCI
Pada perdagangan hari ini, Senin (31/8/2026) berpotensi diramaikan transaksi rebalancing MSCI. Perubahan indeks akan efektif mulai 1 September dan dieksekusi pada penutupan perdagangan.
Dalam evaluasi terbaru, PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) keluar dari MSCI Global Standard Index, sementara CPIN turun ke MSCI Small Cap. GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia IMI.
Transaksi investor asing menjadi perhatian karena penyesuaian portofolio dana yang mengikuti indeks MSCI berpotensi memicu lonjakan transaksi, terutama menjelang penutupan.
4. PMI Manufaktur Indonesia
Data PMI manufaktur Indonesia Agustus akan dirilis Selasa (1/9/2026). Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 50,2 pada Juli 2026. Angka ini merupakan perbaikan setelah PMI mencatat kontraksi pada Juni 2026 (46,9).
Investor dan dunia usaha menunggu data ini untuk melihat kemampuan industri pengolahan Indonesia menjelang kuartal IV-2026.
Konsensus memperkirakan indeks naik tipis ke 50,5, dari 50,2 pada Juli. Jika kembali berada di atas level 50, sektor manufaktur Indonesia berarti masih berada di zona ekspansi.
Pada Juli 2026, aktivitas produksi kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak Februari, seiring stabilnya pesanan baru dan membaiknya kepercayaan pelanggan.
Kenaikan PMI ditopang oleh meningkatnya volume produksi setelah empat bulan berturut-turut mengalami penurunan.
Meski pertumbuhannya masih terbatas, pelaku usaha melaporkan adanya perbaikan permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan.
Namun, lonjakan harga bahan baku masih menjadi penghambat pemulihan yang lebih kuat.
Sejalan dengan itu, pesanan baru (new orders) masih stabil setelah mengalami kontraksi tajam pada Juni 2026.
5. Inflasi Indonesia dan Neraca Dagang
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan dua data penting pada Selasa (1/9/2026) yakni inflasi Agustus 2026 dan neraca dagang Juli 2026. Data ini penting untuk mengukur komoditas pangan dan non-pangan mana yang mengalami lonjakan serta dampaknya ke Indonesia.
Pasar menanti rilis inflasi Indonesia Agustus 2026. Sebagai pembanding, Indonesia mencatat deflasi 0,14% secara bulanan pada Juli, dengan inflasi tahunan 2,88%.
Deflasi Juli terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan harga terjadi pada sejumlah komoditas, terutama bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan jeruk.
Melimpahnya pasokan menjadi salah satu pemicu. Produksi hortikultura meningkat di sejumlah sentra, seperti bawang merah di Malang, Brebes, dan Kendal, serta cabai merah di Kerinci, Kulon Progo, dan Simalungun.
Deflasi juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama akibat turunnya harga emas perhiasan.
Namun, tekanan inflasi masih datang dari beberapa kelompok, mulai dari pendidikan, transportasi, serta perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga.
BPS juga akan merilis data neraca dagang Juli 2026. Sebagai catatan, neraca dagang Indonesia membukukukan defisit sebesar US$ 450 juta di Juni 2026.
Kondisi itu disebabkan nilai ekspor yang sebesar US$ 25,46 miliar, sedangkan impor tercatat senilai US$ 25,91 miliar.
Publik kini menunggu apakah Indonesia akan mencatat deficit dalam tiga bulan beruntun di Juli 2026 atau bisa membalikkan arah menjadi surplus.
6. Data PMI manufaktur China dan ASEAN
Pelaku pasar akan mencermati rilis RatingDog Manufacturing PMI China yang akan dirilis pada Selasa (1/9/2026). Indeks manufaktur Negeri Tirai Bambu diperkirakan naik ke 51,2, dari sebelumnya 50,9 pada bulan sebelumnya.
Meski aktivitas manufaktur China masih tumbuh, sejumlah sinyal perlambatan mulai terlihat. Pada Juni lalu, produksi dan pesanan baru masih meningkat, tetapi pesanan ekspor melemah. Optimisme pelaku usaha juga mulai menurun, menandakan pemulihan industri China belum sepenuhnya solid."
Data ini menjadi perhatian besar bagi Indonesia mengingat China merupakan pasar utama berbagai komoditas ekspor, mulai dari batu bara, nikel, tembaga hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Jika PMI China melampaui ekspektasi, sentimen terhadap saham-saham komoditas berpotensi menguat. Sebaliknya, jika angka PMI turun tajam atau bahkan mendekati zona kontraksi, kekhawatiran terhadap permintaan komoditas global dapat kembali membayangi pasar.
Bagi investor, data manufaktur China hari ini bisa menjadi salah satu penentu arah perdagangan saham komoditas dan pergerakan pasar Asia pada pekan depan.
Selai itu, S&P Global juga akan merilis data PMI Manufaktur ASEAN pada Selasa (1/9/2026). Data ini bisa menjadi barometer seberapa tangguh manufaktur ASEAN hingga Agustus 2026.
7. ISM Manufacturing AS
Pasar global menanti rilis ISM Manufacturing PMI AS periode Agustus 2026 pada Selasa malam waktu Indonesia. Indeks manufaktur tersebut diperkirakan turun ke 55,3, dari 55,6, menandakan sektor industri sedikit lesu, tetapi masih ekspansif.
Selain angka utama, pasar juga akan melihat komponen pesanan baru, tenaga kerja, dan harga untuk membaca arah ekonomi serta inflasi AS ke depan.
8. Data JOLTs AS
Pelaku pasar akan mencermati rilis lowongan kerja JOLTs Job Openings AS periode Agustus 2026 pada Selasa malam waktu Indonesia (1/9/2026)
Jumlah lowongan kerja diperkirakan sedikit naik menjadi 7,39 juta, dari 7,36 juta pada bulan sebelumnya.
Jika benar data tersebut mengalami kenaikan, maka hal ini menandakan permintaan tenaga kerja AS sejauh ini makin kuat. Pada Juni lalu, jumlah perekrutan naik sedikit di sekitar 5,3 juta, sementara pekerja yang mengundurkan diri stabil di 3,2 juta.
Data JOLTs menjadi perhatian karena merupakan petunjuk awal kondisi pasar tenaga kerja menjelang rilis nonfarm payrolls pada akhir pekan. Jika kenaikan lowongan kerja terjadi, peluang pelonggaran kebijakan The Fed bisa semakin menurun dan potensi pengetatan semakin terjadi
Hasil data ini berpotensi menjadi penggerak utama dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan sentimen pasar global dalam beberapa hari ke depan.
9. Non-Farm Payrolls (NFP) dan Data Pengangguran AS
Perhatian pelaku pasar dunia juga akan tertuju pada rilis nonfarm payrolls (NFP) Agustus, tingkat pengangguran Agustus, dan pertumbuhan upah AS pada Jumat (4/9/2026). Data ini menjadi indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Konsensus memperkirakan tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 4,2% pada Agustus 2026. Sedangkan konsensus memperkirakan NFP AS pada Agustus 2026 mencapai 45.000, dari sebelumnya berkurang 23.000.
Pasar akan melihat kualitas pasar tenaga kerja melalui tingkat partisipasi dan pertumbuhan upah. Data yang kuat dapat memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi ini berpotensi memberi tekanan pada rupiah dan IHSG.
Sebaliknya, perlambatan pasar tenaga kerja yang terukur dapat menjadi kabar baik bagi aset berisiko karena membuka peluang pelonggaran kebijakan The Fed. Namun, jika data terlalu lemah, pasar justru bisa kembali dihantui kekhawatiran perlambatan ekonomi hingga resesi di AS.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS kembali sedikit memanas, tetapi belum cukup lemah untuk menghilangkan kekhawatiran inflasi dan mengubah arah kebijakan The Fed secara drastis.
Agenda ekonomi hari Ini:
-
Konferensi Pers Kepala Staf Kepresidenan terkait pengesahan program studi baru PPDS di RSPPU Tahap I Tahun 2016 di Kantor Staf Presiden, Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
-
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat.
-
Lembaga Pengkajian Pengembangan Perumahan dan Perkotaan Indonesia menggelar diskusi lintas sejarah perumahan rakyat dalam rangka Hari Perumahan Nasional 2026 di Jakarta. Turut hadir antara lain Kepala BP Taskin.
-
Konferensi Pers Pemaparan Kinerja BRI Triwulan II Tahun 2026
-
Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I 2026 di Grha AAJI, Jakarta Selatan
- China akan merilis data NBS Manufacturing untuk Agustus 2026
Agenda korporasi hari ini:
RUPS PT Soho Global Health Tbk
RUPS PT Sinar Terang Mandiri Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Triputra Agro Persada Tbk.
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk.
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk
Jatuh Tempo Surat Berharga Negara seri SURAT PERBENDAHARAAN NEGARA SERI SPN03260831
Indikator ekonomi Indonesia