RI Bersiap! Pengumuman MSCI, Inflasi-Kondisi Manufaktur Jadi Sorotan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar keuangan dalam negeri pada pekan depan akan dipengaruhi oleh rilis beberapa data ekonomi seperti data inflasi Indonesia dan data PMI manufaktur periode Agustus 2026. Selain itu, periode efektif pengocokan ulang (rebalancing) indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga menjadi sentimen pasar.
Selain dari dalam negeri, rilis data global juga akan menjadi sentimen pasar pekan depan, seperti PMI manufaktur China dan rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Berikut sentimen pekan depan
1. Inflasi Indonesia Periode Agustus 2026
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Adapun, inflasi tahun kalender menjadi 1,65%, dan inflasi tahunan sebesar 2,88%.
Tekanan deflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih rendah dibanding kondisi Juni 2026 yang mengalami inflasi 0,44% mtm.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan pendorong deflasi yakni makanan, minuman, tembakau dengan deflasi 0,89% dan kelompok tersebut andil deflasi 0,26%
"Adapun kelompok pengeluaran pendorong deflasi terutama makanan, minuman, tembakau dengan deflasi 0,89% dan kelompok tersebut andil deflasi 0,26%," kata Ateng, Senin (3/8/2026) lalu.
Ateng menjelaskan komoditas dominan mendorong deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan rawit andil 0,06%, telur ayam ras dan tomat andil 0,03%, jeruk andil deflasi 0,02%.
Selain itu, juga kelompok perawatan pribadi memberikan andil deflasi 0,06%. Deflasi perawatan pribadi dan jasa lainnya didorong emas dan perhiasan 3,58% dan andil deflasi 0,08%
Di sisi lain, kelompok transportasi dan pendidikan mengalami inflasi signifikan pada Juli 2026. Kelompok transportasi inflasi 0,52% dan andil inflasi 0,06%.
"Komoditas dominan kelompok transportasi bensin andil 0,08%, sepeda motor dan oli mesin andil 0,01%," paparnya.
Sementara itu, konsensus pasar memperkirakan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,13% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedangkan secara bulanan, pasar memperkirakan Indonesia masih akan mengalami deflasi yakni sebesar 0,2%.
2. Periode Efektif Rebalancing MSCI
Pelaku pasar perlu bersiap menghadapi potensi lonjakan transaksi pada perdagangan Senin (31/8/2026) besok. Hari tersebut menjadi kesempatan terakhir bagi pengelola dana untuk menyesuaikan portofolio sebelum susunan terbaru indeks MSCI efektif berlaku pada 1 September 2026.
Dalam evaluasi Agustus 2026, tidak ada saham Indonesia yang berhasil masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, dua saham harus meninggalkan indeks tersebut, yakni PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Nasib keduanya sedikit berbeda. CPIN diturunkan ke MSCI Small Cap Index sehingga masih menjadi bagian dari keluarga indeks MSCI. Sementara itu, GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index atau IMI dengan perlakuan harga khusus.
MSCI menyatakan seluruh perubahan hasil evaluasi Agustus akan diimplementasikan pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Artinya, potensi transaksi rebalancing terbesar kemungkinan terkonsentrasi pada sesi penutupan Senin.
Keluarnya saham dari MSCI penting diperhatikan karena indeks ini digunakan sebagai acuan oleh berbagai pengelola dana global. Produk investasi pasif yang mengikuti MSCI biasanya harus menyesuaikan kepemilikannya agar komposisi portofolio tetap mendekati susunan indeks terbaru.
Penyesuaian tersebut dapat menciptakan tekanan jual pada saham yang dikeluarkan. Sebaliknya, saham yang masuk atau memperoleh kenaikan bobot berpotensi mendapatkan aliran dana masuk.
Sejak hasil evaluasi diumumkan pada Kamis (13/8/2026), pergerakan dana asing di Bursa Efek Indonesia masih cukup fluktuatif. Asing sempat mencatat penjualan besar pada dua hari pertama, tetapi kembali melakukan pembelian pada beberapa perdagangan berikutnya.
Secara kumulatif, investor asing masih membukukan pembelian bersih sekitar Rp590,58 miliar sejak 13 Agustus hingga penutupan 27 Agustus. Jika transaksi sesi pertama Jumat, 28 Agustus, ikut dihitung, nilai net buy kumulatif tersebut berkurang menjadi sekitar Rp465,50 miliar.
Data ini menunjukkan bahwa sampai menjelang akhir periode rebalancing belum terlihat outflow besar secara kumulatif. Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan terjadinya lonjakan penjualan pada hari terakhir.
Pengelola dana pasif tidak selalu langsung melakukan seluruh penyesuaian setelah pengumuman perubahan indeks. Sebagian transaksi dapat dilakukan mendekati harga penutupan pada hari implementasi agar selisih kinerja portofolio dengan indeks acuannya tetap kecil.
3. Data PMI manufaktur Indonesia
Selain data inflasi, pasar juga perlu memperhatikan rilis data Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur periode Agustus 2026 yang akan dirilis oleh S&P 500 pada Selasa (1/9/2026).
Sebelumnya pada Juli 2026, tercatat PMI manufaktur Indonesia melonjak ke level 50,2, dari posisi di bulan Juni 2026 yang ada di level 46,9. Dari fase kontraksik, manufaktur Indonesia berhasil merangkak ke fase ekspansi, ditunjukkan terlampauinya batas level 50.
Perbaikan kinerja manufaktur ditopang oleh meningkatnya produksi serta penambahan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan.
Meski demikian, pemulihan permintaan dinilai masih berlangsung secara bertahap sehingga penguatan sektor manufaktur tetap membutuhkan dukungan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri, dan keberlanjutan permintaan ekspor.
Kinerja manufaktur Indonesia juga sejalan dengan perbaikan yang terjadi di sejumlah negara mitra dagang utama. PMI manufaktur Thailand tercatat di level 54,2, Jepang 54,5, Amerika Serikat 53,8, Vietnam 52,9, dan Malaysia 50,7 pada Juli 2026.
Pada periode Agustus 2026, PMI manufaktur Indonesia diprediksi sedikit meningkat. Konsensus pasar memperkirakan PMI manufaktur Indonesia pada Agustus berada di angka 50,5.
4. Data PMI manufaktur China
Pelaku pasar akan mencermati rilis RatingDog Manufacturing PMI China yang akan dirilis pada Selasa mendatang. Indeks manufaktur Negeri Tirai Bambu diperkirakan naik ke 51,2, dari sebelumnya 50,9 pada bulan sebelumnya.
Meski aktivitas manufaktur China masih tumbuh, sejumlah sinyal perlambatan mulai terlihat. Pada Juni lalu, produksi dan pesanan baru masih meningkat, tetapi pesanan ekspor melemah. Optimisme pelaku usaha juga mulai menurun, menandakan pemulihan industri China belum sepenuhnya solid."
Data ini menjadi perhatian besar bagi Indonesia mengingat China merupakan pasar utama berbagai komoditas ekspor, mulai dari batu bara, nikel, tembaga hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Jika PMI China melampaui ekspektasi, sentimen terhadap saham-saham komoditas berpotensi menguat. Sebaliknya, jika angka PMI turun tajam atau bahkan mendekati zona kontraksi, kekhawatiran terhadap permintaan komoditas global dapat kembali membayangi pasar.
Bagi investor, data manufaktur China hari ini bisa menjadi salah satu penentu arah perdagangan saham komoditas dan pergerakan pasar Asia pada pekan depan.
5. ISM Manufacturing AS
Pasar global menanti rilis ISM Manufacturing PMI AS periode Agustus 2026 pada Selasa malam waktu Indonesia. Indeks manufaktur tersebut diperkirakan turun ke 55,3, dari 55,6, menandakan sektor industri sedikit lesu, tetapi masih ekspansif.
Selain angka utama, pasar juga akan melihat komponen pesanan baru, tenaga kerja, dan harga untuk membaca arah ekonomi serta inflasi AS ke depan.
6. Data JOLTs AS
Pelaku pasar akan mencermati rilis lowongan kerja JOLTs Job Openings AS periode Agustus 2026 pada Selasa malam waktu Indonesia.
Jumlah lowongan kerja diperkirakan sedikit naik menjadi 7,39 juta, dari 7,36 juta pada bulan sebelumnya.
Jika benar data tersebut mengalami kenaikan, maka hal ini menandakan permintaan tenaga kerja AS sejauh ini makin kuat. Pada Juni lalu, jumlah perekrutan naik sedikit di sekitar 5,3 juta, sementara pekerja yang mengundurkan diri stabil di 3,2 juta.
Data JOLTs menjadi perhatian karena merupakan petunjuk awal kondisi pasar tenaga kerja menjelang rilis nonfarm payrolls pada akhir pekan. Jika kenaikan lowongan kerja terjadi, peluang pelonggaran kebijakan The Fed bisa semakin menurun dan potensi pengetatan semakin terjadi
Hasil data ini berpotensi menjadi penggerak utama dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan sentimen pasar global dalam beberapa hari ke depan.
7. Non-Farm Payrolls (NFP) dan Data Pengangguran AS
Perhatian pelaku pasar dunia juga akan tertuju pada rilis nonfarm payrolls (NFP) Agustus, tingkat pengangguran Agustus, dan pertumbuhan upah AS pada Jumat (4/9/2026). Data ini menjadi indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Konsensus memperkirakan tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 4,2% pada Agustus 2026. Sedangkan konsensus memperkirakan NFP AS pada Agustus 2026 mencapai 45.000, dari sebelumnya berkurang 23.000.
Pasar akan melihat kualitas pasar tenaga kerja melalui tingkat partisipasi dan pertumbuhan upah. Data yang kuat dapat memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi ini berpotensi memberi tekanan pada rupiah dan IHSG.
Sebaliknya, perlambatan pasar tenaga kerja yang terukur dapat menjadi kabar baik bagi aset berisiko karena membuka peluang pelonggaran kebijakan The Fed. Namun, jika data terlalu lemah, pasar justru bisa kembali dihantui kekhawatiran perlambatan ekonomi hingga resesi di AS.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS kembali sedikit memanas, tetapi belum cukup lemah untuk menghilangkan kekhawatiran inflasi dan mengubah arah kebijakan The Fed secara drastis.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)