MARKET DATA
REVIEW SEPEKAN

Trump Mau Hancurkan Ekonomi Iran, Harga Minyak Ikut Terbang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 August 2026 10:30
minyak dunia
Foto: minyak dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak berlawanan pada perdagangan terakhir pekan ini. Minyak acuan Brent masih menguat, sementara untuk acuan West Texas Intermediate (WTI) melemah. Hal ini terjadi setelah Presiden Iran membuka peluang mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, harga kedua jenis minyak tersebut tetap melonjak sepanjang pekan. Ancaman sanksi ekonomi dari Presiden Donald Trump serta gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menjaga kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Melansir data Refinitiv, pada perdagangan Jumat (21/8/2026), harga minyak Brent ditutup menguat 0,65% ke posisi US$94,39 per barel. Sebaliknya, harga minyak WTI melemah 0,88% menjadi US$87,06 per barel.

Adapun dalam sepekan, harga minyak Brent melonjak hingga 6,63%, sedangkan WTI menguat 5,66%.

Pergerakan harga minyak pada akhir pekan dipengaruhi pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang memberi sinyal bahwa konflik dengan AS sebaiknya segera diakhiri.

"Akan lebih baik mengakhiri perang hari ini, ketika kita kuat dan memiliki martabat, serta seluruh dunia mengakui kemenangan kita," kata Pezeshkian.

Pernyataan tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap perang yang berkepanjangan. Namun, harapan terhadap penyelesaian konflik masih tertahan oleh ancaman Trump yang ingin meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Trump Ancam Hancurkan Ekonomi Iran

Pada Kamis lalu, Trump mengancam akan mengisolasi perekonomian Iran sekaligus menghukum negara-negara yang masih memberikan bantuan kepada Teheran.

Ia memperingatkan bahwa negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, maupun institusi pemerintahnya membantu Iran akan menghadapi konsekuensi besar dari Washington.

Pasar kini menantikan konferensi pers Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin pekan depan. Pemerintah AS diperkirakan akan menjelaskan rincian langkah untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran.

Ancaman tersebut menambah kekhawatiran bahwa perang tidak akan segera berakhir dan Selat Hormuz belum dapat kembali beroperasi normal.

Pada awal pekan ini, Trump juga mengatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan dengan Iran yang masa berlakunya segera berakhir.

Menteri Energi AS Chris Wright turut menyatakan Washington tengah menjalankan strategi jangka panjang terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat perkiraan bahwa AS belum berniat segera menurunkan ketegangan.

Situasi di kawasan juga semakin rumit setelah Israel kembali menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap kapal di Laut Merah, sementara sejumlah kapal juga dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Belum Pulih, Kapal Tanker Pilih Bergerak Diam-Diam

Belum ada perkembangan berarti menuju kesepakatan AS-Iran untuk membuka sepenuhnya Selat Hormuz. Juru bicara militer Iran sebelumnya menegaskan tidak ada kapal yang dapat melintasi jalur tersebut dengan aman tanpa izin dan pengawasan Teheran.

Iran juga membantah klaim Trump bahwa AS memegang kendali penuh atas selat yang menjadi salah satu jalur terpenting perdagangan minyak dunia.

Meski situasinya masih berbahaya, sejumlah negara Teluk tetap berupaya mengirim minyak melalui Selat Hormuz.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pengiriman minyak yang melintasi selat mencapai sekitar 9 juta barel per hari dalam periode tujuh hari terakhir. Jumlah tersebut lebih besar daripada perkiraan sebelumnya yang hanya sekitar 4 juta barel per hari.

Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg, Kpler, dan Vortexa menunjukkan Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, serta Kuwait masih mengirimkan minyak keluar dari Teluk Persia.

Sebagian kapal tanker disebut mematikan alat pemancar posisi atau transponder ketika melintasi jalur tersebut. Cara ini dikenal sebagai perjalanan gelap atau dark transit.

Kemampuan sejumlah negara mempertahankan pengiriman minyak membantu membatasi lonjakan harga. Namun, risiko serangan terhadap kapal tanker membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan yang lebih besar.

Pasokan Global Terancam, Cadangan Minyak Bisa Menyusut

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan kekurangan pasokan minyak dunia akan semakin besar akibat perang AS-Iran.

Dalam laporan bulanannya, IEA menyatakan persediaan minyak global pada kuartal III-2026 berpotensi menyusut dua kali lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Gangguan pengiriman dari Timur Tengah menjadi salah satu penyebabnya, meskipun tingginya harga minyak dan perang juga mulai menekan permintaan.

Ancaman terhadap pasokan tidak hanya datang dari Timur Tengah. Serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia turut menambah kekhawatiran pasar.

Sepanjang Juli, Ukraina tercatat menyerang kilang, kapal tanker, dan jaringan pipa minyak Rusia setidaknya 30 kali.

Menurut EA Analytics, rata-rata pengolahan minyak mentah Rusia pada Juli turun menjadi 3,51 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan yang terendah dalam 24 tahun.

Berdasarkan estimasi sumber sekunder yang dipublikasikan OPEC, produksi minyak Rusia juga turun menjadi 8,89 juta barel per hari pada Juli. Jumlah tersebut menjadi yang terendah dalam enam tahun.

Di sisi lain, OPEC+ berupaya menambah pasokan dengan menyetujui kenaikan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai September.

Tambahan tersebut menuntaskan pemulihan pemangkasan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari yang diterapkan sejak 2023. Setelah kenaikan pada September, kelompok produsen tersebut berencana mempertahankan produksi hingga akhir tahun.

Namun, upaya menambah pasokan berisiko menghadapi hambatan apabila konflik AS-Iran kembali meningkat dan mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular