Bukan Tangan, Ini Tulang Paling Sering Patah di Dunia, Jutaan Kasus
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 178 juta kasus patah tulang baru terjadi di dunia sepanjang 2019. Namun, risiko tersebut ternyata tidak tersebar merata di seluruh bagian tubuh.
Data Global Burden of Disease Study 2019 menunjukkan tungkai bawah menjadi bagian tubuh dengan kasus patah tulang terbanyak, mencapai 32,7 juta kasus dalam setahun.
Berikut bagian tubuh yang paling sering mengalami patah tulang berdasarkan estimasi kasus global pada 2019.
Tungkai bawah menempati posisi pertama dengan 32,7 juta kasus, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan lengan bawah yang mencapai 30,7 juta kasus.
Setelah itu, kasus turun cukup jauh. Kelompok selangka, bahu, dan lengan atas mencatat 19,3 juta kasus, disusul tangan dan pergelangan dengan 19 juta kasus.
Empat kelompok teratas tersebut seluruhnya berada pada anggota gerak dan jika digabungkan mencapai lebih dari 100 juta kasus baru dalam setahun.
Laki-laki Lebih Banyak Mengalami Fraktur
Di hampir seluruh kategori, jumlah kasus patah tulang pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Pada tungkai bawah, misalnya, laki-laki menyumbang 19,3 juta kasus, sementara perempuan 13,4 juta kasus.
Perbedaan lebih lebar terlihat pada tulang wajah. Kasus pada laki-laki mencapai 7,1 juta, lebih dari dua kali lipat dibandingkan perempuan yang berada di 3,5 juta kasus.
Hal serupa juga terlihat pada tengkorak. Sebanyak 5,2 juta kasus terjadi pada laki-laki, sementara perempuan mencatat 2,4 juta kasus.
Pola tersebut banyak berkaitan dengan paparan terhadap trauma, seperti kecelakaan lalu lintas, olahraga kontak, risiko pekerjaan, dan aktivitas lain dengan potensi cedera lebih tinggi.
Pola fraktur juga berkaitan dengan usia. Laki-laki cenderung memiliki angka fraktur lebih tinggi sejak masa remaja hingga usia dewasa karena paparan terhadap aktivitas berdampak tinggi yang lebih besar.
Tapi Patah Tulang Pinggul Berbeda
Di tengah dominasi laki-laki tersebut, ada satu pengecualian yang cukup mencolok: pinggul.
Perempuan mengalami sekitar 8,1 juta kasus patah tulang pinggul pada 2019. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 6,1 juta kasus.
Pinggul menjadi satu-satunya kategori dalam daftar tersebut yang menunjukkan perbedaan jelas dengan pola umum, ketika jumlah kasus pada perempuan melampaui laki-laki.
Perubahannya semakin terlihat seiring bertambahnya usia.
Risiko Perempuan Meningkat Setelah 65 Tahun
Setelah menopause, penurunan kadar estrogen mempercepat kehilangan massa tulang pada perempuan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang akibat kerapuhan tulang.
Perempuan mulai melampaui laki-laki dalam angka fraktur setelah sekitar usia 65 tahun. Kesenjangan tersebut kemudian semakin lebar pada kelompok usia yang lebih tua.
Ini membuat pola patah tulang berubah sepanjang siklus hidup. Laki-laki lebih banyak mengalami fraktur pada usia yang lebih muda, sementara risiko pada perempuan meningkat tajam ketika memasuki usia lanjut.
Di sisi lain, meski perempuan lebih rentan terhadap osteoporosis, dampak patah tulang juga dapat menjadi persoalan serius bagi laki-laki lanjut usia.
Penelitian yang dirujuk dalam laporan tersebut menunjukkan laki-laki cenderung lebih jarang menjalani pemeriksaan osteoporosis dan dapat mengalami risiko kematian lebih tinggi setelah patah tulang pinggul. Salah satu penyebabnya adalah diagnosis dan penanganan yang cenderung lebih terlambat.
Populasi Menua, Risiko Fraktur Ikut Berubah
Secara global, angka fraktur yang telah disesuaikan berdasarkan usia memang sedikit menurun sejak 1990. Namun, pertumbuhan jumlah penduduk dan semakin banyaknya populasi lanjut usia membuat total kasus patah tulang justru meningkat secara signifikan.
Artinya, persoalan patah tulang tidak semata-mata soal seberapa kuat tulang seseorang.
Massa tulang, kekuatan otot, keseimbangan tubuh, nutrisi, hingga risiko jatuh ikut menentukan kemungkinan seseorang mengalami fraktur, terutama ketika memasuki usia lanjut.
Karena itu, semakin panjang usia harapan hidup, pencegahan patah tulang ikut menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang semakin penting.
(mae/mae)