MARKET DATA

Lamine Yamal Bernilai Rp8,9 T, Kenapa Pemain Bola Muda Mahal?

ras,  CNBC Indonesia
08 August 2026 22:00
Lamine Yamal bereaksi setelah dinyatakan berada dalam posisi offside pada laga semifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Prancis di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (14/7/2026). (REUTERS/Hannah Mckay)
Foto: Lamine Yamal bereaksi setelah dinyatakan berada dalam posisi offside pada laga semifinal Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol dan Prancis di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, Selasa (14/7/2026). (REUTERS/Hannah McKay)

Jakarta, CNBC Indonesia — Lamine Yamal, pemain berusia 19 tahun, memiliki nilai pasar pesepak bola tertinggi di dunia menurut laporan International Centre of Sport Study pada awal Januari 2026. Nilai pasar juara dunia tersebut ditaksir €343juta atau Rp8,93 triliun (kurs US$20.575/1 euro).

Setelah Lamine Yamal ada Erling Haaland (26 tahun) dan Kylian Mbappe (27 tahun) dengan nilai pasar ditaksir mencapai Rp5,25 triliun dan Rp4,14 triliun. Menariknya, rata-rata usia 10 pesepakbola dunia dengan nilai tertinggi adalah 22 tahun 6 bulan atau terbilang masih muda.

Tren di atas bahwa nilai pemain sepak bola sangat tinggi, bahkan saat belum mencapai usai matang sekitar 25-29 tahun. Mengapa fenomena ini terjadi?

Kenapa Pemain Muda Bernilai mahal?

Pertama, kita harus memahami kenapa harga pemain bola bisa sangat tinggi saat ini, bahkan jika dibandingkan nilai pesepakbola legenda seperti Lionel Messi, Christiano Rionaldo, hingga Neymar saat di usia puncak karirnya.

Bank of England mengatakan bahwa adanya tarik menarik antara permintaan dan penawaran menjadi penyebab utama harga pemain sepak bola.

Dalam konteks ini, penawaran adalah jumlah pemain yang cukup berbakat untuk bermain di liga-liga papan atas seperti Premier League, sedangkan permintaan adalah jumlah tim yang ingin merekrut para pemain tersebut.

Bank of England melihat bahwa variabel soal nilai dan gaji pemain sepak bola bisa mahal tidak hanya ditentukan dari kemampuan di lapangan hijau atau statistik pemain tersebut di atas kertas, tapi lebih kompleks. Misalnya saja adanya variable hak siar yang mendorong pendapatan klub serta kemampuan membeli pemain.

"Para pemain menerima bayaran yang semakin tinggi karena klub-klub menghasilkan lebih banyak uang dibandingkan sebelumnya. Akibat globalisasi dan kemajuan teknologi-seperti pasar televisi berbayar-sepak bola menjadi semakin populer dan, dengan demikian, semakin menguntungkan," tulis Bank of England (2019) dikutip pada Minggu (8/8/2026).

Menurut catatan bank of England, hak siar untuk musim-musim awal Liga Premier pada periode 1992-1997 terjual dengan nilai kurang dari 200 juta poundsterling. Sebagai perbandingan, nilai hak siar televisi untuk periode 2016-2019 mencapai lebih dari 5 miliar poundsterling.

Sementara itu, Adam Metelski (2019) dalam penelitiannya bertajuk "Faktor-Faktor yang Memengaruhi Nilai Pemain Sepak Bola Di Bursa Transfer" menemukan faktor klub berani menilai lebih pesepak bola yang lebih 'bisa diatur'.

Sehingga dalam penelitiannya di klub sepak bola Polandia Ekstraklasa, nilai pemain berusia di bawah 21 tahun memiliki nilai lebih besar, meskipun bagi klub menengah yang ditelitinya transfer lebih sering terjadi di usia 21-24 tahun.

"Biaya transfer tertinggi tercatat pada kelompok pemain berusia 21 tahun ke bawah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa klub-klub luar negeri (terutama dari Italia, Inggris, dan Jerman) lebih meminati pemain muda dari Ekstraklasa. Kecenderungan ini dapat dipahami mengingat pemain muda mungkin lebih mudah dilatih dan disesuaikan dengan sistem permainan klub tertentu," ungkap Adam.

Dengan demikian, pengaruh kemampuan ditambah nilai komersil serta kemampuan klub dalam pendanaan sembari menjaga nilai sebuah klub menjadi faktor gravitasi permintaan yang menciptakan nilai pemain muda lebih tinggi.

(ras/ras)



Most Popular