MARKET DATA

Dolar AS Hancur di Asia: Rupiah, Won, Yen - Ringgit Kompak Menguat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 August 2026 10:05
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia membuka perdagangan Kamis (6/8/2026) dengan kompak berada di zona hijau. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) memberi ruang bagi seluruh mata uang kawasan untuk menguat, termasuk rupiah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari pantauan terhadap 10 mata uang Asia, seluruhnya kompak menguat terhadap dolar AS.

Penguatan paling tajam pagi ini dicatatkan won Korea Selatan yang melonjak 0,34% ke posisi KRW 1.416,35/US$. Dolar Taiwan menyusul dengan kenaikan 0,20% ke TWD 32,199/US$.

Baht Thailand juga bergerak solid dengan penguatan 0,15% ke posisi THB 33,06/US$, sedangkan ringgit Malaysia naik 0,12% ke MYR 4,085/US$. 

Rupiah turut perkasa dalam melawan dolar AS. Mata uang Garuda terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.905/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000/US$.

Yen Jepang menguat 0,08% yang diikut oleh yuan China menguat tipis 0,04% ke CNY6,472/US$. Peso Filipina dan dolar Singapura juga masing-masing terapresiasi 0,03%. Adapun, dong Vietnam menjadi mata uang paling kecil penguatannya terhadap greenback, dengan menguat tipis 0,02%.

Penguatan mata uang Asia pagi ini sejalan dengan dolar AS yang masih tertahan di zona merah. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini terpantau turun tipis 0,02% ke posisi 99,657, yang artinya DXY masih berada di dekat level terendahnya dalam enam pekan.

DXY kesulitan mencari arah karena pelaku pasar masih berhati-hati mencermati perkembangan kesepakatan AS-Iran serta menunggu data tenaga kerja AS pada akhir pekan.

Tekanan terhadap dolar AS juga datang dari penurunan harga minyak dunia. Harga Brent turun 0,5% ke US$79,08 per barel pada penutupan Kamis (5/8/2026), setelah kekhawatiran gangguan pasokan energi mulai mereda.

Namun demikian, pasar masih mencermati rencana kesepakatan antara Iran dan Oman yang disebut dapat membantu mengakhiri konflik AS-Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah dekat, meski pejabat AS menegaskan tidak akan menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan energi paling penting dunia tersebut.

Ray Attrill, head of FX strategy National Australia Bank, menilai pasar masih memilih menunggu kejelasan.

"Pasar saat ini benar-benar berada dalam mode wait and see," ujar Attrill dalam sebuah podcast, dikutip dari Reuters.

Dia juga menilai volatilitas harga minyak yang sebelumnya menjadi penggerak utama pasar mulai mereda.

"Kita tidak lagi melihat volatilitas pasar minyak yang selama beberapa hari dan pekan terakhir menjadi penggerak utama sebagian besar pasar," kata Attrill.

Selain perkembangan Timur Tengah, fokus pelaku pasar juga tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Jumat. Data tenaga kerja tersebut akan memberi petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Federal Reserve/The Fed.

Melansir dari Survei Reuters terhadap ekonom memperkirakan nonfarm payrolls AS bertambah 80.000 pekerjaan pada Juli, setelah naik 57.000 pada Juni. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,2%.

Namun, sikap The Fed masih belum sepenuhnya longgar. Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan terbuka terhadap kemungkinan bank sentral perlu menaikkan suku bunga jangka pendek untuk menghadapi inflasi yang masih terlalu tinggi di ekonomi AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular