MARKET DATA

Konsumsi Masih Tumbuh 5%, Ekonomi RI Kuat atau Diselamatkan Stimulus?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 August 2026 10:30
Midnight Sale Jakarta
Foto: Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran mengenai penurunan tajam konsumsi masyarakat setelah berakhirnya Ramadan dan Idulfitri belum terlihat dalam data kuartal II-2026. Konsumsi rumah tangga memang melambat, tetapi tetap tumbuh kuat di atas 5%. Namun, bukan berarti laju konsumsi ke depan tanpa ancaman.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026 sebesar 5,61%, tetapi melampaui konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan 5,12%.

konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama perekonomian. Komponen ini memberikan sumber pertumbuhan sebesar 2,67% dengan distribusi mencapai 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026.

"Pada triwulan II ini, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yakni sebesar 2,67%," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud.

RIlis BPS Kamis (5/8/2026). (Tangkapan Layar Youtube/BPS Statistics)RIlis BPS Kamis (5/8/2026). (Tangkapan Layar Youtube/BPS Statistics) Foto: RIlis BPS Kamis (5/8/2026). (Tangkapan Layar Youtube/BPS Statistics)

Dari sisi pertumbuhan, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,06% (yoy). Angkanya melandai dari 5,52% pada kuartal I-2026, ketika konsumsi masyarakat mendapat dorongan besar dari Ramadan dan Idulfitri.

Namun, perlambatannya relatif terbatas, yakni 0,46 poin persentase. Konsumsi masyarakat tetap mampu tumbuh di tengah berakhirnya momentum hari raya serta kekhawatiran terhadap kenaikan pada harga energi akibat perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 bahkan menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2023. Ketika itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,25% (yoy).

Belanja Perumahan dan Perlengkapan Rumah Tangga Menguat

Ketahanan konsumsi terlihat dari pengeluaran untuk perumahan dan perlengkapan rumah tangga. Komponen ini tumbuh 5,10% pada kuartal II-2026, meningkat dari 4,65% pada kuartal sebelumnya.

Komponen tersebut mencakup berbagai kebutuhan rutin yang berkaitan dengan operasional tempat tinggal, utilitas, serta perlengkapan rumah tangga.

Gambaran serupa terlihat dalam Mandiri Spending Index (MSI) Juni 2026. Proporsi nilai belanja untuk kebutuhan rumah tangga konsisten berada di level 9,5% selama April-Juni 2026, meningkat dari 8,8% pada Maret 2026.

Konsistensi tersebut menunjukkan masyarakat tetap mengalokasikan porsi belanja yang stabil untuk kebutuhan rumah tangga sepanjang kuartal II-2026, meskipun momentum konsumsi Ramadan dan Idulfitri telah berakhir.

Porsi Pengeluaran MasyarakatPorsi Pengeluaran Masyarakat Foto: Mandiri Institute

Ketahanan konsumsi juga terlihat pada kelompok kebutuhan lainnya. Belanja makanan dan minuman selain restoran masih tumbuh 4,25%. Pertumbuhannya sedikit melandai dari 4,54% pada kuartal I-2026, tetapi tetap berada di atas 4%.

Pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan bahkan mengalami percepatan, dari 4,82% pada kuartal I-2026 menjadi 5,27% pada kuartal II-2026.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya melambat dari 5,99% menjadi 3,52%. Kondisi tersebut terbilang wajar karena belanja pakaian biasanya meningkat menjelang Idulfitri, kemudian kembali normal setelah periode tersebut berakhir.

Meski melambat, konsumsi pakaian dan alas kaki tidak mengalami kontraksi karena masih tumbuh 3,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perlambatan lebih banyak terjadi pada kelompok pengeluaran yang bersifat musiman, sedangkan kebutuhan rutin rumah tangga tetap tumbuh kuat.

Konsumsi Terjaga, Industri Pengolahan Nonmigas Menguat

Terjaganya konsumsi masyarakat tidak hanya terlihat dari sisi pengeluaran, tetapi juga berjalan searah dengan kinerja lapangan usaha. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada kuartal II-2026, meningkat dari 5,14% pada kuartal sebelumnya.

Industri makanan dan minuman juga masih mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 6,51%. Laju pertumbuhannya sedikit melandai dari 7,04% pada kuartal I-2026, tetapi tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan.

Kinerja tersebut sejalan dengan konsumsi makanan dan minuman selain restoran yang masih tumbuh di atas 4%. Data dari sisi pengeluaran maupun produksi menunjukkan permintaan terhadap barang kebutuhan sehari-hari tetap terjaga setelah momentum Ramadan dan Idulfitri berakhir.

Secara keseluruhan, konsumsi masyarakat mengalami normalisasi setelah Lebaran, tetapi tidak turun drastis seperti yang sebelumnya dikhawatirkan. Perlambatan terutama terjadi pada belanja yang bersifat musiman, sementara pengeluaran untuk kebutuhan rutin tetap tumbuh kuat.

Kinerja industri pengolahan nonmigas yang menguat dan industri makanan-minuman yang tetap tumbuh tinggi turut memperkuat gambaran bahwa permintaan domestik masih cukup terjaga pada kuartal II-2026.

Terjaganya konsumsi memberikan lingkungan usaha yang positif bagi perusahaan di sektor barang konsumsi dan pangan. Permintaan kebutuhan sehari-hari yang tetap tumbuh membuka ruang bagi perusahaan untuk menjaga volume penjualan setelah berakhirnya momentum Lebaran.

Sejumlah perusahaan besar seperti Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), Unilever Indonesia Tbk (UNVR), Mayora Indah Tbk (MYOR), serta Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) berpotensi mendapat dukungan dari permintaan domestik yang masih terjaga.

Stimulus Pemerintah Jadi Penopang Konsumsi, FMCG Ikut Kecipratan

Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, di balik pertumbuhan tersebut mulai terlihat ketergantungan yang semakin besar terhadap stimulus pemerintah.

Pada kuartal II-2026, konsumsi pemerintah melonjak 15,97% secara tahunan (yoy). Kenaikan tersebut didorong oleh pembayaran gaji ke-13 ASN/TNI/Polri, tunjangan tenaga pendidik non-PNS, belanja barang dan jasa, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Stimulus tersebut kemudian mengalir ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari makanan dan minuman, jasa, transportasi hingga perdagangan.

Salah satu sektor yang mencatat lonjakan signifikan adalah industri pengolahan susu. Permintaan susu meningkat pada kuartal II-2026, mendorong industri pengolahan susu segar tumbuh 17,3% secara kuartalan dan 29,89% secara tahunan.

Kinerja tersebut ikut menopang industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,51% yoy, didukung kuatnya permintaan domestik dan ekspor untuk sejumlah produk, termasuk ikan olahan, daging ayam, susu, serta produk olahan susu.

Memasuki kuartal III-2026, pemerintah kembali mengandalkan berbagai stimulus untuk menjaga konsumsi, kredit, dan investasi setelah ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026.

Sejumlah stimulus diperpanjang, mulai dari bantuan beras 10 kilogram untuk 33,24 juta keluarga, diskon transportasi Natal dan Tahun Baru, PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) tiket pesawat, hingga insentif PPh DTP bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp10 juta.

Pemerintah juga menunda pemungutan pajak pedagang online hingga November sebagai tambahan bantalan bagi daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah mengucurkan Rp22,5 triliun kepada 497 daerah untuk menjaga belanja pegawai sekaligus mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Langkah ini menjadi penting karena belanja pemerintah daerah merupakan salah satu penggerak ekonomi di berbagai wilayah.

Jika seluruh stimulus berjalan efektif, konsumsi rumah tangga masih berpeluang tumbuh di atas 5% pada kuartal III-2026. Kondisi tersebut tentu menjadi angin segar bagi industri FMCG yang sangat bergantung pada konsumsi harian masyarakat.

Risiko Industri FMCG ke Depan

Ruang pertumbuhan FMCG tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Permintaan global yang belum pulih, pelemahan harga komoditas, serta kenaikan BI Rate hingga 100 basis poin sepanjang 2026 berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.

Data BCA Consumer Transaction Index juga menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi. Pertumbuhan belanja konsumen belakangan lebih banyak didorong oleh kenaikan nilai transaksi rata-rata, bukan peningkatan volume barang yang dibeli.

Artinya, masyarakat masih berbelanja, tetapi belum tentu membeli lebih banyak barang. Kondisi ini memang dapat menopang pertumbuhan PDB nominal dan penerimaan pajak, sekaligus meningkatkan kebutuhan kredit perbankan. Namun, ada batasnya.

Jika harga barang terus meningkat, terutama akibat tingginya harga minyak, rumah tangga pada akhirnya dapat mulai mengurangi volume konsumsi.

Di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas, kemampuan pemerintah untuk terus memberikan stimulus juga tidak bisa berlangsung tanpa batas.

Bagi industri FMCG, tantangan kuartal III bukan sekadar menjaga penjualan, tetapi memastikan daya beli masyarakat tetap cukup kuat untuk mempertahankan volume konsumsi.

Unilever, Cerminan Masih Kuatnya Konsumsi Rumah Tangga RI


Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada semester I-2026 menunjukkan pemulihan. Penjualan bisnis berkelanjutan mencapai Rp16,9 triliun, tumbuh 7,1% secara tahunan, sementara penjualan kuartal II-2026 naik 11,6% menjadi Rp8,5 triliun.

Pertumbuhan terutama ditopang kenaikan volume sebesar 7,3%, sedangkan kontribusi harga turun tipis 0,2%, menandakan peningkatan penjualan lebih banyak berasal dari jumlah produk yang terjual.

Penjualan UnileverPenjualan Unilever Foto: Unileber Indonesia


Dari sisi profitabilitas, laba bersih bisnis berkelanjutan naik 10,2% menjadi Rp2,1 triliun. Namun, gross margin turun 168 basis poin menjadi 46,6% akibat inflasi bahan baku serta transformasi supply chain.

Di luar biaya transformasi, margin laba sebelum pajak mencapai 16,7%, naik 45 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih total termasuk keuntungan pelepasan bisnis Sariwangi mencapai sekitar Rp3 triliun.

Laba UnileverLaba Unilever Foto: Unilever Indonesia

Dari sisi produk, segmen Home and Personal Care tumbuh paling tinggi sebesar 8,2%, terutama ditopang produk perawatan tubuh dan kulit.

Vaseline menjadi merek yang paling banyak disorot melalui inovasi produk premium, kolaborasi pemasaran, dan ekspansi e-commerce. Sementara itu, segmen Foods and Refreshment tumbuh 4,3%, dengan Bango dan Royco sebagai merek utama di kategori bumbu dan kebutuhan memasak. Meski demikian, laporan tidak memerinci kontribusi penjualan setiap merek.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular