Harga Batu Bara Bangkit, Kapal Pengangkut Rusia Berguguran
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tetap melaju meski harga minyak jatuh.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (3/8//2026) ditutup di posisi US$ 134,25 per ton atau menguat 0,19%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 1,1% pada dua hari sebelumnya.
Pasar batu bara termal Asia memasuki Agustus dengan kondisi yang lebih kuat dibandingkan Juli 2026.
Namun, pemulihan harga masih belum merata di berbagai wilayah dan jenis batu bara karena permintaan impor tetap lesu.
China menjadi penopang utama pasar regional. Harga batu bara domestik Negeri Tirai Bambu terus menguat hingga akhir Juli.
Kenaikan didorong oleh meningkatnya konsumsi pembangkit listrik, berkurangnya stok di pelabuhan utara, serta pasokan tambang yang lebih ketat akibat inspeksi keselamatan.
Meski demikian, kenaikan harga domestik China belum diikuti lonjakan impor. Curah hujan tinggi, badai topan, dan meningkatnya produksi listrik tenaga air menekan kebutuhan impor batu bara. Utilitas juga masih mengandalkan stok yang telah dikumpulkan selama musim panas.
Harga Batu Bara RI Terbelah
Di Australia, harga batu bara premium Newcastle 6.000 NAR bertahan di sekitar US$132 per ton FOB setelah pulih sepanjang Juli.
Namun, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda konsolidasi karena pembeli masih berhati-hati dan menilai kenaikan harga sulit berlanjut tanpa dukungan permintaan yang lebih kuat.
Sementara itu, batu bara Indonesia kalori rendah tetap stabil. Batu bara 4.200 GAR diperdagangkan di kisaran US$63-63,5 per ton FOB. Namun, batu bara dengan kandungan sulfur rendah, asal Sumatra, dan pengiriman September berhasil memperoleh harga premium hingga US$66,2 per ton.
Kondisi ini menunjukkan pasar batu bara Indonesia mulai tersegmentasi.
Batu bara berkualitas tinggi mendapat harga lebih baik, sementara produk standar masih tertahan di kisaran US$60 per ton. Ketidakpastian kuota produksi, kewajiban pasokan domestik (DMO), dan kendala logistik juga membantu menopang harga.
Di India, permintaan impor tetap lemah karena pasokan batu bara domestik melimpah.
Stok batu bara pembangkit listrik masih berada di level nyaman, sementara musim hujan menekan konsumsi energi industri. Akibatnya, India belum menjadi sumber permintaan tambahan yang mampu mengangkat harga batu bara internasional.
Secara keseluruhan, pasar batu bara Asia mulai keluar dari fase koreksi tajam yang terjadi pada awal Juli. Namun, penguatan harga saat ini lebih banyak ditopang oleh disiplin pasokan dibandingkan pemulihan permintaan.
China menjadi penyangga stabilitas harga regional, sementara Australia dan Indonesia masih menghadapi tantangan dari lemahnya permintaan impor.
Produksi batu bara dari tambang captive dan komersial India naik 9,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 14,78 juta ton (MT) pada Juli 2026, dari 13,48 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini memperkuat pasokan domestik, mengurangi ketergantungan impor, dan mendukung ketahanan energi India.
Pengiriman batu bara dari tambang-tambang tersebut bahkan melampaui produksi bulanan, mencapai 17,49 juta ton. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan efisiensi operasional, produktivitas penambangan yang lebih tinggi, serta pemanfaatan kapasitas yang lebih optimal.
Secara kumulatif, produksi batu bara selama April-Juli tahun fiskal 2027 (FY27) mencapai 63,16 juta ton, naik 6,29% dibandingkan periode yang sama FY26 sebesar 59,42 juta ton. Angka ini juga 17,57% lebih tinggi dibandingkan 53,72 juta ton pada periode yang sama FY25.
Sementara itu, pengiriman batu bara selama April-Juli FY27 mencapai 70,14 juta ton, meningkat dari 66,02 juta ton pada FY26 dan 45,97 juta ton pada FY25. Secara tahunan, pengiriman naik 6,24% dan melonjak 52,57% dibandingkan FY25.
Pemerintah India menilai peningkatan produksi domestik akan membantu menekan impor batu bara, menghemat devisa, serta memperkuat ketahanan rantai pasok energi. Batu bara masih menjadi bahan baku utama pembangkit listrik dan berbagai industri padat energi di negara tersebut.
Kementerian Batu Bara India menyatakan akan terus mendorong pertumbuhan sektor ini melalui berbagai kebijakan, pengawasan regulasi, dan dukungan kepada pelaku industri guna meningkatkan ketersediaan pasokan.
Pemerintah juga berharap kenaikan produksi dari tambang captive dan komersial dapat mempercepat target Atmanirbhar Bharat (India Mandiri) dengan memperkuat swasembada batu bara dan menjamin pasokan energi bagi pertumbuhan ekonomi India.
Serangan Ukraina Ganggu Ekspor Batu Bara Rusia, Kapal Angkut Menyusut Tajam
Serangan Ukraina di kawasan Laut Hitam (Black Sea) menyebabkan jumlah kapal yang tersedia untuk mengekspor batu bara Rusia menyusut tajam.
Laporan The Moscow Times mengatakan kondisi ini mengganggu pengiriman dan memperketat kapasitas angkutan laut, menurut
Hingga 26 Juli, jumlah kapal pengangkut batu bara turun 21% dibandingkan sebulan sebelumnya dan anjlok 28% dibandingkan tahun lalu, sehingga hanya tersisa 97 kapal curah (bulk carrier) yang masih beroperasi mengangkut kargo.
"Perusahaan asuransi sebelumnya telah menghentikan perlindungan bagi kapal yang memasuki wilayah Laut Azov dan Laut Hitam. Akibatnya, kapal curah berukuran menengah dan besar berpotensi beralih ke rute lain, sementara kapal yang lebih kecil dan tidak dapat beroperasi di rute alternatif terpaksa menghentikan operasinya hingga situasi stabil," tulis laporan tersebut.
Dalam kondisi tersebut, eksportir Rusia dilaporkan tidak berhasil menutup satu pun kontrak ekspor batu bara melalui Laut Hitam dalam sepekan terakhir.
Di saat yang sama, kapasitas pengiriman kargo energi di Laut Jepang juga menurun. Ditambah meningkatnya permintaan batu bara Rusia dari Korea Selatan, tarif angkut kapal Panamax (kapasitas 80.000 ton) dari Pelabuhan Vostochny naik 5%-10% dalam sepekan terakhir, tergantung tujuan pengiriman.
Direktur Muda Pemeringkatan Korporasi Expert RA, Oleg Yemelchenkov, mengatakan kelangkaan kapal kemungkinan tidak akan memicu krisis pasokan batu bara di Asia. Namun, kondisi ini dapat mengganggu keekonomian ekspor batu bara Rusia dan menyebabkan keterlambatan pengiriman di sejumlah wilayah.
Penasihat dana investasi Industrial Code, Maksim Shaposhnikov, memperkirakan berkurangnya ketersediaan kapal dapat menaikkan harga batu bara Rusia bagi pembeli hingga US$10-US$15 per ton.
"Lonjakan biaya pengiriman akan menggerus profitabilitas eksportir Rusia dan berpotensi menekan volume ekspor batu bara," ujarnya.
Menurut data Kpler, ekspor batu bara Rusia melalui jalur laut mencapai 11,45 juta ton pada Juli 2026, naik 11,2% dibandingkan Juli 2025 dan meningkat 7,9% dibandingkan Juni 2026.
Sebelumnya, Moskow telah memperingatkan bahwa pelayaran di wilayah Laut Hitam menjadi semakin berbahaya setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Rusia.
Berdasarkan data Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, sedikitnya 124 kapal terkait Rusia, termasuk 89 kapal tanker, menjadi sasaran serangan di Laut Hitam dan Laut Azov pada periode 8-20 Juli.
(mae/mae)